
Sampailah mereka dihotel bintang 5 yang ada di Lombok itu, resepsionis hotel pun memberikan kartu untuk membuka kamar yang dibooking untuk 4 hari kedepan.
"Waw". Satu kata yang muncul dari mulut Arin ketika memasuki kamar mereka
"Kamu suka Rin?". Tanya Azka, karena ia sendiri yang memilih kamar tersebut ketika mereka menyetujui untuk honeymoon, namun Arin tidak tau, ia hanya tau bahwa semua ini dari ayah mertuanya
"Iya, suka banget. Gak nyangka mertua aku bisa nyiapin semua ini". Kata Arin takjub
"Ekhm. Sama suaminya gak nih". Goda Azka
"Ya kan semua ini ayah yang nyiapin bukan kamu". Jawab Arin datar
"Kata siapa? khusus untuk kamar aku yang pilih kemarin". Kata Azka
"Serius?". Kata Arin kaget, pasalnya kemarin ia melihat dan mendengar sendiri suaminya itu menolak tawaran untuk bulan madu
"Hmm". Kata Azka singkat
"Wih suami aku memang the best deh". Kata Arin
Dan Cup. Satu kecupan mendarat dipipi kiri Azka
"Ini hadiah untuk kamu". Kata Arin yang langsung memeluk Azka
"Yang pipi kanan katanya iri Rin". Kata Azka
"Ish itu mah maunya kamu". Kata Arin langsung meninggalkan Azka ketepi kolam renang sambil merentangkan kedua tangannya menghirup udara segar
Tiba-tiba ada lengan kekar yang memeluknya dari arah belakang dengan erat. Ya, itu tangan suaminya yang memeluknya.
"Gak kayak Jakarta ya Rin, disini udah siang udaranya malsih segar". Kata Azka yang kepalanya sudah diletakkan dibahu Arin
"Iya". Kata Arin singkat. Jujur sekarang dirinya sangat gugup untuk memulainya. Dan entah mendapat keberanian dari mana dia mendongak ke atas menatap wajah sang suami yang sedang memejamkan matanya menikmati udara yang begitu segar.
Cup. Satu kecupan mendarat tepat dibibir Azka, merasa ada sesuatu yang lembab dibibirnya ia pun membuka matanya, betapa kagetnya ia melihat Arin sedang mencium dirinya. Dan seperti mendapat perintah Azka langsung saja menekan bagian belakang kepala Arin untuk memperdalam ciuman mereka.
Panggutan demi panggutan telah mereka ciptakan, yang tanpa sadar kini posisi meraka ada diranjang busa king size tersebut, dengan Azka tepat diatas Arin, tanpa melepas panggutan bibir mereka, Azka yang mulai tidak terkontrol tiba-tiba saja membuka kancing baju Arin hingga hanya tersisa b*a saja, Dicetaklah mahakarya Azka di leher dan dada Arin, Arin yang nampak terbuai pun hanya pasrah mungkin ini saatnya ia menyerahkan kesuciannya kepada suaminya.
Namun tiba-tiba Azka tersadar akan perbuatannya itu sudah melanggar janjinya, ia pun langsung melepas panggutan tersebut dan menatap Arin dengan rasa bersalah.
"Maafkan aku Rin". Kata frustasi Azka dan langsung beranjak dari atas Arin.
Namun sebelum Azka benar-benar turun, tangan Arin sudah mencegahnya. Dan membuat Azka bingung
"Lakukanlah". Kata Arin mantap
"Tapi Rin, apa kamu udah punya rasa sama aku". Kata Azka
"Jauh sebelum kamu meminta untuk aku belajar mencintai kamu, rasa itu udah ada disini Az". Kata Arin sambil memegang dadanya yang terekspos bebas
Seketika senyuman Azka pun mengembang sempurna, betapa bahagianya ia sekarang ini.
"Disini ya Rin". Goda Azka yang ikut memegang dadanya Arin
"Ish. Modus". Kata Arin namun tidak mengelak tangan Azka dari atas dadanya itu.
"Mmm". Desah Arin yang tidak bisa ditahan ketika tangan Azka bermain dipucuk gundukan itu.
"Lanjutin ya". Kata Azka yang sebenarnya ia pun tidak dapat menahannya lagi
*****************
•`Jangan lupa selalu support Othor ya guys dengan cara:
👍🏼 Like
📝 Coment
❤️ Vote
Sebanyak-banyaknya. Terimakasih ✨
BERSAMBUNG.....