Love By Accident

Love By Accident
Episode 22



Keesokan harinya, saat Revan dan Sarah sudah terjaga disebuah parkiran mall untuk menunggu kedatangan Deon dan juga Natalie. Revan duduk di sebalah istrinya, tepatnya di kursi kemudi sambil memainkan ponsel menjelajah internet.


Sarah yang tak memiliki akses tersebut hanya bisa terdiam, memandang setiap laju kendaraan yang melintas didepan matanya. sejenak mata indah itu teralihkan pada sisi kanannya, Sarah menatap Revan singkat tanpa mengatakan sepatah katapun. sepertinya wanita tersebut terlihat bosan karena sudah menunggu kurang lebih setengah jam lamanya.


"Mau minum?" ucap Revan menawarkan lembut.


Sarah tersenyum getir, ia menggelengkan kepalanya perlahan lalu mengalihkan sorot matanya kearah lain.


"Keluar sekarang ajah, aku tau kamu bt." Revan mulai melonggarkan seat belt yang ia kenakan sedangkan Sarah hanya terdiam kaku dengan ekspresi datar


"Kenapa harus kesini sih," batin Sarah kesal. di rumah saja ia tak terima berada dekat dengan sang suami. apalagi diluar, dan harus berpergian dengan pria tersebut? bagi Sarah ini sangatlah menyebalkan.


Setelah melepaskan seat belt dari tubuhnya, Revan penuh perhatian melepaskan sabuk pengaman tersebut dari tubuh istrinya. karena hal itu, lagi-lagi Sarah harus melihat wajah Revan dengan jarak yang sangat dekat. deru nafas Sarah sepertinya beradu tepat berhembus di atas kulit wajah Revan. pria itu bahkan terus saja memancarkan senyum terbaiknya, seolah tak mempermasalahkan sikap dingin Sarah.


Seat belt pun terlepas, namun Revan tak langsung menjauhkan wajahnya dari sang istri. Revan semakin menatap lekat Sarah dengan jarak yang begitu intens, pria tersebut mengeluh wajah cantik Sarah yang nyaris tanpa cacat penuh kekaguman, lalu berkata. "Kamu cantik Sar." ucap Revan memuji.


Sekeras apapun usahanya, hal itu takan membuat Sarah mengubah pola pikirnya. menurut Sarah meskipun sekarang dirinya sudah menjadi istri dari Revan, dari sudut pandangnya Revan tetaplah pembunuh. tidak mungkin untuk dirinya menerima pembunuh tersebut dalam hidupnya.


Bagi Sarah, Revan tetaplah orang jahat. orang yang tak memiliki perasaan, Sarah akan terus menghinakan pria tersebut meskipun usaha Revan patut diacungi jempol.


"Jangan begini, Van." Sarah memalingkan wajahnya, mendorong perlahan pria itu karena merasa tidak nyaman dengan suasana tersebut.


"Kenapa?" Revan memalingkan wajah Sarah, agar wanita tersebut membalas tatapannya. "Kamu malu? atau takut jatuh cinta sama aku?"


Sarah memperdalam kerutan di dahinya, ia menajamkan tatapan seolah jengah mendengar ucapan Revan yang terdengar begitu narsis. "Jangan mimpi, aku gak mungkin cinta sama kamu!"


Revan spontan memiringkan senyumnya, ia semakin memangkas jarak antara dirinya dan juga Sarah sampai kini wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja. "Tapi semalem kamu bilang kalo kamu takut jatuh cinta sama aku."


Sarah melebarkan bola matanya, bersusah payah ia menelan saliva lalu memalingkan wajahnya dengan ekspresi gugup, "Ga... gak mungkin." ucap Sarah terbata.


"Semalem kamu tarik tangan aku, kamu peluk aku terus aku cium kamu."


Astaga, sungguh Sarah tak mengingat hal itu. ia berpikir, jika sekarang Reva hanya sedang berbicara omong kosong meluapkan halusinasinya agar hal tersebut bisa mejadi kenyataan. meskipun semua itu memanglah benar-benar terjadi semalam.


"Semalem kamu gini," Revan menarik Sarah spontan hingga wanita itu langsung mendarat dalam pelukannya. "Terus kamu gini," Revan melingkarkan tangannya mempererat dekapan sambil menatap bola mata indah milik Sarah, "Trus gini..." Cup... dalam sekejap bibir Revan langsung menyambar Sarah hingga membuat sang istri terkejut dan spontan membulatkan matanya.


Tak ada pembalasan yang Sarah berikan. wanita itu masih terjebak dalam situasi terkejut dan rasa tidak percayanya. ia bahkan hanya terdiam saat Revan dengan sangat. nakal menjelajah bibirnya sambil mengelus punggung dan juga boko*ngnya.


"Mmmm..." tolakan kecil Sarah berikan, wanita tersebut mencoba mengalihkan wajahnya sambil mendorong dada Revan.


Namun semua itu sia-sia saja, Revan malah semakin mempererat pelukan dengan ciuman yang semakin liar.


"Gak waras, ini parkiran." batin Sarah memelas, "Gimana kalo ada yang liat?"


Tangan Revan mulai menyusup ke balik dress yang Sarah kenakan, ia mengelus sambil merema*s sesekali bagian kulit Sarah yang terasa sangat kenyal.


"Mmmm... lepas," ciuma terlepas, Sarah pun melenguh agar Revan menghentikan aksinya.


Tetapi tidak, pria itu justru menurunkan ciumannya mengabsen setiap titik bagian ceruk leher istrinya dengan sangat terlatih.


"Vannmm..." Nafas Sarah sudah mulai berat, ciuman liar itu terasa sangat menyengat. detak jantung Sarah berpacu dengan cepat, suhu tubuhnya meningkat pesat. Sarah bahkan semakin kesulitan untuk menolak sentuhan kenikmatan suaminya tersebut, meskipun keduanya sedang berada dalam sebuah mobil. tepatnya di parkiran mall.


Drt... Drt... Sejenak Revan menghentikan aksinya saat suara getaran ponsel berani mengganggu konsentrasinya. pria itu berdecih, "Sial!" umpat Revan kesal.


Tubuh Sarah sampai berkeringat, dengan nafas yang tersenggal wanita langsung merapikan kembali pakaiannya yang sudah tersingkap oleh sang suami. "Gak waras!" hardik Sarah jengkel.


Deon : Di mujigae, buruan.


Mendapat pesan tersebut, Revan pun langsung meraih tisu yang berada di dasboard mobil. lalu memberikannya beberapa helai pada sang istri, "Nih." ucapnya menyodorkan disertai seringai licik.


Dengan kasar Sarah mengambil tisu tersebut, ia masih terlihat kesal dan terus saja mengerucutkan bibir. Sarah bahkan langsung memutar cermin yang berada di depan matanya, untuk memastikan jika Revan tidak meninggalkan noda kemerahan pada daerah leher yang tersorot.


"Nanti lanjut irumah," ucap Revan menggoda.


"Mimpi!" sahut Sarah spontan dengan sangat sinis.