Love By Accident

Love By Accident
Episode 63



Setelah menyelesaikan aktifitas hariannya, Sarah dengan santai menyandarkan tubuhnya di pembatas ranjang. karena ada pekerjaan penting, Revan di haruskan pulang sedikit terlambat. meskipun pasangan tersebut terlibat pekerjaan di dalam perusahaan yang sama.


Sarah berpikir, berapa lama dirinya tidak bertemu Zoya. ia sangat merindukan bayi kecilnya. entah apa maksud dan tujuan Revan sebenarnya, pria itu terus saja melarang Sarah untuk menemui bayi menggemaskan tersebut, selama beberapa waktu kedepan.


"Neng," Sarah melirik kearah pintu saat suara ketukan dan panggilan terdengar mengusik daun telinganya.


"Iya, Bi." pekik Sarah menjawab, ia lantas bergegas melangkah untuk membuka pintu kamar tersebut. "Ada apa?" tanya Sarah setelah pintu terbuka.


"Nyonya Riyanti datang. ia mau ketemu sama Neng Sarah." ucap pelayan tersebut menyampaikan.


Dengan raut wajah datar, Sarah mengangguk. ia pun langsung mengekor mengikuti langkah pelayan untuk segera menemui Riyanti yang sedang menunggu di lantai dasar.


Sarah mengklaim jika kedatangan Riyanti bukan hanya sekedar kebetulan. wanita paruh baya yang masih terlihat cantik tersebut sepertinya memang memiliki suatu tujuan penting.


"Mah," sapa Sarah menghampiri.


Riyanti tersenyum tipis, ia langsung memeluk Sarah untuk melepas kerinduan setelah beberapa hari tidak bertemu.


Meskipun bukan Ibu kandungnya, kasih sayang yang Riyanti berikan pada Sarah patut diacungi jempol. Riyanti mendidik dan mewariskan kelembutannya pada Sarah, meskipun sesekali Riyanti sendiri sering kehilangan kendali atas emosinya.


"Mamah mau bicara sama, kamu." ucap Riyanti memulai pembicaraan.


Seolah mengiyakan, Sarah pun membawa tubuhnya untuk duduk tepat di samping sang Mama sambil memandang sendu Riyanti penuh kekhawatiran.


"Langsung ajah ke intinya," Riyanti meraih dan menggenggam tangan Sarah perlahan. "hentikan Revan, tolong jangan biarkan dia menganggu Papah lagi." imbuh Riyanti memohon.


Sarah terpaku, ia sedikit kesulitan mencerna ucapan permohonan Riyanti padanya. meskipun memang awalnya, Sarah mengetahui keburukan sang Ayah dari Revan.


Riyanti menghela nafas kasar, ia semakin menajamkan tatapannya kearah Sarah lalu kembali berkata. "Kamu gak pernah tau, siapa Papah sebenarnya." sejenak Riyanti menghentikan ucapannya, karena berpikir. "Maaf, tapi Mamah harus bahas masalah ini lagi. bagaimana pun Revan adalah seorang pembunuh. Mamah gak mau Revan dan Papah terlibat dalam satu masalah besar. bisa ajah setelah ini mereka akan saling menyerang, atau bahkan saling menghabisi nyawa sekalipun."


Deg... Sarah tertegun, matanya memanas seolah tidak percaya. ia tak menyangka jika sampai sekarang Riyanti masih saja menyeret masa lalu Revan yang telah melenyapkan Raka kedalam urusan pribadinya.


"Revan itu orang baik, ia gak mungkin ngelakuin sesuatu tanpa adanya alasan." lirih Sarah dengan suara bergetar.


"Mamah ngerti, kamu hanya sedang memposisikan diri kamu sebagai istri." Riyanti mengerjap, menjatuhkan setetes air matanya. "Apa jaminannya kalo Revan sekarang bener-bener sudah berubah?"


Seketika ingatan Sarah langsung tertuju pada bagian dimana Revan dengan begitu kejam membuat skenario pembunuhan Raka menjadi sebuah kasus kecelakaan.


"Enggak," Sarah menepis tangan Riyanti dan menciptakan jarak dari wanita tersebut. "Mamah cuma lagi bikin aku ragu, supaya aku bisa ninggalin Revan!"


Riyanti hanya bisa tersenyum getir aetelah mendengar pernyataan Sarah, "Terserah kamu. setidaknya Mamah udah ngingetin kamu. sebelum terjadi sesuatu, sebaiknya kamu berjaga-jaga." celetuk Riyanti, lalu beranjak meraih tasnya dan pergi begitu saja meninggalkan Sarah.


Detak jantung Sarah spontan berpacu, titik keraguan dan rasa takut Sarah kembali datang. sejujurnya ia tak ingin larut dalam ucapan Riyanti. Namun, bagaimanapun juga Darma adalah Ayahnya. bagaimana jika ucapan Riyanti itu benar? jika Revan bisa melakukan sesuatu yang buruk pada Ayahnya tersebut.


"Mah," Sapa Revan setelah pria itu tak sengaja berpapasan dengan Riyanti di halaman depan.


Riyanti mengembangkan senyumnya, ia menghampiri Revan dan berdiri tepat di hadapan pria tersebut. "Kamu memang mengesankan," ucap Riyanti memuji dengan seringai misterius mengelus bahu Revan perlahan.


Revan mengerutkan dahinya, tindakan yang Riyanti berikan nampaknya cukup membuat pria itu kebingungan. bahkan saat Revan belum sempat mengatakan sesuatu, Riyanti berlalu begitu saja tanpa senyuman yang memudar.


"Kenapa?" gumam Revan datar.