LOVE STORY OF AZKA AND ARIN

LOVE STORY OF AZKA AND ARIN
Pra Resepsi [2]



"Ah bodo, kalau gini terus gue gak mandi-mandi entar yang ada". Kata Arin yang langsung keluar.


Dilihatnya sang suami yang masih belum mengenakan bajunya karena masih menerima telefon dari seseorang.


"Emm Azka? sibuk gak". Tanya Arin yang malu


"Loh kok belum mandi rin? kenapa". Tanya heran Azka


"Mau minta tolong, sibuk gak?". Tanya Arin


"Gak kok ini tadi Dimas Telefon, mau dibantu apa". Kata Azka


"Emm. Gini anu bisa bantuin buka kebayanya gak". Kata Arin gugup setengah mati


"Ha?". Tanya kaget Azka


"Ih maksudnya bantu bukain resletingnya, aku gak kesampaian nih". Kata Arin yang langsung mempraktikkan didepan Azka


Azka pun langsung mendekat kepada Arin, dirinya hanya masih menggunakan handuk yang diikat dipinggangya saja. Arin pun langsung membalikkan badannya agar bisa dijangkau oleh Azka.


Diturunkan resleting tersebut secara perlahan hingga terpampang nyata punggung Arin yang putih dan mulus itu, sehingga membuat hasrat Azka tiba-tiba saja muncul.


"Udah belum?". Tanya Arin karena Azka tidak melakukan pergerakan.


"Rin". Suara parau Azka yang kini nafasnya sudah menjalar dikulit belakang tubuh Arin.


"Emm?". Kata Arin yang mulai merinding


"Boleh aku peluk?". Izin Azka yang sebenarnya sudah tidak kuat menahan hasratnya.


Deg. Desiran aneh kini menjalar keseluruhan tubuh Arin, ingin ia menolak permintaan sang suaminya itu namun ia ingat akan nasehat dari ibunya agar tidak menolak sang suami.


"Iy-iya". Jawab gugup Arin


Tanpa menunggu lama lagi Azka langsung memeluk tubuh ramping sang istri dari belakang, ditaruhnya kepalanya dibahu Arin dan tangannya melingkar dipinggangnya Arin.


"Terimakasih sudah bersedia menjadi pendamping hidupku rin". Kata Azka yang kini bibirnya mulai mencumbu bahu sang istri.


"Iy-iya sama-sama". Kata Arin yang sangat merinding sekarang.


Sentuhan Azka kini menjalar dan merambat ke bagian leher Arin, dibuatnya lagi stampel kepemilikannya, hingga membuat sang empuh mendesah kegelian.


"Emm". Suara desahan yang lolos dari mulut Arin


Azka yang mendengar suara desahan Arin pun semakin menggila, tangannya kini juga tidak bisa terkontrol merambat ke pay*dara Arin, diremasnya dengan pelan kedua gundukan tersebut, membuat sang empuh mendesah nikmat.


Arin yang sudah kalang kabut serta kedua kakinya yang sekarang menjadi lemas hanya bisa pasrah. Dirasakannya juga benjolan yang mengganjal dipunggung Arin menjadi tambah merinding dirinya kini.


Ketika keduanya sedang terbuai tiba-tiba suara pintu kamar terbuka digedor-gedor seseorang. Yang terpaksa menghentikan kegiatan yang sudah dibangun Azka dengan sudah payah.


"Emm, oke aku buka dulu". Kata Arin yang paham akan kondisi suaminya sekarang, dan Arin pun langsung pergi menuju pintu kamarnya.


"Eh Rin tunggu". Kata Azka memanggil Arin


"Ada apa?". Tanya Arin heran


Dilepaskannya kucir rambut Arin agar rambutnya tergerai untuk bisa menutupi stampel kepemilikan Azka yang berada dikanan kiri lehernya.


Arin yang paham akan situasinya kini hanya mengikuti perintah Azka saja. Arin pun langsung menuju pintu dan langsung membukanya.


Disanakah terlihat Misya dan rima yang sedang senyum-senyum tidak jelas.


"Ngapain kalian kesini". Tanya Arin


"Idih mentang-mentang udah ada suami". Kata ledek Misya


"Kakak belum mandi?". Tanya heran sang adik


"Emm. Ini mau mandi tapi dengar pintu ada yang ngetuk jadi bukain dulu". Kata Arin berbohong


"Oh. Ini kita kesini mau ngasih HP kakak yang ketinggalan dikamar kita siapa tau penting". Kata Rima langsung memberikannya


Setelah berbincang dengan sang adik juga dengan sang sahabat, Arin pun langsung masuk kedalam kamarnya lagi. Berpapasan ia dengan Azka yang baru saja keluar dari kamar mandi yang sudah berpakaian lengkap.


"Siapa". Tanya Azka


"Eh itu Rima sama Misya, mau nganterin HP aku". Jawab Arin yang sekarang tidak berani menatap wajah Azka.


"Oh, yaudah sekarang kamu mandi gih biar bisa istirahat". Kata Azka yang sebenarnya dirinya juga merasa amat gugup.


30 menit berlalu kini Arin keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar, Dilihatnya sang suami yang sudah tidur terlelap, suatu pemandangan baru yang akan Arin lihat sepanjang harinya nanti.


Direbahkannya tubuh yang lelah itu disamping Azka yang sudah dulu mengejar mimpinya.


*****************


•`Jangan lupa selalu support Othor ya guys dengan cara:


👍🏼 Like


📝 Coment


❤️ Vote


Sebanyak-banyaknya. Terimakasih ✨


BERSAMBUNG.....