Love By Accident

Love By Accident
Episode 18



Awalnya Sarah memang berpura-pura depresi, lantaran ingin membuat Revan mengakui perbuatan jahatnya, sekaligus menyakiti perasaan pria tersebut secara tidak langsung. bagaimana dengan sekarang? Sarah merasa dirinya akan benar-benar berada dititik tersebut, titik dimana dirinya akan merasakan apa itu yang dikatakan gila sesungguhnya.


Tekanan cinta dan sulitnya mendapat kepercayaan dari semua orang terdekatnya menjadi pemicu utama, kenapa Sarah berpikir demikian. terlebih dirinya harus setiap hari berada satu atap dengan seseorang yang telah membunuh kekasihnya? tentu itu bukanlah sesuatu yang mudah.


"Kamu sakit?" tanya Revan saat pria tersebut datang dan langsung menyentuh dahi Sarah.


Wanita itu tak mengumpat, Sarah tidak memukul dan juga tidak menepis sentuhan tangan lembut Revan pada dirinya.


"Kita ke dokter ya, kamu demam, Sar." ajak Revan perhatian.


Sarah hanya terdiam, mendapat perlakuan lembut dari suaminya selalu saja membuat Sarah tersiksa dan merasa sangat berdosa. ia merasa dirinya sangat jahat, karena sudah menikahi Revan yang telah membunuh Raka. sungguh, tidak tahu lagi apa yang harus Sarah lakukan? tidak mudah menerima kenyataan pahit ini. karena selama hidupnya Sarah akan terus dihantui rasa bersalah lantaran sudah menerima pinangan Revan yang ternyata adalah dalang dibalik kematian kekasihnya.


"Sar," Revan menyentuh dan membelai wajah cantik istrinya dengan perasaan kagum. "Apa yang kamu rasain? kenapa kamu diem?"


Hanya tangisan dan rasa penyesalan yang menyelimuti Sarah sekarang. hidupnya benar-benar hancur, tak ada satupun seseorang yang mempercayainya. Sarah dibuat frustasi atas permainan licik Revan, dirinya sudah terjebak karena Revan sudah pasti tidak akan pernah melepaskannya.


"Tinggalin aku, Van." Sarah meraih tangan Revan dan memohon pada pria tersebut dengan tulus, "Aku bakalan lupain semua ini, tolong lepasin aku. ceraikan aku, Van. aku gak bisa hidup sama kamu." lirih Sarah terisak.


Bukan Revan jika tidak menghadapi Sarah dengan kondisi tenang. sentuhan kelembutan yang Revan berikan lebih terlihat sebagai penolakan atas permohonan Sarah. pria itu hanya terus mengukir senyum, sambil mendekatkan wajahnya diantara ceruk dan daun telinga Sarah.


"Aku mohon, lepasin aku..." pinta Sarah memecah tangisan.


"Apapun bakalan aku kasih buat kamu, tapi enggak dengan hal ini. kamu cuma milik aku, dan aku yakin cepat atau lambat kamu bakalan jatuh cinta sama aku."


"Gak mungkin!" Sarah menggelengkan kepala sambil mencengkram pakaian yang Revan kenakan, "Aku gak mungkin bisa jatuh cinta sama orang yang udah bunuh kekasih aku sendiri, tolong tinggalin aku, Van."


Bukannya mengiyakan, Revan justru malah menggigit kulit sensitif Sarah sambil menyapu bagian tersebut dengan deruan nafas beratnya. tak salah, sedari tadi gairah Revan sudah mulai bergejolak. ia tak bisa menghentikan dirinya semenjak sentuhan pertama kali beberapa waktu lalu itu berlangsung.


"Sarr..." Revan menggoda Sarah dengan suara paraunya, sentuhan dibalik mini dress yang Revan berikan mulai membuat wanita itu gelisah.


Hanya air mata yang terus keluar dari pelupuk mata indah milik Sarah. meskipun tidak menolak, sangat sulit bagi wanita tersebut untuk menikmati setiap kecupan yang suaminya berikan. Sarah tak punya cukup kekuatan untuk merelakan semua yang terjadi dalam hidupnya, ia merasa takdir begitu kejam karena terus menyiksa dirinya setiap kali Sarah menghadapi kenyataan pahit tersebut.


Dari Revan sendiri, ia merasa heran. kenapa Sarah tidak menolak? mana pukulan yang selalu wanita itu berikan? Revan tak berani menatap wajah Sarah dan juga matanya. ia tak ingin suasana yang menyenangkan seperti ini harus ternodai oleh rasa iba, akibat air mata istrinya yang terus menetes.


