
Arin merutuki dirinya sendiri didalam kamar mandi, bagaimana kejadian tentang resleting yang susah dibuka atau tepatnya tangan Arin tidak kesampaian untuk membukanya terjadi lagi.
Ingin keluar meminta bantuan kepada Azka namun ia masih sangat kesal karena suaminya itu berhasil menjahilinya tadi. Malam semakin larut, dan Arin merasa sangat tidak nyaman dengan tubuhnya yang lengket itu. Dan sekali lagi karena rasa terpaksa dan kepepet tidak ada seseorang selain Azka diruangan itu, mau tidak mau Arin pun harus meminta bantuan sekali lagi untuk hari ini meminta tolong kepada Azka.
"Apa?". Kata Azka yang melihat Arin keluar dari kamar mandi dan masih saja menyisahkan gelak tawanya dari tadi.
"Bantuin". Kata Arin yang sebenarnya takut hal seperti tadi siang terulang kembali.
"Dengan senang hati". Kata Azka yang langsung beranjak dari tempat duduknya itu.
"Stop, gak ada acara peluk-pelukan loh". Kata Arin memperingati Azka
"Iya, kalau gak khilaf". Jawab enteng Azka
"Kamu cukup sampai setengahnya saja bantuinnya, nanti aku lanjutin sendiri". Kata Arin memberi aturan
"Makanya jangan pendek-pendek amat napa Rin". Kata Azka yang sebenarnya hanya ingin bercanda kepada Arin.
"Ih kok jadi body shaming sih". Kata Arin sedih, bagaimanapun dan dalam kondisi apapun menurut Arin bercanda yang menyangkut dengan fisik seseorang itu sangat tidak lucu.
"Eh maaf Rin, aku cuma bercanda". Kata Azka yang menjadi tidak enak hati kepada Arin
"Hmm". Jawab singkat Arin
"Jangan marah". Kata Azka yang langsung memeluk Arin dari belakang, bukan karena ia mengambil kesempatan tapi ia hanya ingin membujuk istrinya yang sedang kesal terhadapnya.
"Iya". Kata Arin yang sudah luluh dengan rayunan Azka
"Udah yah lepasin, aku mau mandi dulu". Kata Arin sambil mengurai pelukan Azka
Sepeninggalan Arin ke kamar mandi, Azka kembali berbaring di ranjangnya, rasanya belum hilang juga rasa kantuk karena semalam sebelum akad ia tak tidur, ditambah lagi raga yang terasa sangat letih membuat matanya terbuai dengan kenyamanan bed yang begitu lembut. Terlelap sudah raga yang lelah itu.
30 menit Arin baru selesai dengan ritual mandinya, lama memang karena ia harus membersihkan wajahnya dulu dari polesan make up untuk acara resepsi tadi. Keluarlah Arin dari bilik tersebut dan matanya menjumpai sang suami yang tertidur masih lengkap dengan pakaian acara tadi. Arin hanya menggeleng-menggeleng kepalanya. Mungkin ini tugas pertama sebagai istri.
Arin mulai mendekati Azka yang mungkin saja sudah merajut mimpinya dialam bawah sadarnya.
"Selamat mengurus bayi besarmu Arin". Kata Arin yang bermonolog
Dilepasnya sepatu beserta kaos kaki yang masih menempel pada tubuh Azka. Kemudian ia beralih pada dasi kupu-kupu yang juga masih setia terpasang rapi dileher suaminya.
Lamat-lamat ia mulai menyusuri wajah seseorang yang kini telah menjadi suaminya itu, begitu ketara bajwa ia sangat lelah dan kurang tidur dibuktikannya garis hitam cekung dibawah matanya.
Arin masih tidak menyangka bahwa pertemuan dengan cowok angkuh yang ditabur dikoridor kampus pada saat itu sekarang malah menjadi suaminya sendiri. Selucu itu takdir mempertemukan jodohnya. Seseorang yang begitu menyebalkan pada masanya itu kini beralih menjadi seseorang yang selalu melindunginya dari bahaya yang mengintai. Diusapnya rahang kokoh Azka dengan pelan, begitu damai ia merajut mimpinya sehingga gerakan yang dibuat oleh tangan Arin pun tidak membangunkannya dari tidur nyenyaknya.
*****************
•`Jangan lupa selalu support Othor ya guys dengan cara:
👍🏼 Like
📝 Coment
❤️ Vote
Sebanyak-banyaknya. Terimakasih ✨
BERSAMBUNG.....