
"Kita harus cari cara buat bongkar semua kejahatan Revan, sebelum dia membuat hidup kita semakin kacau!" ucap Laura mengepalkan tangan menahan kekesalan.
Sedari awal memang Darma sudah berniat untuk mengakhiri permainan ini. ia ingin mengalahkan Revan dengan cara membongkar semua kejahatan kejinya, lalu menyeret pria itu kedalam sel tahanan polisi. Tentu semua itu tak mudah, Darma harus mencari titik kelemahan Revan dan sekarang ia sudah menemukannya.
"Sarah..."
Laura mendalamkan tatapannya kearah Darma saat pria paruh baya itu menyebut nama Sarah.
"Saya tahu kelemahan Revan," ucap Darma dengan seringai licik.
"Jadi maksud kamu?" Laura mendekati Darma lalu meraih tangannya, "Tapi dia anak kamu."
"Saya gak bakal lakuin apapun, kita buat Sarah sebagai tameng." tukas Darma menjelaskan.
Laura mengerti. meskipun nampak kejam, Darma memanglah sangat menyayangi dan mencintai putrinya. bahkan saat wanita itu meminta segelintir harta, Laura harus mati-matian membujuk Darma untuk mengalihkan saham yang seharusnya menjadi milik Sarah menjadi namanya.
Ditempat lain, Revan begitu terlihat sibuk menikmati waktu kebersamaannya dengan Sarah. mereka sudah seperti pengantin baru, selalu mesra dan terlihat panas.
Sesekali Revan berdebat dengan Sarah, lantaran ketidak setujuan wanita itu untuk ide konyol Revan yang selalu menitipkan Zoya pada Ibunya, Ratna. Revan selalu beralasan jika semua itu ia lakukan karena tak ingin terganggu menikmati masa indah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. seperti berkencan atau hal lain sejenisnya.
"Sar ini apa? tanya Revan meninggikan suara.
Mata Sarah seketika membulat, bagaimana bisa Revan mendapatkan selembar foto kebersamaan Sarah dan Raka di masa lalu? sepertinya ini akan menjadi masalah besar. sebab Revan hanya tahu jika kini Sarah sudah melupakan pria tersebut.
"Aku bisa jelasin," Sarah mendekati Revan dan langsung merebut selembar foto itu dari tangan Revan.
"Mau jelasin apa lagi? kamu masih cinta sama Raka? kamu gak bisa lupain dia?"
"Revan!" Sarah memincingkan matanya dengan gigi yang mengerat, "kamu jangan keterlaluan ya."
"Apa kamu bilang?" sejenak Revan memiringkan senyumnya, "Aku keterlaluan?"
Sarah berdecak sebal, sepertinya Revan tidak akan menerima penjelasan apapun. foto tersebut memanglah masih Sarah simpan, karena Sarah sendiri telah melupakan jika dirinya masih memiliki foto tersebut. sungguh, sejauh ini Revan berhasil menghapus Raka dari ingatan Sarah. ketulusan cinta Revan juga berhasil membuat Sarah terbebas dari masa lalunya.
"Aduh,"Sarah meringis sambil memegangi bagian perutnya hingga berhasil membuat raut amarah Revan berubah menjadi ekpresi cemas.
"Sar..."Revan langsung menghampiri Sarah dengan cepat dan meraih tubuhnya, "Kamu kenapa? perut kamu sakit lagi?"
"Yang mana, yang sakit? kita ke dokter sekarang."
"Tapi boong," celetuk Sarah datar.
Revan terdiam, pria itu kembali memandang Sarah dengan ekspresi kesal kemudian berkata. "Berani ya kamu boongin aku,"
Sarah menggelengkan kepalanya perlahan, wanita itu langsung mengalungkan tangannya di atas bahu Revan memandang sang pria intens. "Jangan marah, aku emang masih nyimpen foto itu. tapi aku sendiri udah lupa, kalo aku masih punya foto itu." Sarah mengelus wajah Revan lalu mengecup bibirnya singkat, "Kamu adalah kekasih sekaligus suami dan teman hidup aku. aku sekarang cinta Revan, bukan Raka."
Ungkapan itu terdengar begitu indah menusuk relung batin Revan. kata-kata yang Sarah ucapkan mampu membuat kemarahan Revan meredam. Revan sendiri bingung, kenapa ia bisa sampai tergila-gila pada Sarah. kecantikan dan bentuk tubuh wanita itu terasa sangat memabukan, rasanya Revan benar-benar sudah tak ingin melewati waktu dan momen kebersamaannya dengan sang istri.
"Van," Sarah menyandarkan kepalanya pada dada bidang milik Revan, "Aku mau ada dalam pelukan kamu terus. aku nyesel dulu selalu ngehardik kamu, setiap kali kamu nyentuh aku."
"Kamu lagi goda aku?" ucap Revan bertanya.
Sarah mengerutkan dahinya, wanita itu pun beranjak menciptakan jarak menjauh dari Revan. "Kamu kenapa sih sensitif banget? aku cuma lagi ngungkapin perasaan aku. gak lebih!"
"Ya kamu peluk-peluk aku, ngelus wajah aku. terus pake cara cium aku segala!" sahut Revan menyeringai.
"Oh jadi aku sebagai istri gak boleh peluk? gk boleh cium? gk boleh ngelus?"
Revan tersenyum simpul, ia kembali mendekatkan dirinya sambil mengelus kulit lembut Sarah lalu menghimpit tubuh wanita itu diantara tembok dan dirinya. "Boleh sayang, boleh banget malah. sekarang tanggung jawab."
"Tanggung jawab apa?" tanya Sarah heran.
"Ayo, kan semalem belum masuk. mumpung Zoya lagi sama Neneknya."
Spontan Sarah membulatkan matanya dengan mulut yang sedikit terbuka, seolah terkejut. "Revan! kamu mesum banget sih!" gerutu Sarah menghardik.
"Ayo sayang..." bujuk Revan sambil mengecupi wajah Sarah singkat.
"Gak mau!"
"Gak mau apa?"
"Gak mau nolak," imbuh Sarah dengan senang hati menerima cumbuan yang Revan berikan.