Love By Accident

Love By Accident
Episode 26



"Ibu udah siapin makanan, sebelum Aden pulang. makan dulu sama Bapak, sekalian bawa buat Neng Sarah."


Revan mengangguk, setelah ia mendapat sedikit ketenangan pria itupun beranjak melangkah menuju meja makan untuk menyantap hidangan.


Bola mata Revan teralihkan pada sesosok pria paruh baya yang sedang memandangi sebuah foto gadis kecil. Revan mendekati pria tersebut, menyentuh bahunya perlahan kemudian berkata. "Pak?" sapa Revan lembut.


Pak Teguh, sesosok pria tersebut langsung memalingkan tubuhnya menghadap kearah Revan. semburat senyumnya tercipta, Pak Teguh bahkan menggenggam tangan Revan lalu menjawab. "Bapak kangen sama Tania," lirih pria paruh baya tersebut.


Revan memimpin langkah, sambil membawa Pak Teguh menuju meja makan. "Kita udah lakuin yang terbaik, Tuhan lebih sayang sama Tania."


Tentu Pak Teguh sudah bisa menerima kenyataan, jika kini putri kecilnya telah tiada. sama halnya seperti Sarah, tidak mudah merelakan seseorang yang dicintai pergi begitu saja dengan mudahnya.


Sesekali Pak Teguh merasa dirinya telah bersalah. tak habis pikir, ternyata dirinya pun akan mengalami hal serupa seperti yang di rasakan oleh istri Revan tersebut. akan tetapi dilihat dari sisi kebaikan Revan, pemuda itu sudah cukup banyak berjasa dalam hidupnya hingga Pak Teguh sendiri menyerah pada rasa bersalahnya.


Dari cara Revan dan keluarga Pak Teguh berinteraksi, sepertinya mereka memanglah sangat dekat. layaknya seperti hubungan orang tua dan anak, tapi Deon pernah mengatakan sebelumnya pada Natalie jika hubungan mereka hanyalah sebatas pembantu dan majikan saja.


"Gimana keadaan Neng Sarah?" tanya Bu Hanum memulai obrolan saat mereka sedang menyantap hidangan.


Reaksi Revan tentu tak akan berubah, ia hanya tersenyum getir setiap kali semua orang bertanya perihal keadaan istrinya. lantas apa yang akan Revan katakan? tidak mungkin jika dirinya harus membeberkan hubungan hambar tersebut pada setiap orang yang bertanya. sedangkan setiap kali mereka berhubungan badan, itu harus dengan paksaan. tak ada aura harmonis dan romantis, semua itu selalu saja dihiasi oleh suara tangisan dan rasa penyesalan. meskipun dari sisi Revan sendiri sudah berulang kali mengungkapkan kata-kata cinta, untuk mencairkan suasana.


"Revan!"


Spontan semua orang yang sedang berkumpul menyantap makanan tersebut melirik kesatu arah yang sama secara berbarengan.


"Sar, kamu..." Revan cukup terkejut, setelah melihat istrinya tau dan datang menemui dirinya di rumah Bu Hanum.


"Jadi bener, kamu disini. sama keluarga pembunuh ini." celetuk Sarah penuh kekesalan.


"Jaga bicara kamu!" bentak Bu Hanum merasa tidak terima, meskipun apa yang Sarah lontarkan adalah kebenaran.


Revan beranjak, dan langsung mendekati Sarah untuk berusaha menenangkannya. "Sebaiknya kita pulang,"


"Lepas!" Sarah menepis tangan Revan dengan keadaan marah, "Aku udah cukup sabar selama ini, aku bertahan dan diem bukan berarti aku lemah. aku berharap kamu mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, tapi kenyataannya enggak!" Sarah mulai meloloskan air matanya dengan sorot mematikan menatap Revan, "Kamu sama sekali gak pernah menampik apa yang aku tuduhkan. kamu sama sekali gak ngasih aku penjelasan, kamu jahat, Van. aku mau kita pisah! aku udah gak tahan!" jerit Sarah memecah tangisan.


"Gak ada yang perlu aku jelasin, aku cinta sama kamu! itu udah cukup!"


