LOVE STORY OF AZKA AND ARIN

LOVE STORY OF AZKA AND ARIN
Cintai Aku Saja Dulu



Kedua pengantin baru itu baru memasuki kamar inap mereka tepat pukul 12 malam. Rasa lelah yang teramat membuat dua pasang manusia itu menumpahkan tubuhnya diatas bed yang begitu besar tanpa membersihkan tubuh mereka yang lengket akan keringat.


"Gila sih capeknya, ngak mau aku kayak gini lagi". Keluh kesah Arin yang terlihat sangat lelah


"Emang kamu ada niatan nikah lagi Rin?". Kata Azka yang merasa ambigu dengan ucapan sang istri


"Ya gak juga, maksud aku itu gak enak aja berdiri berjam-jam sampai kaki pegel gini". Kata Arin menjelaskan


Tiba-tiba saja Azka memiringkan tubuhnya ke arah Arin berbaring. Hal tersebut membuat detang jantung Arin bergemuruh. Ditangkupnya satu sisi wajah Arin dan mengusapnya pelan.


"Terimakasih". Kata Azka yang masih mengelus-elus wajah Arin


"Untuk?". Tanya bingung Arin


"Untuk hari ini, kamu udah bersedia menjadi pendamping aku, menemani disisa umur ini". Kata Azka


"Rin?". Sambung Azka


"Hmm". Jawab Arin yang masih mengontrol detak jantungnya itu


"Mungkin perkenalan kita sangat singkat, bahkan mungkin rasa cinta juga belum hadir dihati kamu, tapi aku mohon sama kamu jangan pernah tinggalin aku dalam keadaan apa saja ya". Kata Azka serius


Kamu salah Az, nama kamu sudah lama menguncah hati ini. Batin Arin


Ditangkapnya tangan Azka yang masih setia dipipi Arin.


"Bukan berarti karena dijodohkan kita jadi seenaknya, pernikahan tetap pernikahan dimana didalam kalimat tersebut terdapat janji yang disaksikan oleh para saksi, lucu kalaupun harus berpisah Az. Aku gak mau ya diantara kita ada pernikahan kontrak kayak novel-novel yang aku baca". Kata Arin panjang lebar


Azka yang mendengar penjelasan Arin, langsung menyentil dahi Arin dengan jarinya.


"Aww, sakit Azka". Kata Arin yang seketika menjadi kesal


"Lagian kamu mikirnya aneh-aneh, dikehidupan nyata beda Arin dengan cerita dinovel". Kata Azka sambil mengusap dahi Arin.


"Jadi?". Tanya Arin


"Apanya". Tanya Azka yang memang tidak tau maksud Arin


"Ish.. Hubungan kita lah". Tanya Arin yang sudah kesal


"Suami istri kan?". Jawab polos Azka


"Tau ah, nyebelin kamu". Kata Arin yang langsung beranjak dari tidurnya.


"Jangan marah dong". Kata Azka yang ikut duduk dengan punggung disenderkan dengan ranjang mereka


"Lagian kamunya". Kata Arin kesal


"Ya hubungan kita lah, katanya gak mau ada kontrak pernikahan yang kayak dinovel-novel kan?". Kata Arin


"Kita mulai dari nol ya Rin, kita berperan dalam perannya masing-masing, kamu sebagai istri aku dan aku menjalankan bagaimana tugas sebagai suami kamu. Aku tidak memaksa kamu sayang dan cinta sama aku cukup dengan berjalannya waktu saja yang dapat menjawab". Penuturan Azka. dan diangguki oleh Arin


"Emm.. Az kalau soal anu gimana". Kata Arin gugup setengah mati membahas soal itu


"Anu?". Kata Azka yang kembali bingung. Pikirnya kenapa wanita selalu menggunakan kode-kode yang sudah dipecahkan, apa mereka tidak bisa langsung pada intinya saja?


"Anu apa Arin, jangan pakai kode-kodean dong Rin ini kita lagi membangun strategi rumah tangga loh bukan lagi Pramuka". Kini giliran Azka yang kesal


"Nafkah batin Azka". Kata Arin yang pipinya langsung memerah


"Apakah kamu juga menuntutnya". Sambung Arin, bagaimanapun ia harus bertanya kepada Azka tentang ini.


"Aku laki-laki normal Arin, ditambah aku sudah mempunyai istri toh melakukannya juga gak dosa. Tapi yang aku mau cintai aku dulu Rin kalau kamu sudah sampai pada tahap itu, semuanya akan berjalan semestinya". Kata Azka yang kini mengusap kepala Arin. Dirinya tidak mau egois ia hanya ingin melakukannya ketika hati Arin sudah benar-benar terisi dengannya.


Ada rasa hangat dan nyaman ketika Azka berucap seperti itu, awalnya Arin mengira Azka akan melakukan apa saja atas dirinya yang sudah sah menjadi miliknya itu, namun dugaan Arin salah, penuh dengan kelembutan Azka menunggunya sampai dia siap.


Menurut Arin, bukan masalah mencintainya dulu, toh sekarang ia sudah dapat pastikan hatinya tertuju pada sosok laki-laki yang sekarang sah menjadi suaminya. Bukan karena ia tak mau hamil muda juga, melainkan ia memamg belum siap karena ada rasa takut untuk memulainya.


"Yakin?". Entah mengapa tiba-tiba Arin bertanya seperti itu


"Kalau kamu maksa sih gak apa-apa". Kata Azka santai, namun didetik berikutnya wajah Azka mendekat pada telinga Arin dan berbisik secara sensual yang membuat buku yang ada dileher Arin meremang.


"Ayo kita mulai". Goda Azka yang suka melihat wajah Arin yang tiba-tiba pias.


"Aku mau mandi". Kata Arin langsung beranjak berdiri dan langsung berlari menuju ke kamar mandi.


"Ha ha ha". Seketika tawa Azka pecah, mungkin hal tersebut akan menjadi hoby baru Azka.


*****************


•`**Jangan lupa selalu support Othor ya guys dengan cara:


👍🏼 Like


📝 Coment


❤️ Vote


Sebanyak-banyaknya. Terimakasih ✨


BERSAMBUNG**.....