
Mendengar penuturan dari Bu Sita, Bima pun mengangguk yang menandakan bahwa ia setuju jika dia terus rapuh dan bersedih maka lala dan kedua orang tuanya pun akan ikut bersedih di alam sana.
Walaupun pun dia sedikit tenang daripada tadi, namun hatinya tetap sama merasakan kepedihan dan kehilangan yang amat sangat mendalam. Bagaimana mungkin sekarang dia hanyalah sebatang kara jika tidak ada keluarga Pak Budi yang menganggapnya seperti anak sendiri.
"Ayo sayang sekarang kita berdoa ya untuk Lala dan kedua orang tua kamu biar mereka tenang di sana". Tita Bu Sita dengan penuh kelembutan
Bima pun mengangguk, lalu menundukkan kepala dan memejamkan matanya, di dalam hatinya ia sedang meminta dan berdoa kepada Tuhan semoga keluarganya yang telah meninggalkan Bima sendirian bisa mendapatkan tempat yang layak dan dan ternyaman di sisi-Nya.
Sedangkan Azka? Anak berusia 4 tahun itu dari tadi hanya diam, ia tak tau tentang apa-apa, yang hanya dibenaknya sekarang hanyalah, Lala kenapa? Kok alat-alat yang menempel ditubuhnya dilepas semua oleh sang dokter? Terus kak Bima dan bunda kenapa kok mereka menangis? Dan ayah juga kenapa hanya diam dan menunduk saja dari tadi?. Mungkin itulah beberapa pertanyaan yang ada diotaknya sekarang.
Diusianya yang baru menginjak 4 tahun, Azka belum mengerti belum arti dari kematian itu apa. Sehingga ia pun memilih diam dan akan menanyakan lagi nanti dirumah dengan sang bunda.
Memakaman Lala pun telah dilaksanakan dengan penuh khidmat, ditatapnya batu nisan sang adik Bima hanya bisa tersenyum, dia yakin bahwa adiknya sekarang sudah bahagia bersama kedua orang tuanya dan juga tidak merasakan rasa sakitnya lagi.
Dirumah Pak Budi lah sekarang Bima, dengan tatapan yang kosong dia berdiam diri dikamar.
"Sayang, makan dulu ya sini bunda suapin". Bujuk dengan penuh kelembutan Bu Sita yang mengingat Bima hanya baru makan sarapan saja itupun tidak habis.
"Nanti bunda Bima gak lapar". Tolak Bima, bagaimanapun hatinya masih merasa sedih ditinggal sang adik, dan hanya tersisa dirinyalah sekarang.
"Kak Bima ayo dong makan". Azka ikut membujuk sang kakak
"Azka aja dulu ya sama bunda, kakak belum lapar". Jawab Bima lembut
"Ya udah Azka juga gak mau makan". Kata merajuk Azka
"Iya bunda, ayo Azka kita makan bersama". Kata Bima yang akhirnya mengalah kepada sang bunda.
Kehidupan Bima bersama Pak Budi, sangat-sangat baik, walaupun dia hanyalah anak angkat tapi mereka menganggap Bima sama dengan Azka, mereka membagi kasih dan sayang adil terhadapnya. Bima juga disekolahkan di sekolah favorit sama seperti Azka.
Azka merasa sangat bersyukur bertemu keluarga sebaik ini. Sehingga Bima berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia akan memperdulikan kepentingan keluarga ini diatas kepentingan pribadinya.
Namun kebahagiaan itu ternyata tidak bisa bertahan lama, ketika usianya menginjak 16 tahun dan Azka 14 tahun, tepatnya Bima yang baru masuk dunia SMA sedangkan Azka baru naik kelas 2 SMP. Kabar tak mengenakan datang dari keluarga ini. Bunda Sita, seorang yang telah menganggap aku sebagai darah dagingnya dan menyayanginya sepenuh jiwa kini telah tiada.
*****************
•`**Jangan lupa selalu support Othor ya guys dengan cara:
👍🏼 Like
📝 Coment
❤️ Vote
Sebanyak-banyaknya. Terimakasih ✨
BERSAMBUNG**....