Love By Accident

Love By Accident
Episode 31



Suara bel dan ketukan pintu pun terdengar oleh daun telinga Riyanti. wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itupun akhirnya mendekati pintu tersebut lalu kemudian membukanya untuk melihat siapa yang datang.


"Revan...." sapa Riyanti mengukir senyuman pada sang menantu.


Revan yang dikenal dengan sifat tenang dan keramahannya itupun membalas senyuman yang dilemparkan oleh Riyanti kemudian berkata. "Mah, aku kesini mau jemput Sarah." ucap Revan menjelaskan apa maksud dan tujuannya datang.


Senyuman itu memudar, bukan karena tak suka karena sang putri akan dibawa pergi oleh suaminya. Riyanti hanya merasa kasihan, karena ini bukanlah kali pertama Revan datang untuk menjemput Sarah sejak wanita tersebut sudah keluar dari rumah sakit.


Sarah selalu menolak, ia sudah mengatakan secara gamblang jika wanita itu tak ingin hidup kembali bersama dengan Revan. permintaan perpisahan sudah berulang kali Sarah lontarkan, meskipun hal itu tak pernah Revan kabulkan. beruntung Sarah sedang mengandung sekarang, jadi meskipun wanita itu menggugat paksa, pihak pemeroses tak akan pernah menanggapinya.


"Tapi Sarah..."


Revan mengangguk dengan senyuman yang tak memudar, "Aku gak masalah, tolong Mamah jangan marah kalo aku bakalan sedikit memaksa Sarah. bagaimana pun Sarah sekarang adalah tanggung jawab aku sepenuhnya."


Riyanti tentu akan mengiyakan ucapan Revan, sebab dirinya juga sudah sering membujuk Sarah agar sang buah hati dapat segera kembali untuk memperbaiki hubungan itu dengan suaminya.


Revan selalu saja terlihat sempurna, ketenangan pria itu selalu sukses membuat kedua orang tua Sarah percaya jika Revan bisa dan mampu membahagiakan Sarah. sebab dari sisi pemikiran mereka sendiri, ini semua adalah kesalahan Sarah yang tak pernah bisa merelakan kepergian Raka dan menganggap Revan sudah cukup sabar dalam menghadapi emosi Sarah.


"Mah aku gak mau!" lirih Sarah merengek.


Riyanti hanya terdiam, menyaksikan bagaimana putrinya di tuntun lembut oleh Revan.


"Mah, dia orang jahat. aku gak mau," jerit Sarah memecah tangisan.


Revan terus membawa Sarah menuju kendaraannya, pria itu bahkan langsung memasukan Sarah kedalam mobil lalu menguncinya. Revan mengalihkan sorot matanya menatap Riyanti yang kini hanya bisa melihat dan mendengar jerit tangis Sarah tanpa melakukan apapun.


"Maafin aku, Mah. aku pamit," ucap Revan dengan sopan berpamitan.


Riyanti menganggukan kepalanya perlahan. ia cukup merasa kasihan terhadap Revan yang terlihat begitu tenang menghadapi Sarah. sampai pada akhirnya Revan memasuki mobilnya dan mulai pergi membawa Sarah dari hadapan Riyanti.


"Van!" Sarah menatap lekat Revan dengan sorot mematikan, "Aku mau kita pisah! kenapa kamu terus maksa aku!" pekik Sarah penuh amarah.


"Cukup Sar, jangan uji kesabaran aku!" sahut Revan dingin.


"Berapa kali sih aku harus bilang ini sama kamu? aku mau pisah!" jerit Sarah dengan emosi yang memuncak.


Tak ingin terpancing, Revan langsung meminggirkan mobilnya dan menghentikan laju kendaraan tersebut. pria itu mengerjap, menghela nafas panjang untuk menata emosinya agar tidak meluap seperti yang Sarah lakukan.


"Aku benci kamu, aku benci kamu, Van. benci," pekik Sarah melotot tajam.


"Tapi aku cinta kamu," sahut Revan spontan.


