Love By Accident

Love By Accident
Episode 10



"Rak..." Sarah meloloskan air matanya, "Revan!" Sarah memekik dan langsung memukul bahu pria tersebut mencoba melepaskan diri, "Revan lepasin aku!" jerit Sarah histeris.


Bruag... Revan terdorong oleh Sarah, ia langsung melepaskan gadis tersebut spontan.


"A... apa yang kamu lakuin?" tanya Sarah sambil mencoba menutupi bagian dadanya yang terekspos.


Revan berdecih, dengan kesal.pria itu mendirikan tubuhnya. "Pertanya bodoh, kamu tanya apa yang aku lakuin barusan? apa tindakan aku barusan salah?" sahut Revan kembali bertanya meninggikan suara.


Tidak salah, sepertinya Revan sudah cukup muak melihat omong kosong yang terjadi pada Sarah. kali ini ia akan bertindak tegas, agar sang istri sadar jika dirinya sekarang adalah istri dari seorang Revan Erlangga.


"Aku cuma..."


"Cuma apa?" Revan kembali memangkas jarak mendekatkan wajahnya pada wajah Sarah, "Aku ini suami kamu, Sar. tolong lupain Raka!" tegas Revan penuh penekanan.


"Aku... aku..."


Dengan perasaan hancur, Revan menjauhkan tubuhnya dari Sarah. ia berlalu dengan sangat jengkel menuju kamar, tanpa mengatakan apapun.


"Revan tunggu..."


Tak ada jawaban, suasana menjadi hening seketika saat tubuh Revan sudah tak terlihat lagi oleh dua bola mata indah Sarah.


Entah harus dengan cara apalagi Revan meyakinkan istrinya, membantu Sarah keluar dari bayangan Raka yang terus menghantuinya. tentu jika ini terus dibiarkan hanya akan membuat batinnya semakin tersayat. sedangkan Sarah akan semakin terjebak dalam lingkaran masa lalunya tersebut.


Revan memilih menetralkan tubuhnya dibawah kucuran air bersuhu rendah. ia mencoba melebur masalah berat tersebut. terlebih dirinya mengalami sedikit kenaikan hasrat, saat Sarah tak sadarkan diri. sesuatu yang semakin membuat Revan merasa muak, sampai kapan hasratnya tersebut harus tertahan? padahal statusnya adalah seorang suami sekarang.


Cleak...


Revan mengalihkan tatapannya kearah pintu, dahinya mengerut dengan mata yang memincing saat mendapati Sarah dengan santainya datang.


"Aku salah..." ucap Sarah penuh kelembutan.


Tidak hanya ucapannya yang membuat Revan terkejut, Sarah bahkan langsung memeluk Revan begitu saja tanpa merasa malu sedikitpun.


"Kamu sadar apa yang kamu lakuin sekarang bisa bikin aku kehilangan kendali?"


Sarah mendongak menatap wajah Revan dengan tatapan sendunya, ia mengangguk pelan lalu kembali menempelkan wajahnya pada dada Revan tanpa ragu.


"Sar," Revan mulai membelai lembut rambut Sarah yang kini sudah mulai lepek tersiram air shower, perlahan Revan mengecupi pucuk kepala wanita tersebut dengan tangan yang mulai menjelajah area punggung sampai bokong sang empu.


Revan mendorong tubuh Sarah perlahan, menghimpit tubuh indah tersebut diantara dirinya dan juga tembok. aroma tubuh Sarah tercium oleh Revan dan sukses membangunkan sesuatu dibawah sana dengan mudahnya.


"Mmm..." Sarah melenguh, sesekali matanya mengerjap merasakan bagaimana Revan menyapu punggung indah Sarah dengan lidahnya. "Van, aku pusing." rintih Sarah tidak karuan.


Seolah sudah dibutakan dengan kabut gairah, bahkan keluhan istrinya pun tak Revan dengarkan. pria jangkung itu terus saja menikmati setiap jengkal kulit istrinya, meninggalkan tanda-tanda kepemilikan diarea tertentu sebelum memperjauh permainan.


"Van," Sarah memalingkan tubuhnya, pandangannya mulai kabur. kepalanya semakin terasa berat, dan kembali dilanda rasa nyeri. "Sakit," Sarah kembali meringis mencengkram bahu Revan dengan kuat.


"Sar, kamu baik-baik ajah kan?" Revan mencoba menahan tubuh Sarah yang semakin melemah, hal terbodoh, kenapa Revan bisa sampai lupa bawasannya Sarah memang sedang tidak baik-baik saja. karena sebelumnya wanita tersebut sempat tidak sadarkan diri.


Bruag... Sarah langsung menjatuhkan tubuhnya begitu saja. untungnya dengan cepat Revan meraih tubuh itu hingga Sarah tidak tersungkur kelantai. Revan membawa tubuh lemah istrinya keluar kamar mandi, tak peduli meskipun keadaanya sedang basah dan belum dikeringkan. perlahan Revan meletakan tubuh Sarah diatas tempat tidur, ia meraih minyak penghangat diatas nakas untuk menyadarkan wanitanya tersebut.


"Sar, bangun Sar." ucap Revan sambil menepuk wajah sang istri perlahan. "Sar, jangan bikin aku cemas Sar."


Sarah sama sekali tidak memberikan reaksi apapun. sebenarnya kenapa? apa yang terjadi pada Sarah? kenapa ia sangat sering merasakan nyeri dibagian kepalanya. tidak habya itu, Sarah juga lebih mudah kehilangan tenaganya. sebagai seorang suami, tentu Revan khawatir. takut jika Sarah memiliki penyakit serius, atau ini semua ada kaitannya dengan Raka dan masa lalu Sarah lainnya.