
"Menurut kamu, Sarah tau gak kalo dia hamil?" tanya Natalie pada Deon yang sedang membelai rambutnya.
Pria itu hanya terus mengelus pucuk kepala kekasihnya, tatapannya kosong, raut wajah Deon sudah seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu. hal itu juga sudah Natalie sadari sejak keduanya diberi tahu jika Revan adalah pembunuh Raka.
"Deon," Natalie meraih wajah kekasihnya penuh kecemasan. "Kamu kenapa?" tanya Natalie perhatian.
Deon hanya tersenyum tipis, lalu mengalihkan sorot dengan kepala yang menggeleng perlahan. sebenarnya Deon juga tak ingin menyembunyikan sesuatu dari sang kekasih, tapi pria itu rasa masalah yang menyangkut Raka dan Revan tidak seharusnya ia ceritakan pada Natalie.
Deon bahkan mengklaim, jika Sarah sengaja mencelakai dirinya sendiri hanya untuk membalaskan dendam yang sudah mengakar dalam hatinya.
"Aku pusing, kepala aku sakit." ucap Deon mengalihkan pembicaraan.
Natalie yang notabane-nya adalah sesosok wanita yang sangat mencintai Deon pun langsung terkejut penuh kekhawatiran, wanita itu langsung menempelkan dua tangannya pada pipi Deon kemudian berkata, "Sayang. kamu sakit?" rengek Natali bertanya cemas.
"Aku baik-baik ajah, aku istirahat dulu." sahut Deon beranjak menjauhi kekasihnya.
Natalie terlalu sensitif, ia tak bisa diabaikan begitu saja. kecemasan itu langsung bercampur dengan rasa kesal akibat dinginnya sikap Deon terhadapnya. meskipun ini bukan masalah antara hubungan mereka, tetapi Natalie yakin jika ini ada kaitannya dengan Sarah, Revan, dan juga Raka.
***
Gelar suami siaga memanglah patut diberikan kepada Revan sekarang. karena sudah beberapa hari lamanya, ia meninggalkan pekerjaan dan hal penting lainnya untuk menemani sang istri yang sedang terbaring lemah di rumah sakit.
"Dok, udah seminggu lamanya, tapi Sarah masih belum juga sadar. sebenarnya apa yang terjadi pada istri saya, Dok?" tanya Revan khawatir.
Dari segi pemeriksaan yang Dokter lakukan sendiri tidak menunjukan bahwa adanya gejala serius yang sedang Sarah derita. wanita itu sukses melewati masa kritisnya, untuk sekarang tekanan darah dan jantungnya berkerja dengan baik. sesuatu yang Dokter itu sendiri sulit untuk menjawab, sebab keadaan Sarah sekarang bisa dikatakan normal dan stabil.
"Sarafnya berfungsi dengan baik, tapi sepertinya Istri Anda menolak untuk sadar."
Revan mengerutkan dahinya penuh keheranan, "Apa maksud dokter? Sarah sudah sadar?"
Dokter itu menggelengkan kepalanya, "Tidak, saat seseorang tidak menginginkan kehidupan. mereka akan memaksakan diri meskipun itu adalah suatu ketidak mungkinan,"
"Jadi..."
"Seperti yang kita ketahui, Istri Anda memicu kecelakannya sendiri. dan sekarang ia menganggap dan memaksakan untuk mati, bahkan perasaan dan organ tubuhnya bertolak belakang. seharusnya Sarah sudah sadar." sejenak dokter itu tersenyum dan menepuk bahu Revan, "Bersabarlah, semua akan baik-baik saja."
Revan memandang lekat wajah istrinya, setelah mendengar pernyataan dokter tersebut Revan akhirnya mengklaim jika Sarah memanglah sengaja membahayakan dirinya untuk menciptakan kecelakaan agar ia bisa memenuhi dendam pada suaminya tersebut.
"Segitu cintanya kamu sama Raka, sampai kamu bahayain anak dalam kandungan kamu!" Revan memincingkan matanya dengan tangan yang mengepal, "Kamu harus tau ini Sar, kalo sampai terjadi sesuatu sama calon anak aku. kamu harus bertanggung jawab!" tegas Revan penuh penekanan.