Love By Accident

Love By Accident
Episode 38



Masih Flashback...


Revan terpukul, kepercayaannya benar-benar telah dihancurkan. meskipun sepintas hubungannya dengan Raka terlihat baik-baik saja, dibalik itu semua ternyata Revan telah menyimpan begitu besar kebencian


Sejauh ini ia masih menghargai persahabatan yang sudah mengikat dirinya dengan Raka selama beberapa tahun. meskipun sikapnya sedikit lebih dingin, ia tak pernah melupakan untuk datang ke sebuah club tempat dimana ketiga pemuda tampan itu menghabiskan waktu bujangannya bersama.


Deon mengerti, rasanya memang tidak mudah menerima kenyataan pahit tersebut. Deon juga berpikir, jika hal itu ada di posisinya mungkin untuk menatap wajah Raka dan menemuinya saja terasa sangat tidak mungkin.


Saat Sarah dan pacar Deon sebelum Natalie datang, Revan begitu santainya bergabung dengan mereka semua tanpa membawa pasangan. siapa yang akan Revan bawa? pria ini tentu adalah pria dewasa yang tidak mudah menjalin hubungan dengan sembarang wanita. sekalipun untuk bermain-main saja, Revan akan menjadi tipekal pria pemilih agar tidak tersandung masalah yang sama seperti Raka.


Sorot mata tajam Revan terus tertuju pada Sarah, hal itu semakin membuat Raka takut saat kekasih Sarah tersebut menyadarinya. Raka terus dihantui rasa bersalah, karena dalam hal ini Revan masih bisa menjaga sikapnya tanpa mengeluarkan kata-kata.


Ingin rasanya Revan terkekeh, begitu mendengar Sarah yang dengan begitu santai memuji kebaikan Raka padanya. dari ucapan Sarah sendiri Revan mengklaim, jika Raka sangat pintar menyembunyikan kebusukannya hingga Sarah begitu terpikat dengan kelembutan pria tersebut.


"Pacar kamu kemana, Van?" tanya Sarah saat wanita itu mulai sadar jika hanya Revan lah yang terus saja terdiam.


Raut wajah datar Revan tercipta, sejenak pria itu melirik kearah Raka kemudian menjawab. "Abis tidur,"


Sarah terkekeh, "Sama ya kaya aku, suka tidur."


"Sama Raka..."


Deon dan Raka melirik kearah Revan secara bersamaan, sedangkan kedua wanita yang berada di sana sepertinya salah persepsi mendengar tentang apa yang Revan katakan.


"Enggaklah, Raka tuh baik. dia gak mungkin nidurin aku sebelum kita menikah," sejenak Sarah menghentikan ucapannya menggenggam erat tangan Raka sambil memandang lekat bola matanya. "Dia sendiri yang bilang, kalo dia gak mungkin ngerusak aku sebelum kita terikat janji suci pernikahan."


Ketegangan Raka dan Deon tak berhenti di sana, mereka masih takut jika Revan akan membongkar kebusukan Raka didepan Sarah dan membuat kacau segalanya. padahal memang maksud Revan adalah demikian, dan Sarah tidak menyadarinya.


Revan menghela nafas panjang, pria itu langsung memecah tawanya seolah sedang menertawakan kepolosan Sarah yang telah dibodohi oleh kekasihnya.


"Kok malah ketawa? aku lebay ya?" tanya Sarah dengan raut wajah polos.


"Van, lo gila ya?" pekik Naomi heran, kekasih Deon sebelum Natalie.


Revan berlalu pergi begitu saja meninggalkan mereka tanpa mengatakan satu patah katapun. barulah Raka merasa dirinya sudah tidak terancam saat salah satu sahabatnya tersebut sudah keluar dari ruangan.


"Dia kenapa sih?" tanya Sarah penasaran pada Raka.


Sedikit ugup, Raka menggelengkan dengan kepalanya cepat menanggapi pertanyaan Sarah. "Dia, aku... mungkin dia lagi ada masalah sama Kalila."


Langit bahkan begitu terlihat suram, tak ada gairah kebahagiaan setelah kejadian menyakitkan itu berlalu. kepada siapa Revan harus mengadu? Deon? itu semua tidak mungkin karena bagaimana pun tugas Deon adalah memperbaiki hubungan renggang antara Raka dan juga Revan. tentu jika Deon memihak kepada Raka ataupun Revan mereka bertiga akan kehilangan salah satunya. dan persahabatan yang sudah lama terjalin tersebut akan hancur.


"Den," Bu Hanum mulai menghampiri Revan sambil membawakan secangkir kopi yang biasa ia hidangkan, "Ibu mau bicara."


Revan mencoba menyembunyikan masalahnya, ia tersenyum tipis kemudian menjawab. "Kenapa, Bu?"


"Ibu mau mengundurkan diri."


Revan menatap tajam Bu Hanum dengan dahi yang mengerut, "Kenapa?"


"Suami Ibu sekarang sudah dapat pekerjaan, Anak Ibu sakit keras. gak ada yang jagain dia sekarang," ujar Bu Hanum memberikan alasan.


"Kerja apa?" seolah tak keberatan, posisi Bu Hanum yang sudah seperti ibunya Revan pun benar-benar terlihat saat obrolan itu berlangsung tanpa adanya kecanggungan.


Bu Hanum pun terduduk disebelah Revan, "Sopir muatan di salah satu pabrik."


Revan mengangguk, pria itupun meraih beberapa uang yang tersedia di dalam sakunya lalu memberikannya pada Bu Hanum. "Ini gaji bulan ini, berikut dengan pesangon dan ongkos Ibu pulang besok."


Perlahan Bu Hanum meraih uang tersebut dari tangan Revan, kemudian menelan salivanya dan berkata. "Anu Den, jika boleh Bibi mau pinjam uang 20 juta buat biaya oprasi anak Bibi yang lagi sakit."


Revan berpikir keras menatap wajah tua Bu Hanum, entah apa yang sedang pria itu pikirkan. di detik berikutnya Revan tersenyum sambil mengangguk seolah mengiyakan permintaan Bu Hanum.