
Riyanti hanya bisa tersenyum getir. sedari dulu ia memang tak pernah mendapat cinta dan ketulusan dari Darma. ia juga mengetahui scandal perselingkuhan sang suami. Namun, Riyanti memilih diam. karena tak ingin kehilangan sosok pria yang dicintainya berikut dengan Sarah. seorang anak yang sudah ia rawat dan besarkan seperti anak kandungnya.
"Kamu memang mengesankan, Revan," ucap Riyanti dengan seringai misterius sambil mengelus dan memandang foto Revan yang memeluk Sarah. "tapi tindakan kamu justru hanya akan menghancurkan hidup saya." sejenak Riyanti menyeka air matanya yang menetes, "Kamu salah Revan, kamu sudah berbuat kesalahan."
Sesaat Riyanti teringat bagaimana dulu Darma memperdulikannya. mengatakan cinta meskipun, Riyanti tahu jika itu semua hanyalah Darma lakukan atas satu tujuan. Riyanti juga teringat, bagaimana ia meminta seorang anak. lalu Darma mengabulkan semua itu dalam waktu yang singkat, meskipun pada akhirnya anak tersebut bukan lahir dari rahimnya.
Riyanti pikir, jika semua ia pasrahkan. lambat laun hidupnya akan terasa sangat bahagia. nyatanya tidak, cara Riyanti justru semakin membuat kehidupannya semakin sulit. bukan hanya cinta yang tulus yang tak pernah wanita itu dapatkan. kebencian dan luka terus saja menyelimuti dirinya hingga Riyanti sangat kesulitan untuk membedakan, mana yang membuatnya bahagia dan mana yang menyakiti dirinya.
****
"Van, dia siapa?" tanya Sarah sekali lagi penasaran.
Laura melangkah mendekati Revan, dengan sorot dingin mematikan wanita tersebut terus menatap Sarah penuh kebencian. "Yang kamu mau," ucap Laura sambil meraih tangan Revan dan meletakan beberapa berkas rahasia yang pernah Darma berikan.
"Van!" Sarah menarik tangan Revan hingga pria itu spontan memundurkan langkahnya menjauhi Laura. "siapa dia? itu apa?"
Laura memiringkan senyumnya, ia sangat menyukai bagian ini. sepertinya keputusan yang Laura buat adalah suatu hal yang tepat. sebab Sarah terlihat begitu kesal, dan menyimpan kemarahan. dan menurut Laura setelah ini, keduanya akan berselisih paham.
"Kamu tenang dulu, aku bisa jelasin." ucap Revan meraih kedua bahu sang istri penuh kelembutan.
"Iya, terus dia siapa?" cecar Sarah meninggikan suara.
"Dia jalan*gnya Papah kamu."
Sarah dan Laura nampak sama-sama terkejut. keduanya saling menatap dengan mata yang membulat.
"Bohong! keterlaluan kamu ya." Laura mendekati Revan lalu memalingkan tubuh pria itu agar menatapnya, "Bilang, dan jawab sejujurnya. kalo kita berdua ini punya hubungan!"
Revan spontan terkekeh, ia langsung melepas paksa tangannya dari Laura kemudian berkata. "Kalo mau berurusan sama gue, seenggaknya lo harus punya otak. gue gak mungkin bohongin Sarah dan nyembunyiin identitas lo dari dia."
Sarah terpaku, semua ini masih begitu sangat membingungkan. ia tak mengerti perihal semua yang Revan ucapkan dengan Laura.
"Maaf, kalo ini bisa bikin perasaan kamu terluka." Revan memberikan ponsel miliknya, dengan keadaan layar ponsel yang memutar rekaman, "tapi kamu harus liat ini."
"Baji*ngan lo, Revan!" Laura berusaha merebut ponsel tersebut. Namun, dengan cepat Revan langsung menghalanginya dan membiarkan Sarah melihat betapa rusaknya sang Ayah.
Sarah sedikit membuka mulutnya dengan mata yang menggenang. "Ini..." wanita itu tak kuasa menyaksikan rekaman tersebut lebih lama. "Papah, dia..."
Brukkk... Sarah langsung menjatuhkan dirinya yang kehilangan kesadaran. sepertinya sampai detik ini, Sarah masih saja memiliki keadaan pisik yang lemah. ia tak bisa menerima sesuatu yang mengejutkan, jika itu terjadi. maka Sarah akan langsung tak sadarkan diri.
"Sar..." Revan langsung meraih tubuh istrinya, semua penilaian Revan ternyata benar. Sarah akan terkejut, dan sulit untuk menerima kelakuan busuk Ayahnya. pria itu langsung mengangkat tubuh Sarah dan membaringkannya di atas sofa.
Laura terlihat begitu kebingungan. ia hanya bisa terdiam, karena tak tahu apa yang harus dirinya lakukan.
"Keluar lo sekarang," Revan langsung menyerer dan mendorong Laura keluar dari dalam ruangan. "Berani-beraninya lo datang kesini, dan bikin semuanya jadi kacau."
Laura meringis saat ia kehilangan keseimbangan, lalu jatuh tersungkur dihadapan Revan.
"Security..." Revan memekik penuh kemarahan, hingga semua pekerja yang berada di sana menghampirinya. "Cepet kalian bawa parasit ini keluar, kalo dia sampai masuk lagi. kalian semua saya pecat!" tegas Revan penuh penekanan.