
Revan terus memijat pelipisnya sambil memikirkan kalimat-kalimat ucapan Sarah yang terlempar pada dirinya beberapa bulan yang lalu. ternyata semua yang Sarah katakan pada waktu itu seolah sudah menjadi bom waktu, yang sewaktu-waktu akan meledakan Revan dan juga kehidupannya.
Takut? tentu saja, bagaimana tidak? ucapan Sarah bukan hanya sekedar ancaman. bahkan wanita itu sampai mempertaruhkan hidupnya dan juga bayi yang ada dalam kandungannya demi bisa meninggalkan Revan. lantas, apa yang harus Revan lakukan sekarang? bagaimana jika Sarah benar-benar meninggalkan dirinya, menyeret Deon agar pria itu mengatakan kebenarannya dihadapan semua keluarga.
Hubungan Revan dan Deon sekarang memanglah sedang tidak baik-baik saja, sejak Deon mengetahui jika kecurigaannya memanglah fakta.
Rasanya Deon ingin memberikan sebuah penghargaan bergengsi pada Revan, sebab Revan sangatlah pandai memainkan permainan sandiwara hingga semua orang berhasil tak menaruh curiga. Deon juga sempat tertipu dengan keluguan Revan. seperti yang Deon ketahui jika Revan adalah pria yang tak berani membunuh meskipun itu hanya semut sekalipun.
"Bertahan, Sar! kamu harus membayar dengan menyerahkan seluruh hidup kamu cuma buat aku!" gumam Revan dengan rahang yang mengeras.
Entah apalagi rencana yang akan Revan jalankan, bagaimana Revan bisa menjamin Sarah akan menutup mulutnya jika wanita itu sadar? tidak mungkin Revan akan menggunakan bayinya sebagai alat ancaman. sedangkan Sarah sendiri pernah mencoba menantang maut bersama dengan bayi dalam kandungannya.
"Bangun!" tegas Revan meninggikan suara menatap Sarah tajam.
Tak ada reaksi yang wanita itu berikan. Sarah masih saja menolak sadar, meskipun dokter sudah mengatakan jika kondisi tubuh wanita tersebut sudah baik-baik saja.
"Van..." lirih Sarah dengan suara yang lemah.
Mata Revan membulat, Sarah menggerakan tangan dan bahkan memanggil namanya.
"Revan..."
Spontan pria itu meraih tangan Sarah dan menggenggamnya, Revan bahkan langsung menyetuh dahi Sarah dan mengelus pucuk kepalanya. "Aku disini, Sayang." ucap Revan penuh kekhawatiran.
Sarah mulai membuka matanya perlahan, menangkap sedikit cahaya yang terlihat samar. nafas Sarah terdengar sangatlah berat, bahkan dari mata indahnya sampai keluar cairan bening yang berhasil lolos melalui pelupuknya.
"Aku udah matikan?" tanya Sarah dengan suara beratnya melebarkan senyuman.
Revan tertegun, tatapannya menajam sambil mengeratkan genggaman. "Kamu gak akan pernah bisa lepas dari aku," tegas Revan.
Sarah mengerjap, ia melepaskan tangannya dari Revan dengan sorot mata yang teralihkan untuk menghindari tatapan. "Mungkin aku gagal, tapi ini bukan akhir!"
Revan mengerutkan dahinya dengan sorot mata penuh keheranan, "Apa maksud kamu?"
"Aku bakalan lakuin apapun, supaya aku bisa terlepas dari kamu! meskipun nyawa aku sendiri taruhannya!" pekik Sarah penuh kemarahan dengan mata yang melotot tajam.
"Oh jadi semua itu bener? kamu sengaja nyelakain diri kamu sendiri cuma buat pisah sama aku?"
"Gak habis pikir aku sama kamu, kamu ngelakuin itu untuk kepentingan pribadi diri kamu! sampai tega mempertaruhkan nyawa bayi kamu sendiri." sejenak Revan terkekeh, "Ibu macam apa kamu, Sar?"
Deg... Sarah terdiam, wanita itu terpaku dengan bibir yang bergetar. tangannya langsung dengan cepat menyingkap selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya kemudian berkata, "A... aku hamil?" tanya Sarah terbata dengan mata yang menggenang.
"Sandiwara apa lagi ini, Sar? kamu mau pura-pura gak tau? supaya aku gak nganggep kamu seorang Ibu yang kejam?"
"Aku gak tau!" Jerit Sarah memecah tangisan.
Revan terdiam, ia semakin dibuat keheranan dengan ekspresi terkejut sang istri.
"Kenapa aku harus hamil? ini gak mungkin, aku gak mau!" Sarah histeris. ia langsung kehilangan kendali dan bahkan memukul-mukul perutnya sendiri karena tak terima jika ia sedang mengandung bayi dari seorang pembunuh seperti Revan.
"Cukup, Sar!" Revan mencoba menenangkan sang istri, ia meraih tangan Sarah dan langsung memeluknya. "Jangan sakitin bayi aku!"
"Aku gak sudi punya anak dari seorang pembunuh seperti kamu!" pekik Sarah terisak. Sarah bahkan mendorong Revan agar pria itu menjauh dan tidak menyentuhnya, teriakannya cukup nyaring, sampai semua orang yang berjaga langsung ikut serta menyaksikan apa yang sedang Revan dan Sarah lakukan.
"Sayang, ada apa? kenapa kamu nangis? kamu udah sadar?" ucap Riyanti bertanya dan berniat ikut menenangkan.
"Mah," Sarah memeluk erat sang Ibunda, ia bahkan langsung menyembunyikan wajahnya karena sudah tak ingin melihat Revan, "Usir dia, Mah. dia pembunuh! dia orang yang udah ngancurin masa depan aku sama Raka." lirih Sarah terisak.
Sontak pernyataan Sarah sukses membuat semua orang disekelilingnya terkejut.
"Jaga bicara kamu, anak saya bukan pembunuh!" tegas Arman yang tak terima.
"Kenyataanya Revan yang udah bunuh Raka! kalo kalian semua gak percaya kalian bisa tanya semua ini sama Deon. aku gak boong," Sarah mendongakan wajahnya menatap Riyanti penuh kesedihan, "Tolongin aku, Mah. aku mau pisah sama Revan! aku gak mau hidup sama pembunuh! aku mau gugurin bagi ini, aku gak mau punya anak dari seorang pembunuh kaya Revan!"
"Revan, apa ini? kenapa Sarah kamu pembunuh?" tanya Arman penuh kekesalam mencecar sang putra.
Revan menggelengkan kepalanya cemas, "Sarah cuma belum bisa merelakan kepergian Raka, Pah. itu buka masalah." sahut Revan gugup.
"Bohong!" Sarah dengan keras membantah apa yang Revan katakan. "Kamu pembohong! kamu penipu! kamu pembunuh!" Sejenak Saah mengalihkan tatapannya kearah Arman, "Kalo kalian gak percaya, kalian semua bisa tanya hal ini sama Deon!"
Apa ini? bagaimana jika Deon mengatakan kebenaran itu dihadapan keluarga Revan dan juga Sarah? tak hanya akan kehilangan Sarah, Revan juga akan berakhir dipenjara.
Ketakutan Revan terjadi, Sarah benar-benar membongkar segalanya tanpa memperdulikan apapun. sungguh Revan sudah terjebak atas permainannya sendiri jika Deon mengiyakan apa yang Sarah katakan.