
Cup... Revan bahkan kembali merengkuh bibir Sarah tanpa istrinya sadari. wanita itu terlalu sibuk berperang dengan perasannya, hingga pada saat Revan mencuri kesempatan pun Sarah selalu terlambat untuk menyadarinya dan tidak sempat untuk melontarkan tolakan.
Pria yang sedang mencium Sarah itu begitu sempurna, bergelimang harta dengan paras yang mempesona. siapa yang akan menolak jika seorang istri diperlakukan serupa oleh para suaminya? sayangnya kesempurnaan tersebut harus dikotori oleh fakta jika Revan adalah pembunuh Raka.
"Cukup, Van." Sarah memalingkan wajahnya melepaskan ciuman dengan kepala tertunduk, "Aku mau ke kamar." tukas Sarah memundurkan tubuh pria jangkung tersebut.
"Biar aku anter," Revan langsung mengangkat tubuh Sarah hingga kembali membuat sang istri terkejut.
"Van, lepasin. aku bisa sendiri," gerutu Sarah mengerutkan dahi kesal.
Revan tak menggubrisnya, dengan begitu kuat Revan membawa sang empu dalam gendongan menuju lantai atas. apa yang bisa Sarah lakukan? gadis itu hanya terus menekuk wajahnya sambil memandang lekat wajah sang suami.
Kaki Revan mulai memijak pada satu-persatu anak tangga dihadapannya, hal ini menjadi suatu keuntungan besar karena Sarah merasa sedikit ketakutan lalu pada akhirnya mengalungkan tangannya pada leher sang suami hingga membuat senyum Revan kembali berkembang.
"Van, turunin. aku takut," pinta Sarah dengan suara parau.
Namun Revan berhasil melewati tangga tersebut dan membawa Sarah masuk kedalam kamar tanpa harus membuat wanita itu merasakan kelelahan.
Perlahan tubuh Sarah, Revan baringkan di atas ranjang. pria itu tak langsung menjauhi sang istri, Revan justru mengarahkan tangannya untuk membelai wajah sang istri penuh kelembutan.
"Enggak, aku gak boleh nyerah! dia itu pembunuh." batin Sarah meyakinkan dirinya agar tidak kembali terlena dalam sentuhan Revan.
"Aku kangen kamu, Sayang." ucap Revan sambil perlahan memangkas jaraknya mendekati wajah sang empu.
Sarah membenarkan posisi berbaringnya memunggungi Revan.
"Kamu takut ya, Sar?" tanya Revan menggoda sambil mengarahkan tangannya menuju perut sang istri lalu mengelusnya.
"Ta... takut?" sejenak Sarah menghentikan ucapannya, "i... iyalah aku takut, kamu kan pembunuh."
Revan mengikuti apa yang Sarah lakukan, pria itu berbaring disisi Sarah, dengan posisi tubuhnya menghadap pada sang istri dan menyikukan tangan sebagai alas kepalanya.
"Ahhh, kenapa harus sekarang." rengek Sarah dalam hati, saat merasakan ada sesuatu yang mengeras dari balik celana Revan menyentuh bo*kongnya.
"Kamu kenapa, Sayang? kok diem." tanya Revan, pria itu bahkan langsung menyentuh wajah istrinya dan memalingkan wajah tersebut agar Sarah membalas tatapannya.
Wanita itupun terlihat sangat gugup saat dua bola matanya bertemu dengan mata indah milik sang suami. Sarah menelan salivanya bersusah payah lalu kemudian berkata, "Ja... jangan deketin aku sekarang." cetus Sarah terbata.
Revan tak menanggapinya, pria itu hanya terus memiringkan senyum seolah sedang mengatur siasat licik dalam pikirannya.
Cup... Revan kembali mencuri kesempatan saat wanita itu sedang bicara.
"Mmm...." Sarah mencoba menolak, tapi nyatanya tenaganya tak cukup kuat untuk menyingkirkan tubuh pria yang sekarang sudah berada diatasnya tersebut. "Amm, Van. aku lagi hamil," pekik Sarah sebelum mulutnya kembali terbungkam oleh bibir Revan.
