
"Ibu tapi Bima juga ingin makan ayam bakar itu". 9 kalimat yang selalu menjadi penyesalannya seumur hidupnya itu, entah kenapa ia berucap seperti itu. Andai ia mengikuti penuturan ibunya saat itu pasti sekarang ia sedang bahagia bersama keluarganya. Andai mulutnya tak berucap kalimat tersebut mungkin... Hiks hiks hiks. Tangis pecah Bima jika mengingatnya lagi.
"Ibu, Ayah, Lala. Maafkan aku maafkan aku yang terlalu bodoh dan terlalu egois". Kata Bima frustasi
Dahulu dirinya sangat rapuh melihat ayah dan ibunya meninggalkan dirinya dan Lala yang sedang koma saat itu. Untung saja ada keluarga Azka yang selalu mendukungku. Hingga Bu Sita dengan senang hati ingin merawat Bima dan Lala yang notabennya kita hanyalah anak dari asisten suaminya saja.
"Ayo Bima tunjukan semangat kamu nak, tunjukan kepada Lala bahwa disini kamu selalu memberikan dukungan kepada Lala agar Lala cepat sembuh". Kata lembut Bu Sita kepadanya.
Dilihatnya sang adik yang terbujur kaku diatas banker rumah sakit dengan berbagai macam alat medis yang tertancap ditubuhnya. Sungguh membuatnya malu jika ia rapuh, sedangkan sang adik yang masih berusia 4 tahun masih berjuang melawan rasa sakitnya sekarang.
"Bunda, Bima mau temenin Lala disini boleh". Tanya Bima kepada Bu Sita
"Bima sayang, bukannya bunda tidak mengizinkan kamu, kamu juga butuh istirahat yang cukup agar tidak sakit, nanti kalau kamu yang sakit Lala jadi sedih". Penuturan Bu Sita
"Kak Bima ayo pulang sama Azka, nanti kita doanin Lala dari rumah bareng-bareng". Kata Azka
Bima pun memandangi wajah Bu Sita dan Azka secara bergantian betapa beruntungnya ia berada dikeluarga hangat ini. Ia tersenyum mengangguk mempertandakan bahwa dirinya setuju untuk pulang.
"Sebentar ya bunda Bima mau pamit pulang dulu sama Lala". Kata Bima beranjak dari kursi
"Kak Azka ikut". Kata Azka mengekori sang kakak angkatnya.
Sekarang mereka berdua sudah berada tepat didepan Lala yang masih terbujur kaku dengan kaki yang terbalut perban.
"Kakak pulang dulu ya Lala, kamu harus janji ya untuk baik-baik saja, kakak tunggu kabar baik darimu". Dikecupnya kening sang adik dengan lembut.
"Lala, Azka pulang dulu ya sama kak Bima cepat sembuh, Azka kangen main sama kamu lagi, Azka tunggu ya". Sambung Azka.
3 bulan berlalu, namun keadaan sang adik tetap tidak ada kemajuan. 3 bulan juga dia tinggal bersama keluarga Azka, setidaknya ia tak sesedih kemarin ketika ayah dan ibunya baru saja tiada. Karena berkat Bu Sita dan Pak Budi yang berperan sebagai orang tua Bima sungguhan ditambah Azka yang selalu menemaninya kemana saja.
Pagi itu mereka sedang bersarapan bersama.
"Mau bunda ambilkan?". Tanya Bu Sita
"Gak usah bunda, nanti biar Bima ambil sendiri". Kata Bima
"Bunda, Azka mau disuapin kakak boleh?". Tanya manja Azka kecil pada saat itu
"Sayang, kakak kan lagi makan kamu makan sendiri ya atau mau disuapin bunda sini". Kata lembut Bu Sita
"Gak mau, Azka maunya disuapin kakak". Merajuk Azka
"Sini biar Kak Bima suapin". Kata Bima lembut kepada Azka.
Bu Sita dan Pak Budi pun tersenyum melihat pemandangan yang menyejukkan hati mereka, kedua anak laki-lakinya terlihat saling menyayangi.
Ditengah-tengah harmonisnya keluarga tersebut sedang menikmati sarapannya. Tiba-tiba handphone Pak Budi berbunyi.
*****************
•`**Jangan lupa selalu support Othor ya guys dengan cara:
👍🏼 Like
📝 Coment
❤️ Vote
Sebanyak-banyaknya. Terimakasih ✨
BERSAMBUNG**....