Love By Accident

Love By Accident
Episode 9



Suara tangis terdengar mengetuk daun telinga Natalie, dari ruangan belakang tempat dimana Sarah berada sekarang. Natalie yang penasaran pun akhirnya mencoba melihat untuk memastikan suara tersebut. seketika ia bergidik ngeri, tangisan yang ia dengar semakin kuat saat Natalie selangkah lagi akan sampai didapur.


"Raka..." Sarah terisak, sambil memainkan sebilah pisau ditangannya. "Raka..." raut wajah Sarah bebar-benarvdirundung kesedihan, terlihat jelas jika ia masih sangat terpukul atas kepergian kekasihnya tersebut.


Seketika tubuh Natalie bergetar dengan mata yang membulat, ia sedikit membuka mulutnya karena terkejut tangannya dengan cepat meraih ponsel untuk merekam aksi Sarah tersebut untuk melaporkannya pada Revan dan juga Deon.


"Kamu ngapain?"


"Ah..." Natalie tersentak, menjerit begitu melihat Sarah tiba-tiba saja menepuk bahunya. "Sar, tadi kamu..."


"Aku kenapa?"


"Tadi kamu disana?" Natali terbata dengan raut wajah memucat menunjuk kesuatu arah.


"Iya kan aku lagi bikinin kamu minum tadi." sahut Sarah santai.


Natalie mengerjap, ia mencoba memulihkan penglihatannya kemastikan jika yang terjadi sekarang bukanlah halusinasi semata. anehnya tidak ada tanda-tanda jika Sarah menangis, matanya tak memerah sedikitpun. wajahnya juga terlihat kering, tak tersiram air mata. padahal Natalie sangatlah yakin, jika sebelumnya Sarah histeris sambil memanggil-manggil nama Raka.


"Masa sih gue salah liat," Batin Natalie merasa heran.


Memang benar apa yang Revan katakan. keanehan yang pria jangkung itu rasakan kini turut Natalie rasakan. sama halnya, Natalie juga kesulitan untuk mengartikan sikap Sarah sekarang. bahwasannya Sarah akan bersikap tenang jika sedang berhadapan dengan seseorang dihadapan matanya, tetapi jika Sarah sendirian. wanita itu seperti tak terkendali, wajar saja jika Deon beranggapan bahwa Sarah sedang berada dalam fase depresi berat. tak diragukan, sepertinya cinta Sarah terhadap Raka telah mempengaruhi segalanya.


"Aduh," Sarah tiba-bisa saja meringis sambil memegangi kepalanya, "Ahhh..." Sarah menjerit dengan gigi yang mengerat.


"Sar..." Natalie mencoba membantu Sarah, ia mencoba membangunkan Sarah yang sudah tidak karuan menahan sakit. "Sar, kamu kenapa?" tanya Natalie cemas.


Tak butuh waktu lama dengan cepat Natalie menghubungi Revan dan juga kekasihnya, kondisi Sarah terlihat sangat mengkhawatirkan. padahal sebelumnya Sarah tampak baik-baik saja, dan dalam waktu singkat semua itu berubah.


Kurang dari dua puluh menit Deon dan Revan datang. Sarah terluhat tak berdaya diatas sofa dibantu penanganan pertama yang Natalie berikan. karna dirinya memanglah seorang dokter, tentu Natalie tahu apa yang harus ia lakukan.


"Raka..." lirih Sarah terisak dalam kondisi tak sadarkan dirinya.


Revan hanya bisa menghela nafas beratnya, meskipun yang terucap adalah nama sahabatnya yang kini sudah meninggal. tetap saja rasa kecewa itu muncul, statusnya sekarang sudah menjadi suami yang sah untuk Sarah. tapi tanpa Sarah sadari, gadis tersebut terus saja menoreh rasa sakit pada Revan dan juga perasaannya.


"Sabar," ucap Deon menenangkan Revan sambil menepuk bahunya.


"Sarah depresi, Revan bener, dia masih dihantui sama bayang-bayang Raka. jika hal ini terus berlanjut kejiwaannya pasti terancam."


Deg...


