Love By Accident

Love By Accident
Episode 53



Beberapa hari pun berlalu, setelah menjalani masa pemulihan di rumah sakit. Sarah akhirnya sudah diperbolehkan untuk pulang. kedua orang tuanya bahkan sudah di sana, meskipun antara Riyanti dan Darma memiliki tujuan yang berbeda.


"Gimana? masih sakit?" tanya Riyanti perhatian pada sang putri.


Sarah menganggukan kepalanya, sambil tersenyum tipis.


"Kita pulang sekarang," Riyanti membantu Sarah turun dari ranjang rumah sakit, meskipun terlihat sangat egois. wanita itu hanya takut, jika terjadi sesuatu pada Sarah meskipun Sarah bukanlah darah dagingnya. itu sebabnya Riyanti menjadi sangat khawatir.


"Dia pulang sama aku,"


Spontan Riyanti dan Sarah melirik ke satu arah yang sama dengan ekspresi datar.


"Sepertinya kamu masih berusaha, tapi maaf. saya tetap tidak akan mengijinkan kamu membawa Sarah." ujar Riyanti, dingin pada sang menantu.


Revan melirik kearah Darma yang terlihat pasrah, pria itu memiringkan senyumnya kemudian mengalihkan pandangan melangkah mendekati Sarah dengan santai.


"Akhirnya kamu bisa pulang," ucap Revan dengan binar kebahagiaan yang tercipta.


"Tapi, Van..." Sarah melirik kearah Riyanti penuh keheranan. "Papah sama Mam..."


"Kamu pulang sama, Revan."


Deggg...


Riyati terkejut dengan mata yang membulat, menatap Darma setelah mendengar pernyataan pria tersebut. "Apa maksud, Papah?" tanyanya heran.


Darma hanya terdiam, sejujurnya sekarang ia sedang menahan kesal. Darma juga tak menyangka, ternyata dirinya akan kalah oleh Revan, dan diharuskan mengikuti semua perkataan menantunya. atau jika tidak, citra Darma sebagai suami dan ayah yang baik akan dipertaruhkan.


Sarah sendiri tidak mengetahui tentang apa yang sebenarnya terjadi. bahagia, akan tetapi, rasa penasarannya terlalu mendominasi. semua pertanyaan itu muncul, apa ini? kenapa Darma mengijinkan Revan untuk membawa dirinya pergi? tentu Sarah sendiri menyadari, jika ada yang tidak beres antara Papahnya dengan Revan.


"Ayo, sayang." Revan membatu Sarah berjalan meninggalkan kedua orang tua tersebut. sedangkan bayi perempuan mereka, yang diberi nama Zoya, sudah dibawa lebih dulu oleh Ratna dan Arman.


Setelah Sarah sudah memasuki mobil, Revan begitu berhati-hati memperlakukan istrinya dengan sangat baik. tahu jika Sarah baru menjalani operasi, ia begitu takut jika mendengar Sarah meringis merasakan sakit di bagian perutnya.


Revan menghela nafas panjang, ia terus memperhatikan wajah Sarah kemudian berkata. "Jalan sekarang?"


Sarah mengangguk, tapi sebelum itu ia langsung meraih tangan Revan lalu bertanya. "Kenapa? sebenarnya ada apa?"


"Papah cuma mau yang terbaik buat, kamu."


Sarah menelan salivanya, entah mengapa jawaban yang Revan berikan tak cukup untuk memuaskan hasrat penasaran yang merundung pada Sarah sekarang. Sarah sangat mengenal Revan, meskipun proses kedekatan dan pengenalan yang mereka jalani terbilang cukup ekstrim. pria yang berada disebelah Sarah sangat sulit untuk berterus terang.


Mau bagaimana lagi? itu adalah kesepakatan antara Darma dan Revan. tak ingin dianggap sebagai pria yang mengingkari janjinya, Revan akan menjadikan rahasia Darma sebagai bom waktu. jika Darma lengah, rahasia itu akan meledak dengan sendirinya. dan jika semua itu terjadi, Revan akan kembali mengatur siasat dengan bakat liciknya untuk mengelabui semua orang terutama Sarah. agar wanita tersebut tidak kembali menyimpan kemarahan padanya.


"Sakit," lirih Sarah berkaca-kaca.


Revan langsung meraih tangan sang istri, menatap matanya dengan begitu intens. "Sakit? apanya yang sakit? ayo kita datengin lagi dokter."


Sarah menggelengkan kepalanya, air matanya berhasil lolos saat tangan Sarah perlahan meraih wajah tampan Revan lalu mengelusnya. "Hati aku sakit, saat kamu masih ajah gak bisa jujur dengan masalah yang lagi kamu sembunyiin sekarang.


Sejenak Revan menghela nafas kasar, lalu menggenggam tangan Sarah dan mengecupnya singkat. "Gak ada yang aku sembunyiin, kamu gak usah mikir yang aneh-aneh. yang terpenting sekarang, Papah udah ngijinin kamu ikut pulang sama aku."


Tetap saja ucapan Revan masih saja membuat Sarah dan perasaannya resah. memang ini yang Sarah inginkan, tapi bagaimana mungkin, seseorang yang awalnya sangat menolak keras kebersamaan antara Sarah dan Revan. pada akhirnya ia membiarkan ini semua dengan begitu mudah.


"Kamu gak perlu khawatir," Revan terus meyakinkan Sarah dengan sepenuh hatinya, sejenak pria itu terdiam lalu mengecup bibir sang istri guna melepaskan kecemasan Sarah yang berlebih.


Awalnya Sarah tak membalas ciuman yang Revan berikan, namun tak menampik jika ciuman ini sangatlah Sarah rindukan. Sarah sedikit membuka mulutnya, dengan tangan yang mengalung pada leher sang suami. kecupan dan luma*tan Revan berikan, pria itu tentu tahu, jika hal ini sangat Sarah sukai.


Perlakuan manis yang Revan berikan sukses membuat wanita itu merasa sangat-sangat dicintai. lidah keduanya saling memanggut saat cairan dari mulut mereka sudah saling menyatu.


"Ahhh..." Sarah melepaskan ciumannya perlahan sambil meringis.


"Kenapa, Sayang?" tanya Revan cemas.


"Sakit..." lirih Sarah mengeluh.


"Hati kamu?"


"Bukan..." Sarah mencengkram ujung dres yang ia kenakan. "Perut aku sakit,"


Kerinduan itu sampai melumpuhkan ingatan Revan, jika Sarah baru saja pulih setelah menjalani operasi. Revan hanya bisa tersenyum, merasa bersalah karena tak sengaja tangan nakalnya menyentuh perut Sarah secara spontan.