Revan benar-benar menggilai Sarah, ia bahkan tak pernah tega melihat wanita itu selalu dirundung kesedihan. penuh keyakinan Revan sematkan dalam dirinya, jika ia bisa membuat Sarah bisa mencintai dan menerima kenyataan tersebut. karena untuk menyeret Revan ke penjara adalah suatu ketidak mungkinan, disaat Sarah tidak memiliki dukungan sama sekali dari orang-orang terdekatnya.


"Satu-satunya cara adalah, kamu harus pasrah sama takdir hidup kamu sendiri. terima aku, kita jalanin hidup ini sama-sama!" ucap Revan membujuk untuk meyakinkan sang istri.


Sarah hanya menggelengkan kepalanya, ia mengerjap sambil menutupi wajahnya dengan selimut karena merasa muak melihat pria yang ia benci terus saja menggodanya.


"Maafin aku, Sayang." Revan mulai menyingkap dress yang Sarah kenakan, mencium paksa bibir Sarah sambil meraih dua gundukan kenyal yang ada dibalik penyangga yang masih Sarah kenakan.


Sarah terus menolak, ia menggeser tubuhnya perlahan ketepi ranjang bersusah payah. Namun Revan dengan cepat mengunci pergerakannya, tangan Sarah tercengkram kuat oleh Revan diatas kepalanya, hingga kini pria tersebut bisa leluasa menikmati dada istrinya yang hampir setengah telanjang.


"Mmmm," Revan menghirup aroma tubuh Sarah. "Aku cinta kamu, Sar." kemudian memainkan lidahnya diatas pucuk gundukan tersebut hingga sukses membuat Sarah tidak karuan.


"Aku gak mau!" rengek Sarah memohon.


Revan tak menggubrisnya, pria itu mulai menyapu bersih kulit indah Sarah dengan bibir dan lidahnya.


Sarah dalam keadaan sadar pun mulai merasakan sesuatu dalam dirinya. detak jantungnya berdegup kencang, darahnya seolah berdesir. sepertinya Revan sukses membuat wanita itu tera*ngsang.


"Van, mmhh." lenguh Sarah penuh kecemasan saat kedua kaki Sarah mulai Revan lebarkan.


Revan memposisikan tubuhnya, sesekali matanya melirik kearah wajah sang istri yang sedari tadi terus meringis menahan desahan. tentu melihat ekspresi Sarah, gairah Revan semakin membara. mengingat bagaimana Revan menyentuh Sarah beberapa waktu lalu, wanita tersebut sama sekali tidak memberikan reaksi karena saat itu Sarah sedang dalam pengaruh obat bius yang Revan berikan.


Senyum kemenangan Revan tercipta, dengan sedikit kesulitan Revan meneroboskan miliknya kedalam bagian pribadi milik sang istri.


"Van sakit," lirih Sarah mencengkram sprei tempat tidurnya. mungkin hal itu biasa wanita rasakan, jika belum terbiasa bercinta. bisa dikatakan ini adalah kali kedua untuk Sarah dalam melakukan aktifitas ranjangnya.


Revan mengklaim, sepertinya depresi yang Sarah tunjukan beberapa waktu lalu memanglah sandiwara. karena sekarang wanita tersebut tidak lagi menyebutnya Raka.


"Sakit!" Sarah memukul Revan agar pria tersebut segera menghentikan usahanya.


"Jleb..." Jari-jari kaki Sarah sampai meremat, sejenak ia terdiam dengan mata yang membulat saat merasakan kelelakian suaminya berhasil menerobos lubang tersebut, "Ahmmm..." saat Sarah hendak memekik, Revan langsung menutup mulut wanita tersebut dengan bibirnya sambil menggerakan tubuhnya perlahan agar kepemilikan Sarah bisa terbiasa dengan kelelakian suaminya.


Pasrah, mungkin hal itu sedang Sarah lakukan sekarang. dengan keadaan menangis, Sarah membiarkan Revan terus menikmati tubuhnya. buah dadanya sampai bergetar mengikuti tempo hentakan yang Revan lakukan. entah sampai kapan aktifitas tersebut akan berlanjut. Sarah sendiri bisa menyadari jika sudah seperti ini akan sulit bagi dirinya untuk mencegah dan menolak Revan. karena mungkin saja pria itu tidak cukup jika hanya satu kali bermain, menyadari jika waktu malam masihlah sangat panjang.