
Keluarga Arin sudah terlebih dahulu berangkat menuju gedung yang akan menjadi saksi akan adanya ikrar sehidup semati. Didampingi oleh sang ibu, ayah, adik serta sahabatnya, sedangkan para kerabat Arin memilih datang dari rumah langsung karena harus mengurus keluarganya sendiri-sendiri dulu.
Diremasnya tangan Misya dan Rima yang tepat berada di sisi kanan dan kiri Arin. Misya pun kaget ketika tangan Arin yang dingin meremas jari-jarinya, ia tau bashwa sahabatnya kini berada di level deg-degan yang paling tinggi.
"Tenang, Tarik nafas biar hati gak dag-dig-dug". Kata Misya menenangkan Arin
"Padahal semalam gue biasa-biasa aja loh kenapa sekarang jadi gak karuan gini rasanya". Kata Arin menyampaikan keluh kesahnya kepada sang sahabat.
Ibu dan Ayahnya yang berada di kursi depannya pun hanya tersenyum mendengar penuturan dari anak sulungnya.
"Wajar sayang kalau kamu deg-degan gitu, Ibu juga seperti kamu saat mau nikah sama ayah". Kata Bu Nita menceritakan pengalamannya ketika akan menikah.
"Kamu malah masih mending diam ditempat kayak gini, dulu Ibu sampai bolak balik ke kamar mandi karena rasanya kayak mau ngompol terus gara-gara gerogi". Sambung Bu Nita
"Ha ha ha". Tertawa serempak orang yang berada di mobil tersebut.
"Kalau ayah gimana dulu?". Kata Rima penasaran kepada sang ayah karena orangnya terlihat cuek.
"Ayah mah biasa-biasa aja mesti itu gak kayak Ibu". Kata Arin meledek ayahnya.
"Eh kata siapa? kamu salah Rin, nih ya Ibu ceritain pernikahan kita dulu harus ditunda 1 jam lamanya ketika para saksi dan penghulu udah datang". Kata Bu Nita kembali menerawang masa lalunya.
"Loh kenapa Bu? Ayah berusaha kabur ya kayak di film-film ya bu?". Kata Rima yang otaknya sudah terkontaminasi oleh film-film unfaedahnya itu.
"Ish sembarangan kamu, Ayah gak mungkin kabur lah orang ayah cinta mati sama Ibu". Kata Pak Arya yang membela diri.
"Terus apa dong tan?". kini giliran Misya yang bertanya
"Tanyain aja nih orangnya, masa iya Ibu siap dengan segala make up, gaun yang ribet, penghulu juga udah didepan mata. Eh ayah kalian malah masih betah dikamar mandi selama 1 jam katanya sembelit lah katanya perutnya sakit lah, bilang aja saking gugupnya". Kata Bu Nita yang tiba-tiba menjadi kesal karena teringat hal yang terkesan menjengkelkan.
"Ha ha ha". Tawa mereka kembali pecah
"Ih Ibu udah cukup kok malah buka kartu, Ayah kan jadi malu". Kata Pak Arya yang wajahnya sudah seperti tomat matang.
Perbincangan pun selesai, kini hening kembali menguasai suasana didalam mobil tersebut. Arin pun memilih menghidupkan ponselnya yang sejak tadi malam ia matikan karena ingin quality time bersama adik dan sahabatnya.
Disana ia melihat 53 panggilan tidak terjawab dan 61 pesan dari Azka. Ia pun mulai membuka dan membaca pesan tersebut.
Azka 19.54 : "Kamu lagi apa Rin?"
Azka 19.58 : "Sibuk kah?"
Azka 20.01 : " Kok ditelfon gak aktif?"
Azka 20.05 : "Rin aku gugup nih gak afal-afal ijab kabulnya, semangatin napa🙄"
Azka 02.47 : "Rin sampai gak bisa tidur loh ini makin deg-degan, gak mau ngasih obat penenang gitu rin😑"
Begitulah kira-kira sebagian besar inti dari chat Azka malam itu, yang berhasil membuat sang calon mempelai wanita tersenyum malu.
**********************
•`**Jangan lupa selalu support Othor ya guys dengan cara:
👍🏼 Like
📝 Coment
❤️ Vote
Sebanyak-banyaknya. Terimakasih ✨
BERSAMBUNG**....