Bu Hanum dan Pak Teguh hanya bisa menyaksikan kedua pasangan muda tersebut bertengkar. mereka tidak mencoba membantu melerai, karena mereka sendiri tidak tahu harus berbuat apa. semua yang Sarah tuduhkan adalah kenyataan, dan mereka pun sama halnya seperti Revan. mengakui dan tak menampik hal tersebut.


"Kita bicara di rumah," ucap Revan dalam keadaan yang masih tenang penuh kesabaran.


"Jangan sentuh aku!" Dorongan kuat lagi-lagi Sarah berikan, "Mulai sekarang aku gak peduli lagi sama anggapan semua orang yang udah bilang aku sakit depresi berat, aku mau pulang ke rumah Mamah sama Papah! terserah mereka mau percaya atau enggak, yang jelas aku mau kita pisah!"


Revan menggenggam kuat tangan Sarah untuk melerai emosi sang istri, "Jangan kaya gini, kita selesaikan masalah di rumah." ucap Revan memohon tulus.


"Semua udah terlambat!" Sarah menarik tangannya dengan kasar, tanpa memberikan Revan kesempatan wanita itupun pergi negitu saja dengan keadaan amarah yang memuncak.


Tak sampai di sana, sepertinya Revan memang sangat mencintai Sarah melebihi apapun. pria itu bahkan langsung mengejar istrinya tanpa mengatakan apapun pada Bu Hanum dan Pak Teguh.


Revan cemas, Revan takut. ia khawatir jika sekarang Sarah akan benar-benar pergi tanpa memperdulikan kepercayaan orang lain terhadapnya. semua itu bahkan sudah Sarah katakan, ada ataupun tanpa dukungan dari seseorang Sarah akan tetap memutuskan hubungan rumah tangganya dengan Revan.


Dalam keadaan menangis, Sarah mengemudikan mobilnya pergi meninggalkan Revan. sepertinya Sarah memang sudah kehilangan kesabaran. harapan Sarah saat ia diam dan menerima keadaan, Revan bisa mengatakan apa maksud dan tujuan sebenarnya Revan membunuh Raka. nyatanya tidak, Sarah merasa dirinya hanya membuang-buang waktu dengan melakukan banyak hal bersama Revan yang sudah jelas adalah dalang dari segala permasalahan.


Revan memacu kecepatan penuh mobilnya, bagaimana tidak? Sarah sendiri melakukan hal yang demikian karena wanita tersebut sadar jika Revan sedang mengikutinya dibelakang.


Tak hentinya Revan mengirimkan pesan, melakukan panggilan melalui ponselnya untuk menenangkan Sarah beserta emosinya. Namun semua itu tak Sarah perdulikan, wanita tersebut terus saja menambah kecepatan laju kendaraanya.


"Sar, jangan nekat!" gumam Revan ketakutan sambil mengendarai mobilnya.


"Sial!" Sarah melihat jika didepan matanya sekarang ada sebuah lampu merah, sejanak wanita itu menelan salivanya kemudian menghembuskan nafas perlahan.


Bola mata Revan melebar, Sarah sama sekali tak melambatkan laju mobilnya. "Sar, jangan Sar!" batin Revan penuh kecemasan, "Sar, awas...." pekik pria tersebut sambil membuka jendela mobilnya meneriaki Sarah yang nekat menerobos lampu merah.


Bruakk...


Kecelakaan tak dapat terhindarkan, dari sisi kiri mobil yang Sarah kendarai terdapat sebuah truk besar yang menghantamnya hingga membuat mobil Sarah kehilangan kendali dan terpental dengan jarak yang cukup jauh.


"Sar..." Revan melemah, ia melihat jelas bagaimana mobil sang istri terdorong hancur oleh kendaraan besar tersebut. Revan terpaku, tenggorkannya tercekat pria itu bahkan langsung keluar dari dalam mobilnya sesaat setelah mobil Sarah sudah tebalik dengan jarak yang cukup jauh. "Sarahh..." Jerit Revan berlari kencang untuk segera melihat keadaan istrinya.


Percuma saja, beberapa orang yang berada di lokasi kejadian mencegah Revan. karena hal tersebut sudah bukan menjadi tanggung jawab sembarang orang.