Sarah tertegun. mungkin jika Revan bukanlah pembunuh Raka, Sarah bisa menerima Revan bahkan dengan mudahnya Sarah akan jatuh cinta pada pria tersebut. sikap dan cara Revan menghadapi Sarah selalu saja membuat wanita itu melemah, kebenciannya selalu mencair setiap kali Revan mengungkapkan kalimat-kalimat cinta meskipun terkadang emosi dan amarahnya lebih mendominasi.


"Jaga emosi kamu," Revan meraih wajah Sarah dan mengelusnya. "Kamu harus mikirin calon bayi kita."


Astaga, Sarah benar-benar menguji kesabaran Revan. pria itu bahkan langsung menghela nafas kasar lalu kembali menginjak pedal gas mobilnya, memacu kecepatan hingga membuat Sarah ketakutan.


"Apa Revan marah?" gumam Sarah bertanya, wanita itu bahkan mengalihkan sorot matanya menatap wajah Revan yang terlihat begitu dingin dengan seringai misterius.


"Kamu keterlaluan, Sar." batin Revan kesal.


Sarah hanya bisa terpejam, ia dirundung ketakutan dengan tangan yang mencengkram kuat ujung dress yang sedang wanita itu kenakan.


"Be... berenti, Van." pinta Sarah cemas.


"Kamu suka bukan? ngebahayain calon bayi kita?" ucap Revan dengan maksud menyidir.


"Udah aku bilang, aku gak tau!" sahut Sarah menjerit.


"Kamu gak mau bayi itukan? oke! aku bakalan ikutin apa mau kamu, kita mati bertiga sekarang." ucap Revan santai sambil menambah kecepatan mobilnya.


Sarah menelan salivanya bersusah payah, ia mengeratkan pegangan tangannya dengan raut wajah penuh kekhawatiran. "Kamu jahat, Van. kamu baji*ngan," lirih Sarah meloloskan air matanya.


Cup... Revan mengecup bibir Sarah tepat pada saat mobil yang ia kendarai sudah terparkir sempurna digarasi. Revan memeluk Sarah, mencium bibir wanita itu dengan penuh kelembutan untuk melerai ketakutannya meskipun pada saat itu Sarah terus menolak dengan merapatkan bibirnya sambil mendorong Revan untuk menolak pelukan.


"Aku kangen kamu, Sar." ucap Revan dengan suara parau, pria itu mengunci kedua tangan Sarah, membelai wajah dan sesekali mendaratkan ciuman di bagian pipi sang empu.


"Lepasin aku!" titah Sarah memaksa.


Revan menggelengkan kepalanya perlahan, sambil mengembangkan senyuman. "Aku gak mungkin lepasin kamu, susah payah aku dapetin kamu sampai harus lenyapin Raka. patuh sama aku, dan semua akan baik-baik ajah."


"Gak usah mimpi," celetuk Sarah emosi, "Cwihh..." wanita itu bahkan melemparkan Salivanya tepat kewajah Revan.


"Sarah!" Merasa tak terima, Revan menajamkan tatapannya pada sang istri dengan cengkraman tangan yang semakin menguat. "Keterlaluan!"


Revan keluar dari dalam mobilnya, dengan emosi yang sudah kian memuncak pria itu menyeret Sarah keluar lalu menggendongnya dengan paksa.


"Lepas, turunin aku!" pinta Sarah memberontak.


"Kamu udah ngabisin kesabaran aku," Brukk... Revan melempar Sarah keatas sofa penuh kekesalan.


"Revan! aku lagi hamil."


Pria itu terkekeh sambil mendekati Sarah lalu mencengkram wajahnya. "Sejak kapan kamu peduli sama bayi itu? bukannya kamu pernah bilang mau gugurin dia?"


Sarah terdiam, ia hanya bisa menangis sambil tertunduk dengan perasaan takut yang semakin menyelimutinya.


"Denger ya, Sar. kalo kamu berani nyakitin anak aku, aku bakalan pastiin hidup kamu selamanya bakalan menderita!" tegas Revan mengancam.