
"Malu Azka". Kata Arin sekali lagi
"Mau tatap aku atau mau aku cium nih". Goda Azka
"Eh em apa sih Azka". Memberanikan diri menatap wajah Azka
"Hahahaha, nah gitu dong. Rin aku mau tanya kenapa setelah kejadian dirumah sakit kamu selalu menghindari aku". Kata Azka berubah serius
"Maaf". Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Arin karena ia pun tak tega dengan Azka
"Bukan kata maaf rin yang aku butuhkan". Kata Azka lembut ingin sekali Azka marah kepada Arin karena sikapnya akhir akhir ini, namun apa daya ia juga tak sanggup marah kepada orang yang sudah bisa memporak porandakan isi hatinya tersebut.
"Maaf Azka aku salah". Arin kembali berkata
"Aku tau mungkin kamu belum siap akan pernikahan ini kan? dan kamu juga tidak enak bila menolaknya. Aku paham kok rin, tapi apa salahnya kita mencoba saling membuka hati kita karena pernikahan itu sakral rin aku mau aku nikah satu kali seumur hidup saja. Dan Tuhan sudah mengirimkan kamu untuk di sampingku walau tanpa cinta". Penjelasan Azka dengan lembut
Deg. Jantung Arin kembali memompa 3 kali lebih cepat dari biasanya. Ada getaran di dalamnya setelah mendengar kata yang tak terduga keluar dari mulut Azka.
"Emm.. Tapi az". Kata Arin masih ragu
"It's oke rin aku ngerti kok". Jawab Azka mulai meninggalkan Arin yang membisu di hadapannya, hatinya entah mengapa begitu hancur melihat wanita yang akhir akhir ini memporak porandakan hatinya mungkin apa ini yang di namakan jatuh cinta? tapi mengapa sangat menyakitkan
Namun sebelum Azka melangkah lebih jauh ujung kemeja Azka di tarik oleh Arin dengan erat.
"Azka. Jangan pergi aku ingin belajar mencobanya". Kata Arin lirih sambil menundukkan kepalanya, namun masih terdengar dengan jelas oleh Azka
Bagai di sengat oleh jutaan volt listrik hati Azka merasa bahagia yang sangat karena gadis pujaannya mau mencoba membuka hati kepadanya.
Azka pun membalikkan badannya lalu sedikit menunduk agar tingginya sama dengan Arin sambil berkata
"Thanks Rin". Azka tersenyum gembira sambil memegang tangan Arin. Andai saja bukan di taman kampus mungkin saat ini juga arin sudah dalam pelukannya
"Itu pasti rin sangat pasti". Jawab Azka antusias
"Udah ah aku mau ke kelas dulu aku malu". Kata Arin menundukkan kepalanya lagi
"Hahahaha gemes jadi pingin cium ih". Azka terkekeh melihat tingkah laku Arin sambil mencubit hidung arin
***********
DI KELAS
Setelah berbincang panjang dengan Azka, Arin pun langsung menuju ke kelasnya. Dan benar saja baru saja membuka pintu kelasnya Arin sudah menjadi sorotan satu kelas.
"Rin loe dari mana?". Tanya Raka bingung pasalnya dia tidak melihat Arin dari tadi karena dia berada di kamar mandi.
"Emm itu dari...". Kata Arin dipotong oleh Misya
"Arin di ajak keluar sama pangeran gue dong di gandeng lagi tangannya". Jawab Misya yang masih syok
"Azka senior kita maksudnya?". Tanya Raka yang sebenarnya hatinya sangat sakit mendengar arin di gandeng kedua kalinya oleh Azka
"iyups,, Arin ceritain dong". Kata Misya yang langsun mendekati Arin
"Eh sya apa sih gak ada apa apa kok". Jawab Arin
"Gue gak peduli loe harus cerita". Kata Misya yang masih saja penasaran.
BERSAMBUNG......