Love By Accident

Love By Accident
Episode 60



"Mah..." Sarah terus menatap Riyanti dengan perasaan sedihnya. yang wanita itu tahu, jika Riyanti adalah seorang ibu yang tak berdosa. Sarah juga berpikir, jika Riyanti tidak mengetahui apapun perihal dosa yang dilakukan oleh Ayahnya.


"Kamu kesini?" sapa Riyanti santai. seolah tak ada beban.


Namun siapa sangka? dibalik sikap tenang Riyanti terdapat banyak begitu luka. Luka yang disebabkan oleh perselingkuhan. Luka dirinya yang menjadi wanita kedua dalam hubungan kedua orang tua kandung Sarah.


Siapa yang dapat mengerti itu semua? yang Riyanti inginkan hanya cinta dan kebahagiaan dalam lingkungan keluarga yang utuh. tidak seperti ini.


Berulang kali dirinya harus menghela nafas panjang untuk meredam rasa kesal dan amarahnya tersebut. bahkan jika dilihat sepintas, semua nampak bahagia. meskipun dibalik itu semua, Riyanti nyatanya hanyalah wanita egois yang begitu terobsesi akan cinta dan kebahagiaan.


"Ayo kita pergi dari sini, Mah." lirih Sarah mengajak.


"Ini rumah Mamah. kenapa kamu ngomong gitu?" tanya Riyanti mendekati Sarah lalu mengelus kepalanya.


"Papah jahat, dia udah bohongin kita semua." imbuh Sarah memecah tangisan memeluk Riyanti spontan.


Riyanti hanya mampu tersenyum getir. matanya memanas dengan bibir yang bergetar. ia tahu jika Sarah adalah seorang yang tidak mengetahui apapun, bahkan Riyanti juga berpikir. bukan hanya Darma yang membohongi buah hatinya. tapi dirinya sendiri adalah wanita egois, sejahat Darma.


"Maaf, tapi Mamah gak bisa pergi sama kamu." sahut Riyanti dingin.


Bagaimana jika Riyanti menuruti keinginan Sarah. tentu Darma tidak akan tinggal diam, ia pasti akan membawa putrinya lalu meninggalkan Riyanti. pada akhirnya Riyanti sendirilah yang akan kalah.


"Sarah..."


Pandangan Sarah teralihkan kepada sesosok pria paruh baya yang baru saja datang. siapa lagi jika bukan Darma. tapi sepertinya, pria itu belum mengetahui, jika Sarah sudah tahu akan semua kebusukannya.


"Kapan kamu dateng? mana Zoya? kamu sama Revan?"


Dengan mata menggenang, Sarah melangkah mendekati ayahnya. Sarah juga sudah tak bisa membendung kemarahannya. dengan air mata yang mengalir, Sarah pun berkata. "Penjahat, kamu lebih buruk dari Revan!"


Darma mengerutkan dahinya, "Apa maksud kamu, Sayang?" tanya Darma keheranan melirik kearah Riyanti.


"Cukup!" Sarah memekik sambil menujuk jengah kearah Darma. "Aku sama Mamah udah tau semuanya! jangan bersandiwara lagi."


"Sar..." Darma memincingkan matanya, sejenak ia menatap Riyanti yang terlihat acuh. "Papah bisa jelasin."


Darma memiringkan senyum, ia memijat pelipisnya perlahan lalu menatap kearah Sarah tajam. "Apa bedanya Papah sama suami kamu?"


"Seenggaknya Revan, gak pernah nyakitin orang-orang yang dia cintai. gak seperti Papah!" sahut Sarah dengan rahang yang mengeras.


Darma mengeratkan giginya, "Siapa yang Papah cintai? dan siapa yang Papah cintai?"


"Cukup, Darma!" Riyanti mencoba melerai, ia langsung membujuk Sarah untuk segera menjauh dari Ayahnya.


"Apa maksud, Papah?" tanya Sarah dengan ekspresi datar.


"Bukan apa-apa, sayang. tolong biarkan Mamah menyelesaikan masalah ini berdua sama Papah. kamu gak perlu ikut campur," bujuk Riyanti menenangkan.


"Tapi, Mah..."


"Mamah, mohon. kali ini ajah,"


Sarah tertegun, ia mengalihkan tatapan kejamnya kearah Darma kemudian berkata. "Oke! tapi inget, aku gak bakal biarin Papah terus-terusan nyakitin Mamah!"


Riyanti mengangguk, wajahnya sudah memucat disertai keringat dingin yang membasahi dahi. Riyanti takut, jika sewaktu-waktu Darma bisa saja kehilangan kendali. lalu pada akhirnya, ia bisa mengatakan segalanya pada Sarah.


Sesaat setelah Sarah sudah meninggalkan rumah tersebut, Riyanti menghela nafas panjang hingga ketegangannya bisa sedikit berkurang. sedangkan Darma, terus saja menatap tajam kearah Riyanti dengan tangan mengepal.


"Kenapa kamu nyuruh Sarah pergi? kamu takut dia tau?" ucap Darma bertanya.


"Dia gak perlu terlibat!" sahut Riyanti dingin.


"Lalu untuk apa kamu ngasih tau dia?" Darma mendalamkan lipatan di dahinya, "Kamu mau bersandiwara? kamu takut jika saya akan membawa pergi Sarah jauh dari hidup kamu."


"Hentikan Darma," Riyanti masih terlihat tenang, karena tak ingin pertengkaran ini terus terjadi.


Sebesar apapun pertengkaran itu terjadi. nyatanya semua tak akan bisa merubah kenyataan, jika Riyanti hanyalah seorang wanita sendirian. ia sama sekali tak berhak atas diri Darma dan juga Sarah.