Bukan Revan jika tidak membuat konsep dan rencana yang matang dalam sesuatunya. dalam urusan ranjang pun pria itu sudah mencari tahu, bagaimana bercinta dengan sang istri yang sekarang dalam keadaan hamil, sepertinya semua itu akan segera Revan lakukan.
Lidah Revan terus menerobos masuk kedalam rongga mulut Sarah saat wanita itu terus saja menolak dengan cara merapatkan bibirnya. apa gunanya? sentuhan tangan Revan yang menari-nari diatas kulit indah Sarah pun berhasil membuat wanita tersebut tersambar api gairah.
Tak terbantahkan, seluruh tubuh Sarah sudah menegang. bagian kecil di pucuk gundukan sintalnya pun sudah mengeras, tentu itu semua adalah ulah Revan. pria itu mere*mas dan me*milin bagian kecil tersebut hingga sukses membuat Sarah merasakan nikmat.
Sarah mulai terbiasa, meskipun tidak membalas pada akhirnya wanita itu membuka mulutnya dan membiarkan lidahnya dengan milik Revan saling bertautan.
"Enggak, aku lagi hamil. aku takut," gumam Sarah dalam batinnya.
Gelora kenikmatan itu semakin membara, pada saat ciuman Revan turun menelusur area leher sampai pada dua gundukan milik istrinya. Revan mencium dan mengecup bagian tersebut dengan sangat rakus, tak lupa Revan meninggalkan tanda-tanda cinta diarea itu lalu kemudian lidah Revan kembali menyapu bersih bagian kecil pada bagian gundukan Sarah.
"Ahhhmmmm, Van." lenguh Sarah menahan, sulit untuk dipungkiri setelah sekian lama dirinya hanya berkutat dengan kemarahan dan rasa benci pada akhirnya Sarah menerima sentuhan itu meskipun sesekali dirinya melontarkan tolakan kecil agar tak dianggap murahan.
Sejenak Revan menarik tubuhnya, untuk melempar seluruh pakaian yang masih terpakai. sedangkan Sarah memilih untuk menutupi wajahnya menggunakan selimut saat menyadari jika Revan akan menghempas seluruh penutup tubuhnya.
"Van, tapi aku lagi hamil." tegas Sarah seolah memperingatkan.
"Gapapa," Revan kembali menyentuh tubuh istrinya, menarik tangan wanita itu dan membawa Sarah kedalam pangkuan Revan.
Sarah menelan salivanya, dan dengan gugup wanita itupun berucap, "Ma... mau ngapain?"
Revan kembali mencium Sarah, membantu wanita itu melepaskan mini dressnya. sentuhan Revan sangatlah memabukan, pria itu bahkan berhasil membuat Sarah mengikuti apa keinginannya tanpa harus menggunakan paksaan seperti sebelumnya.
"Ahmm..." Sarah kembali melenguh saat wajah Revan sudah tenggelam diantara buah dada sang istri, sesuatu yang selalu saja berhasil membuat Sarah terasa melayang, "Ahhh, Van..." Sarah sudah tak bisa mengontrol mulutnya saat merasakan bagian yang mengeras milik Revan itu sudah memasuki lubangnya.
Revan semakin bersemangat, rasanya tetap sama seperti saat dirinya baru pertama kali melakukan hubungan ranjang itu dengan Sarah. begitu sempit dan mencengkram, terlebih saat ini milik Revan benar-bebar terasa ditenggelamkan saat posisi Sarah yang berada duduk tepat di atas pangkuannya.
Gerakan pinggul Sarah yang tentu saja dibantu oleh Revan sukses membuat pria itu merasa jika dirinya adalah seorang perjaka. Revan sampai berkeringat, meskipun durasi permainan baru setengah dari yang biasa ia lakukan.
"Ahh, Sar..." Revan langsung membaringkan tubuh Sarah, tanpa melepaskan penyatuannya. pria itu menghentak tubuhnya, menyentuh titik terdalam lubang surga tersebut karena sudah merasa jika dirinya akan segera mencapai puncak.