Love By Accident

Love By Accident
Episode 44



KECEPATAN UP TERGANTUNG KOMENTAR...


Ditempat lain, waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam. Sarah terus saja menghubungi Revan melalui ponsel, bahkan tak sedikit pesan kekhawatiran yang Sarah kirimkan pada sang suami.


"Dia kemana sih? tumben jam segini belum pulang." gumam Sarah dengan ekspresi cemas.


Semakin lama Sarah menunggu, justru kekhawatiran yang Sarah rasakan semakin menyelimutinya. bahkan Sarah mulai merasa tidak nyaman dengan perasaannya, ia bahkan kembali memikirkan sesuatu yang belum tentu akan terjadi. Sarah benar-benar takut jika terjadi sesuatu yang buruk menimpa suaminya sekarang.


Sarah meraih ponselnya, ia langsung mengarahkan jari-jari lentiknya menyentuh layar ponsel untuk segera menghubungi Deon dengan maksud menanyakan keberadaan Revan.


"Hallo, Deon... ada Revan gak?" tanya Sarah setelah Deon mengangkat panggilannya.


Tak ada suara yang Sarah dengar, padahal jaringan ponsel saat itu sedang cukup bagus.


"Hallo, Deon. kok kamu diem?" ucap Sarah kembali bertanya.


"Mmm... emang Revan belum pulang, Sar?" sahut Deon kembali bertanya.


Sarah mengerutkan dahinya, setelah mendengar jawaban dari Deon. wanita itupun sangat yakin, jika sebelumnya Revan datang ke sana untuk bertemu dengan pria tersebut.


"Belum, ponselnya juga gak aktif. gak biasanya dia kaya gini." lirih Sarah penuh kecemasan.


"Oke, gue sama Natalie ke sana sekarang."


"I... iya,"


Panggilan pun langsung terputus seketika, Sarah kembali menghubungi Revan dan mengirimkan pesan yang begitu banyak pada sang suami.


"Van, ayo dong. jangan bikin aku cemas!" gumam Sarah dengan mata menggenang.


Sarah terus saja berperang dengan pikiran kotornya, sesekali ia membayangkan jika sekarang Revan sedang bersama wanita lain. dan bahkan Sarah berpikir jika Revan sedang mempermainkannya saja sekarang, untuk membalas sakit hati karena sebelumnya Sarah sangatlah keterlaluan.


Wajar jika Sarah berpikir demikian, karena sebelumnya Revan akan selalu memberikan kabar melalui pesan singkat. bahkan ketika Sarah terus saja mengabaikan Revan, pria itu terus saja memberikan perhatian meskipun Sarah saat itu masih menyimpan begitu besar kebencian.


Dimana Revan sebenarnya? apa yang sedang Revan lakukan? kemana perginya pria itu? pertanyaan tersebut terus saja berkutat dalam pikiran Sarah.


"Apa aku udah bikin dia kesel? kenapa dia tiba-tiba kaya gini." rengek Sarah setengah frustasi.


"Revan kemana? kenapa dia belum pulang?" lirih wanita itu bertanya, dengan sorot mata melirik kearah Natalie dan Deon secara bergantian.


Deon menelan salivanya, ia spontan langsung teringat akan ucapan Revan. bahwa sebelumnya Revan pernah berkata, jika dirinya ingin menyerahkan diri pada pihak polisi.


"Deon, kemana Revan? tadi kalian ketemu kan? kemana dia sekarang?" tanya Sarah mencecar.


Deon menatap Sarah, kesedihan dan kekhawatiran yang Sarah rasakan memanglah sangat terlihat jelas. "Gu... gue gak tau, Sar. tapi tadi dia bilang, kalo dia pengen nyerahin diri."


Deg...


Sarah sejenak menghentikan tangisannya, wanita itu tertegun dengan raut wajah datar menatap Deon. "A... apa maksud kamu? Nye... nyerahin diri?" seketika dada Sarah terasa sesak, bibirnya terasa kelu dengan tubuh yang mulai bergetar.


"Deon! cukup!" tegas Natalie, yang seolah tidak setuju jika kekasihnya mengatakan hal itu pada Sarah. bagaimana pun semua itu dapat mempengaruhi Sarah berikut kehamilannya. "Bohong, Sar. Revan gak bilang kaya gitu kok."


Deraian air mata Sarah semakin deras. wanita itu langsung mencengkram tangan Natalie kemudian berkata, "Jujur, bilang sama aku. dimana Revan sekarang?!" pekik Sarah memecah tangisan.


"Sar, tenang. Revan pasti pulang." Deon mencoba melerai Sarah dan emosinya.


"Tenang? tenang kamu bilang? gimana aku mau tenang kalo aku tau suami aku mau nyerahin diri ke polisi, sedangkan aku lagi hamil." jerit Sarah histeris.


Sarah langsung mendorong Natalie, wanita itu dengan cepat melangkahkan kakinya untuk mencari keberadaan Revan.


"Sar..." Natalie mencoba menghentikan wanita tersebut.


"Aku mau cari Revan, lepas!" Sarah menepis kasar Natalie. ia bahkan sudah kehilangan akal dan sulit untuk bersikap santai.


"Sar, tenangin diri kamu dulu! jangan gegabah!" tegas Natalie memekik.


"Aku gak mungkin bisa tenang, kalo Revan dipenjara gimana dengan nasib aku sama bayi ini." Sarah terus saja menitikan air mata, tubuhnya sampai melemah saat ia mulai kembali merasakan rasa sakit di bagian punggung. "Revan, aku gak mau kehilangan dia. aku gak mau kehilangan ayah dari bayi aku, Nat." isak Sarah sambil memeluk tubuh Natalie.


Natalie sangat mengerti kecemasan dan rasa takut yang Sarah rasakan. semua itu tidak hanya untuk dirinya saja, melainkan untuk buah hati yang masih ada dalam kandungannya.


"Sar..." Natalie langsung membulatkan matanya saat tubuh Sarah mulai terkulai lemas, bahkan Natalie sampai kehilangan keseimbangannya saat berdiri ketika Sarah benar-benar sudah tidak sadarkan diri. "Deon, Sarah pingsan!" ucap Natalie pada sang kekasih.