
Ketika Pak Arya dan Azka sedang asyik-asyiknya bercerita tentang Arin diwaktu kecil, mereka dikejutkan dengan kedatangan Pak Budi dengan Bima yang hadir disitu. Mereka datang bertujuan untuk membicarakan tentang perusahaan, dan tidak disangka ternyata anaknya sedang berada dirumah mertuanya ini. Dan itu juga menjadi kesempatan bagi Pak Budi untuk menyampaikan maksud kepada pengantin baru tersebut.
"Wah kebetulan kamu udah disini Az". Kata Pak Budi mengawali
"Iya yah, nganter Arin katanya mau beres-beres sama barang keperluannya. Ada apa ya yah". Tanya Azka
Pak Budi pun langsung mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Dan membuat Azka bingung keheranan.
"Ini ada tiket bulan madu kamu sama Arin ke Lombok, maaf Ayah belum bisa memberikan tiket bulan madu ke luar negeri buat kamu dan Arin, karena Ayah masih sangat butuh kamu dikantor". Kata Pak Budi menyampaikan maksudnya
"Tapi yah, nanti pekerjaan Azka gimana". Kata Azka yang sebenarnya hanya beralibi saja, karena toh buat apa bulan madu kalau tidak bisa berbuat apa-apa
"Untuk 4 hari gak apa-apa pekerjaan kamu bisa diserahkan kepada Bima dulu". Kata Pak Budi
"Emang Bimanya mau yah? kan kasihan juga harus menghandle 2 pekerjaan sekaligus". Kata Azka beralibi lagi
"Kamu tenang saja Az, nanti Ayah yang akan turun membantu Bima. Nikmati saja dulu masa jadi pengantin barunya". Sekarang giliran Pak Arya berbicara
"Slow Az, udah biasa gue sibuk". Kata Bima jujur toh dia sudah bekerja jauh sebelum Azka lulus dari kuliahnya.
"Tapi...". Kata Azka berhenti karena sudah disambar oleh Arin
"Terimakasih yah. Arin sama Azka mau kok". Kata Arin sambil membawa minuman untuk para orang tersebut.
"Nah itu, istri kamu juga setuju Az". Kata Pak Budi semang mendengar jawaban sang menantu
"Udah mendingan kalian nanti siap-siap ya, besok pagi kaliam berangkat ke bandara setengah 7 pagi". Kata Pak Budi mengintruksi kepada anak dan menantunya
"Emm. Baik yah, berarti hari ini Azka sama Arin disini dulu ya". Kata Azka pasrah
••••••••••••••••••••
Di kamar
Setelah berbincang-bincang dengan ayah dan mertuanya, kini Azka dan Arin sudah berada dikamarnya untuk mempacking baju mereka. Dipandanginya sang istri yang masih menata bajunya dan baju dirinya kedalam koper.
"Rin". Kata Azka memecah keheningan
"Kamu yakin menerima tawaran Ayah untuk bulan madu". Tanya Azka jujur
"Iya". Jawab Arin, mungkin ini akan menjadi kesempatan bagi Arin untuk menjalankan kewajiban sebagai seorang istri
Azka pun hanya terdiam, bingung harus bicara apa lagi terhadap istrinya.
"Kenapa?". Tanya Arin heran
"Gak apa-apa". Jawab Azka
"Gak enak kalau harus menolak tawaran ayah, kan tiketnya juga udah kebeli". Kata Arin beralasan lain
"Oh". Jawab Azka yang tiba-tiba hatinya sedih, karena awalnya Azka beranggapan bahwa Arin menerima tawaran tersebut adalah ia sudah bisa menerima kehadiran Azka sebagai suaminya. Tapi ternyata argumen Azka itu salah, Arin hanya merasa tidak enak hati kepada ayahnya jika menolak tawaran itu.
"Sekalian jalan-jalan Az, dan juga biar kita mengenal lebih dalam lagi". Kata Arin yang tau sebenarnya Azka memendam sesuatu dihatinya.
"Iya". Kata Azka datar
"Senyum dong, kan mau jalan-jalan sama istri lagi". Kata Arin sambil mencubit kedua pipi Azka agar tersenyum.
"Iya iya". Kata Azka tersenyum sambil mengacak-acak rambut Arin.
*****************
•`Jangan lupa selalu support Othor ya guys dengan cara:
👍🏼 Like
📝 Coment
❤️ Vote
Sebanyak-banyaknya. Terimakasih ✨
BERSAMBUNG.....