Revan memucat, dengan raut wajah tanpa ekspresi pria itupun menjawab, "Gue harus apa?"


Entah untuk sekarang, dirinya harus menyesal ataupun tidak karena sudah menikahi Sarah dalam waktu yang singkat. kurangnya pendekatan, mungkin itu adalah penyebab utama semua ini terjadi. jika saja sebelumnya Revan menunda pernikahan tersebut, mungkin perasaannya tidak akan sesakit sekarang.


"Lo harus jagain dia selama dua puluh empat jam, tadi Sarah nangis mainin pisau di dapur." ucap Natalie menjelaskan.


Revan semakin menajamkan tatapannya pada dokter berparas cantik tersebut.


"Gue takut, jika Sarah tiba-tiba teringat kematian Raka terus dia nekat."


Tentu Revan paham apa maksud ucapan dari Natalie. yang mengganjal dihatinya sekarang, sampai kapan hal ini akan terus berlanjut? Revan semakin merasa tidak yakin jika dia bisa membuat Sarah jatuh cinta padanya. meskipun terdengar tidak sulit, tetapi kondisi Sarah terus mendesak dirinya untuk menyerah.


"Raka..."


Revan memalingkan tubuhnya menatap Sarah saat suara sang istri kembali mengetuk dan telinganya dengan sebutan orang lain.


"Kalo gitu gue sama Natalie pulang dulu, Lo yang sabar Van. gue yakin cepet atau lambat Sarah pasti bisa nerima lo sebagai Revan, bukan sebagai Raka." ucap Deon berpamitan.


Revan hanya tersenyum getir, seolah mengiyakan dan berusaha tegar dihadapan Deon sahabatnya tersebut. meskipun kenyataannya hati Revan sangatlah hancur.


"Raka..."


Setelah Natalie dan Deon pergi, Revan langsung mendekatkan dirinya pada Sarah. membelai lembut wajah cantik istrinya yang terasa sangat hangat menyengat kulitnya.


"Raka..." Sarah membuka matanya, meraih tangan Revan dan menempelkannya tepat di pipi sebelah kirinya. "Aku kangen," rengek Sarah manja.


Astaga, sudah jelas dihadapannya sekarang adalah Revan. tetapi Sarah malah menganggapnya itu adalah Raka.


"Peluk," Sarah membuka lebar tangannya, perlahan ia mendudukan dirinya diatas pangkuan Revan kemudian berkata. "Aku cinta kamu," ucap Sarah tulus, meskipun ketulusannya itu ditujukan kepada Raka.


Cup...


Revan merengkuh bibir Sarah, dalam sekejap ia mengubah posisi dirinya, menghempas Sarah sampai gadis itu berada dalam bawah pelukannya. tak ada balasan yang Sarah lakukan, gadis itu hanya terus memandang mata Revan sambil sesekali mengerjap merasakan bagaimana naluri kelelakian Revan bekerja menjamah setiap inci tubuhnya. entah apa yang ada dalam pikiran Sarah sekarang, namun sepertinya gadis itu menganggap Rakalah yang sedang menyentuhnya sekarang.


"Ahhmmm..." Sarah melenguh saat Revan dengan sangat lembut mengecupi dua gundukan pandatnya, jari-jari kaki Sarah sampai meremat menikmati kenikmatan yang mungkin saja baru pertama kali ia rasakan, "Mmmm, Raka..."


Seolah sudah tidak memperdulikan hal tersebut, Revan terus saja menikmati tubuh Sarah dengan penuh hasrat. meskipun rasa itu kian berkecamuk ditambah dengan adanya rasa jengkel akibat Sarah yang menganggapnya sebagai Raka. itu bukan masalah, nyatanya Revan sekarang adalah suaminya. sudah sepantasnya hal ini Revan dapatkan sejak awal, mengingat Sarah sendiri tidak pernah menghargai perasaannya.


"Rak..." Sarah meloloskan air matanya, "Revan!" Sarah memekik dan langsung memukul bahu pria tersebut mencoba melepaskan diri, "Revan lepasin aku!" jerit Sarah histeris.