
"Kenapa?". Tanya Arin heran
"Sejak kapan loe panggil gue dengan kata kamu". Jawab Azka
Arin pun salah tingkah mengapa dirinya tiba tiba memanggil Azka dengan kata kamu yang notabenenya adalah orang yang paling dibenci Arin.
"Emm. Itu emm ya kan aku juga pingin lebih akrab dengan yang katanya pangeran kampus". Kata Arin terbata bata.
"Hahahaha... Boleh juga aku kamu oke oke oke". Kata Azka sambil tersenyum
"Nah senyum gitu kan kelihatan gantengnya". Kata Arin tanpa sadar dan langsung menutup mulut dengan menggunakan tangannya
"Kamu juga cantik". Jawab Azka yang mulai terpesona dengan kecantikan Arin
Deg.. Jantung Arin berdetak 3 kali lebih kencang dari biasanya.
Aduh kenapa nih jantung gak bisa diajak kompromi si. Batin Arin
Arin dan Azka pun kembali dalam keheningan mereka larut dalam pikiran masing-masing. Kemudian Pak Budi dan Ibu Nita kembali masuk ke dalam ruangan tersebut dan merasa aneh dengan kecanggungan kedua orang yang ada di depannya.
"Ada apa nih kok jadi diam". Kata Pak Budi mencairkan suasana
"Emmm gak apa apa kok yah". Jawab Azka
"Ya sudah kalian makan dulu sana biar Ibu yang gantian jaga ayah". Kata Bu Nita
"Baik bu, Om permisi Arin makan dulu ya". Kata Arin sambil keluar dari ruangan kemudian di susul oleh Azka
"Oke". Jawab Pak Budi
"Makan ditaman aja yuk rin disini baunya rumah sakit banget". Kata Azka mengajak Arin
"Yaelah namanya juga rumah sakit az". Jawab Arin enteng
Mereka pun langsung menuju ke taman dan duduk di kursi untuk memakan makanan siang mereka. Arin yang begitu merasa kelaparan pun langsung makan dengan lahap tanpa rasa malu di depan ada Azka yang memperhatikannya.
"Pelan pelan kali rin enggak ada yang minta kok". Kata Azka sambil mengacak acak rambut Arin karena melihat kelakuan Arin yang sangat gemas.
Uhuk uhuk uhuk.
Azka pun langsung mengambilkan minum untuk Arin
"Hati hati napa rin". Kata Azka sambil memberikan minuman ke Arin
"Makasih az". Kata Arin dan dijawab senyuman oleh Azka
Setelah mereka menghabiskan makanannya, mereka pun kembali ke ruangan ayahnya, lalu ketika sampai di depan ruangan ayahnya Arin sangat bahagia karena ayahnya sudah sadarkan diri dan sedang mengobrol dengan Pak Budi dan Ibunya pun langsung berlari dan memeluk ayahnya.
"Ayah maafkan Arin ayah hiks hiks hiks". Arin menangis di dalam pelukan ayahnya
"Tidak apa apa nak ayah tau perasaan kamu kok, maafkan ayah ya yang sudah memaksa kamu". Jawab Pak Arya menunduk lesu
"Tidak ayah Arin menerima dengan ikhlas". Jawab Arin
"Benarkah?". Tanya Pak Arya
Arin hanya mengangguk sambil terisak di dalam pelukan ayahnya. Jawaban Arin pun langsung membuat Pak Budi dan Ibu Nita yang dari tadi mendengarnya tersenyum bahagia.
"Syukurlah". Kata Pak Budi
"Lalu bagaimana dengan kamu Azka". Lanjut Pak Budi
"Baik ayah". Jawab Azka setuju
"Baiklah minggu depan aku akan ke rumahmu ar, melamar Arin untuk Azka". Kata Pak Budi
"Baiklah di". Jawab Pak Budi
"Apa ayah kak Srin mau menikah? Rima jadi kesepian dong di rumah". Kata Rima menyela
"Hahaha kakakmu hanya menikah bukan pergi jauh sayang". Kata Bu Nita menenangkan Rima
Bersambung.....