
Mobil pun berjalan menuju entah kemana. Kedua insan yang tadi sedang terbakar oleh hasrat kini hanya diam membisu larut dalam pikirannya masing masing, hingga suara suara hp Azka berbunyi. Lalu Azka pun mengangkatnya.
"Hallo bim ada apa". Kata Azka mengangkat telepon dari asisten ayahnya
"Begini tuan muda, tuan besar ingin anda ke kantor sekarang". Penjelasan Bima di sebrang sana
"Panggil gue Azka dulu baru gue mau ke sana". Jawab Azka yang sering kali kesal karena Bima yang sudah dianggap kakaknya itu selalu memanggilnya dengan sebutan tuan muda.
Bima pun akhirnya menuruti permintaan Azka
"baik tu eh Azka kamu di suruh ayah kamu kesini". Jawab Bima dengan kaku
"Nah gitu dong kan enak di dengarnya, tapi gue masih sama Arin nih gue ajak ke situ gak papa?". Tanya Azka
Arin yang mendengar perkataan Azka dengan lawan bicaranya di sebrang telepon sana mulai tertegun.
Gak gila tahta ternyata dia. Gumun Arin di dalam hati
"Rin, kamu ikut aku ke kantor sebentar ya di suruh ayah kamu gak ada kegiatan kan?". Tanya Azka setelah mematikan telepon
"Emm gak ada si tapi nanti jam 4 aku harus kerja". Jawab Arin
"Kerja? kamu kerja apa". Tanya Azka yang memang belum tahu Arin bekerja
"Kerja jadi kasir di warung sembako, maaf ya kerajaanku yang tidak pantas dengan kamu". Kata Arin menunduk bagaimana pun ia sadar diri
"Maaf? untuk apa, aku malah bangga dengan kamu rin". Jawab Azka jujur.
"Serius?". Tanya Arin
"Iya, tapi setelah menikah aku harap kamu berhenti ya dari pekerjaan kamu". Kata Azka
"Kamu malu ya". Kata Arin yang sedih
"No. Bukan maksud aku begitu Arin aku sama sekali tidak malu memilikimu tapi setelah menikah kamu akan berubah status menjadi istri aku, dan aku adalah suami kamu yang di mana kewajiban seorang suami adalah menafkahi istrinya". Azka memberi penjelasan
"Lalu bagaimana dengan orang tua ku dan adik ku?". Tanya Arin yang memikirkan nasip keluarganya ketika ia sudah menikah.
"Ayah dan ibumu berarti juga ayah ibuku dan adikmu juga berarti adikku jadi mereka adalah tanggunganku". Jawab Azka lagi
"Tidak, tidak sama sekali lagi pula kemarin ayah bilang kalau ayahmu akan di angkat menjadi manager di perusahaan". Kata Azka
"Apa itu tidak berlebihan Azka". Arin penasaran
"Apa ayahmu tidak menceritakan latar belakang hingga ayahku dan ayahmu menjadi sahabat? mereka adalah yang merintis karir dari bawah hingga mempunyai perusahaan sebesar itu sekarang". Jawab Azka sambil menunjuk gedung yang menjulang tinggi di depannya
"Waoh besar sekali". Arin kagum
"Jadi manager bukan apa apa bagi seluruh pengorbanan ayahmu, namun ayahmu bilang dia mau bekerja lagi jika di tempatkan menjadi manager yang sebelumnya ayahku memerintahkan untuk menjadi direktur namun ditolaknya karena beliau rasa berlebihan. Ayo masuk". Kata Azka lalu keluar dari mobil
Di gandeng tangan Arin sambil menuju lift khusus CEO setelah sampai pada lantai 24 sebelum masuk keruang ayahnya yang nanti akan menjadi singgah sana Azka ia menghampiri Bima terlebih dahulu.
"Bim ayah di ruangan?". Tanya Azka
Namun Bima hanya terdiam karena dari tadi ia memperhatikan leher Arin yang ada bekas kepemilikan dari Azka.
"Woy". Kata Azka sambil menepuk pundak Bima
Bima yang tersadar akan panggilan Azka lalu membisiki dan memasukkan sesuatu ke dalam saku kemeja Azka
"Mungkin kamu butuh ini untuk menutup lehernya". Bisik Bima pada telinga Azka.
********************
•`Jangan lupa selalu support Othor ya guys dengan cara:
👍🏼 Like
📝 Coment
❤️ Vote
Sebanyak-banyaknya. Terimakasih ✨
BERSAMBUNG... .