
Revan membuka matanya perlahan, ia begitu terpengaruh dengan kecantikan Sarah meskipun dalam keadaan terpejam. pria itu sedikit menggeser tubuhnya penuh kehati-hatian agar tidak membangunkan sang empu.
Sarah bahkan sudah mulai larut dalam dekapan Revan, bahkan bisa dikatakan posisi tidur wanita itu sama sekali tidak berubah, justru malah semakin intens.
"Van..." Sarah mendongak, menatap wajah prianya dengan tatapan sendu. "Jangan pergi," pinta wanita tersebut tersenyum tipis.
Revan menelan salivanya, ia terus membalas tatapan Sarah sambil berpikir keras. "Kenapa Sarah berubah?" batin Revan bertanya.
Wanita itupun kembali memejamkan matanya dalam dekapan Revan, dengan keadaan tubuh telanjang yang masih menempel pada tubuh si pria. Sarah bahkan menggenggam erat tangan Revan, dan meletakan tangan tersebut di atas perutnya. "Aku mau, kamu. ngelus perut aku." ucap Sarah dengan mata tertutup.
Revan menyetujuinya, dengan perasaan heran pria itupun mengabulkan permintaan Sarah. Revan semakin mendekap istrinya, mengelus perut wanita itu penuh kasih sayang.
"Kenapa, Sar? kenapa tiba-tiba kamu kaya gini?"
Sarah kembali membuka matanya, wanita itu bahkan menyentuh lembut wajah Revan kemudian menjawab, "Aku mau kamu jujur." ucap Sarah dengan suara terendah.
Revan menggenggam tangan Sarah yang menyentuh wajahnya, pria itu semakin menenggelamkan dirinya di dua bola mata indah milik sang empu lalu berkata. "Jika aku jujur, apa kamu akan percaya?"
Sarah mengalirkan setetes air matanya, sejenak ia tertunduk kemudian menganggukan kepalanya dengan cepat.
Revan mendongakan wajah Sarah agar kembali menatapnya, "Tapi kamu cinta sama Raka, kamu tentu bakalan lebih percaya sama orang yang kamu cinta dari pada aku."
"Aku butuh jawaban, aku butuh penjelasan, Van." lirih Sarah terisak.
Flashback lagi...
Hancur, mungkin itu yang Revan rasakan saat melihat kekasihnya bermain api dengan sahabatnya sendiri. malam itu, setelah hujan deras mengguyur kota, Revan memutuskan untuk menemui Kalila, seseorang yang sangat ia cintai. meskipun keduanya baru menjalin hubungan selama beberapa bulan.
"Mobil Raka?" ucap Revan saat pria itu mengenali pemilik kendaraan yang terparkir di depan rumah sang kekasih. "Mereka saling kenal?"
Pria jangkung itupun langsung mematikan mesin mobilnya, Revan meraih beberapa cemilan yang sengaja ia bawakan untuk kekasihnya. ia mulai turun, meninggalkan mobilnya begitu saja tanpa memikirkan posisi parkir, sejauh ini Revan masih bisa berpikir dengan jernih. ia tak ingin menanamkan kecemburuan tanpa adanya bukti yang kuat.
Revan mendorong kuat pintu utama kediaman Kalila yang tidak terkunci, pria itu mulai memperdalam langkahnya mengabsen setiap sudut ruangan. bahkan saat Revan sudah berada diruang tamu, tidak ada tanda-tanda keberadaan Kalila dan Raka di sana.
"Sayang," pekik Revan memanggil.
Namun tak ada jawaban, Revan mulai menelusuri setiap ruangan yang memungkinkan jika Raka dan Kalila berada disana. tapi nyatanya tetap sama, pria itupun tak menemukan kekasih dan sahabatnya.
"Kamar," Revan langsung memutar badan, melangkah cepat menuju lantai atas untuk mencari keberadaan mereka.
Gelak tawa Kalila mulai terdengar, sejenak Revan memperlambat langkahnya sambil mendengarkan suara kekasih dan sahabatnya tersebut.
"Gimana kalo Revan tau? dia cinta banget sama aku. kalo tiba-tiba dia lamar aku, terus kita menikah dan aku udah gak gadis lagi gimana?"
Revan tahu jelas jika itu adalah suara Kalila.
"Revan gak akan tau, selama kamu gak bilang." ucap Raka yang terdengar melekat di daun telinga Revan.
Emosi Revan kian memuncak, hatinya terasa hancur. pria itu sejenak menghela nafas panjang untuk menata emosinya agar tidak semakin meluap.
"Lusa kita bertiga bakalan ajak kalian, dan kita harus pura-pura gak saling kenal. aku juga bakalan ajak Sarah," ucap Raka sambil mengenakan kembali kemejanya.
Kalila mendengus kesal, "Tapi aku masih cinta sama kamu! aku gak bisa liat kamu sama Sarah!"
Raka terkekeh, pria itu bahkan mengelus wajah Kalila penuh kelembutan kemudian menjawab. "Kita udah gak ada hubungan apa-apa lagi, lagian kamu kan sekarang udah punya Revan."
"Tapi kenapa sekarang kamu nidurin aku?" tanya Kalila jengkel.
"Kan kamu bilang kangen sama aku, jadi aku kesini. kita tidur kan atas dasar suka sama suka." sejenak Raka mengecup bibir Kalila singkat, "Jangan mempersulit keadaan. aku udah obatin rasa rindu kamu, dan sekarang kita jalanin hidup masing-masing."
"Tapi Rak..."
"Kalo kamu kangen, aku bakalan dateng kesini dan nemuin kamu."
Revan mengepalkan tangannya, ia yang masih berdiri didepan pintu kamar Kalila itupun seketika teringat dengan ucapan Raka.
"Gue gak mungkin rusak cewek gue, kalo kebelet tinggal cari yang lain. dan Sarah, tetep harus peraw*an sampai nanti gue nikahin dia."
Bruak...
Kalila dan Raka spontan melirik kesatu arah yang sama dengan raut wajah terkejut.
"Van," Kalila menelan salivanya sambil membenarkan selimut yang menutupi tubuh telanjangnya.
Raka mendekati Revan, "Gue bisa jelasin."
Revan hanya tersenyum kecut penuh kekecewaan, pria itu terus menatap tajam kearah Kalila kemudian berkata. "Gue gak perlu penjelasan apapun lagi, semua ini udah lebih dari cukup."
"Van, tapi aku..."
"Cukup," Revan memutar badan melangkah meninggalkan Kalila dan Raka begitu saja. ketenangan pria itu memang patut diacungi jempol, dalam keadaan semenyakitkan itupun Revan masih bisa menata emosinya agar tidak meluap.
"Van..." Raka mencoba mengejar, "Tolong jangan bilang ini sama Sarah." pinta Raka memohon.
Revan terkekeh, ia memalingkan tubuhnya menatap Raka dengan sorot mata jijik.
"Gue... maksud gue, tolong gue bisa selesain ini."
"Van," Kalila mencoba meraih tangan Revan untuk memohon maaf, tapi pria itu justru langsung menepisnya.
"Jangan sentuh gue!" tegas Revan meninggikan suara.
"Oke, gue bakalan tanggung jawab." Raka menelan salivanya dengan bersusah payah, "Tolong jangan cerita apapun dulu ke Sarah."
Benci, kecewa, ia merasa dikhianati oleh kekasih sekaligus sahabatnya sendiri. tak ada satu katapun yang keluar dari mulut Revan, pria itu memilih pergi karena sudah muak melihat kedua penghianat tersebut.