
Bima Syaputra, iya itu nama lengkap seorang laki-laki dingin, irit bicara dan misterius. Mempunyai segudang rahasia dan masa lalu yang cukup seram, namun berhati lembut serta bertampang tampan.
Seorang laki-laki berusia 25 tahun yang kini hidup sendiri, apartemen dengan dua kamar yang sangat sepi hanya ditempati seorang diri. Kesepian adalah teman setianya menghabiskan waktu lelah setelah pulang bekerja.
Masuklah pria tersebut dengan dasi yang dikendorkan dan kancing lengan yang dilipat sampai siku tangan, mempertandakan bahwa dirinya sangat lelah. Dipandanginya bingkai foto yang diambil 19 tahun yang lalu ketika ia masih berusia 6 Tahun duduk dipangkuan sang ayah, sedangkan disamping kiri ada seorang ibu yang sedang memamgku sang adik yang sangat cantik berusia 4 tahun.
Mungkin jika sang adik masih ada, usianya sama dengan Azka, bahkan mereka dahulu pun selalu bermain bersama, dan Bima yang paling tua diantara mereka selalu ditugaskan oleh sang ayah untuk melerai jika keduanya berebut mainan sampai menangis.
Siapa sangka foto yang sangat romantis itu adalah foto terakhir kalinya Bima bersama keluarganya. Tragedi kecelakaan itu masih jelas diingatanya, terkadang ia sangat benci dengan dirinya sendiri mengapa hanya dia yang selamat, kenapa tidak Lala saja yang selamat, atau ibu dan ayah saja. Mengapa hanya dirinya saja yang bisa hidup sampai sekarang namun hanya berteman dengan kesepian.
Satu tarikan nafas panjang, menandakan bahwa dirinya tidak baik-baik saja sekarang. Ditatapnya wajah sang ibu yang cantik, seketika rindu itu menjalar kerelung hatinya yang paling dalam. Ingin sekali bermanja-manja dengannya. Dirawatnya ketika ia sakit, dan selalu diperhatikan dalam setiap ia bertindak. Sekarang jika ia sakit hanya dirinyalah yang menjadi penguat untuk sembuh, tidak ada yang merawat dan juga tidak ada yang mengkhawatirkannya.
Netra matanya sekarang berganti menatap wajah sang ayah yang terkesan karismatik dan tegas. Ada rasa bangga dengan sang ayah yang selalu melindunginya ketika dahulu ia dibully karena dahulunya ayahnya adalah seorang preman pasar sebelum bertemu keluarga Azka. Dipukulnya dia oleh teman-temannya namun tak sedikitpun ia merasa malu dengan sang ayah.
Tatapannya sekarang tertuju kepada sang adik, Kayla Asmarani nama yang cantik bukan, tapi entah mengapa ia tak suka jika dipanggil dengan panggilan Kayla, ia lebih suka dipanggil Lala katanya, tidak masuk akal memang. Seketika lengkungan bibir Bima menjadi senyuman ketika mengingat sang adik yang sangat ceria. Dan tes, air matanya tak sanggup ia tahan.
#Flashback ON
Memorinya kembali berputar 19 tahun yang lalu, ketika sang ayah baru dapat hadiah mobil dari Pak Budi sebagai hadiah loyalitas beliau kepada bosnya. Betapa senangnya dulu kami sekeluarga yang bisa merasakan punya mobil sendiri ya walaupun itu pemberian. Hari Sabtu cuaca sangat mendukung untuk orang yang bepergian, tidak panas namun juga tidak mendung.
Ayah mengajak kami untuk makan diluar, betapa bahagianya kita ketika itu.
"Iya, nanti kita kesana ya". Jawab sang ayah dengan penuh kelembutan
"Ye ye ye". Kata Lala yang teramat senang.
"Emm.. Yah kalau kita perginya besok giman? Kok ibu perasaannya jadi gak enak gini". Kata Ibu Bima tiba-tiba.
*****************
•`**Jangan lupa selalu support Othor ya guys dengan cara:
👍🏼 Like
📝 Coment
❤️ Vote
Sebanyak-banyaknya. Terimakasih ✨
BERSAMBUNG**....