
"Lo kenapa sama, Revan?" tanya Deon penasaran pada Raka.
Beberapa hari ini Revan dan Raka memang terlihat tidak baik-baik saja. mereka tidak saling bicara dan hanya saling menatap sinis meskipun sedang berada dalam satu ruangan.
"Gapapa," sahut Raka kikuk.
"Sayang...."
Ketiga pemuda itu spontan melirik kesatu arah yang sama.
"Sar, kamu disini?" tanya Raka dengan raut wajah memucat melirik kearah Revan.
Sarah mengangguk, gadis itu langsung memeluk dan mencium pipi Raka dengan sangat santai dihadapan Deon dan juga Revan.
"Kenalin, dia Revan. kalian belum sempet ketemu," ucap Raka gugup.
Sarah mengangguk sambil mengukir senyum di wajah cantiknya, gadis itupun mengulurkan tangannya pada Revan karena memang ini adalah kali pertama keduanya saling bertemu. berbeda dengan Deon, beberapa kali Raka mengajak Sarah untuk pergi bersama Deon dan juga kekasihnya, tanpa adanya Revan.
"Hay, Van. aku Sar..." belum sempat gadis itu menyelesaikan ucapannya, Revan langsung beranjak mengabaikan Sarah begitu saja.
"Gue balik," ucap Revan dingin pada Deon.
Terjadi keheningan dalam waktu singkat, saat Revan bersikap sangat acuh pada Sarah. bahkan pria itu sama sekali tak menatapnya.
"Lo kenapa, Van?" tanya Deon penuh keheranan mencoba mengejar.
Bruak... Semua orang tersentak, saat Revan dengan sengaja membanting daun pintu dengan begitu kasar. tak hanya Deon saja, tentu Sarah sendiri keheranan melihat sikap Revan yang terlihat begitu benci dan marah kepadanya.
"Lo sama Revan kenapa?" tanya Deon mencecar Raka.
Raka menelan salivanya, kemudian menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Gue gak tau,"
"Sayang, kok dia kaya benci gitu sama aku." ucap Sarah menatap lekat kelasihnya.
"Lagi ada masalah pribadi kali," celetuk Raka dengan ekspresi datar.
Drtt... Drtt...
Revan melirik kearah rokoknya yang masih menyala, bukan perokok yang aktif, pria itu hanya menghisap benda tersebut sesekali saat dirinya dalam kondisi yang terbilang rumit. bisa dikatakan sekarang Revan sedang menyimpan begitu banyak masalah, hal itu terlihat jelas saat Revan terus menatap langit-langit ruangan kerjanya sambil sesekali meneguk segelas vodka yang tersedia.
Isak tangis Sarah terus terdengar meskipun Revan sama sekali tak terganggu, kesedihan Sarah sukses mengguncang perasaanya. siapapun akan bersikap demikian saat orang yang dicintai terlihat sedang dan sangat dirundung kesedihan.
Lantas, apa yang harus Revan lakukan? berbagai cara sudah Revan usahakan. nyatanya itu semua tak membuahkan hasil, hanya kalimat perpisahan yang terus Sarah lontarkan, sehingga memicu kekesalan yang terus saja Revan pendam. mungkin caranya cukup menyakitkan, tapi dibalik itu semua Revan benar-benar menaruh harapan besar. ia sangat mencintai Sarah, bahkan Revan akan memberikan nyawanya sekalipun jika Sarah memintanya.
Sarah terduduk sambil memeluk kakinya dengan wajah yang terus ia sembunyikan. tangisannya terdengar sangat berat, bahkan beberapa makanan yang sudah Revan siapkan terlihat sangat berserakan. sepertinya Sarah telah melempar itu semua dan menolak untuk mengisi perutnya, tan?a memperdulikan kehamilannya sedikitpun.
"Sar..."
Wanita itu mendongak, ia menatap Revan lekat yang saat itu datang menghampirinya.
"Jangan begini, demi bayi kita." ucap Revan menenangkan, pria itu bahkan mengelus wajah Sarah dan pucuk kepalanya dengan kedua bola mata yang berbinar.
"Aku mau pulang," lirih Sarah terisak.
"Pulang?" Revan tersenyum tipis dan membawa wanita itu kedalam pelukannya. "Ini rumah kamu, Sayang. rumah kita berdua."
"Van, tolong jangan paksa aku." Sarah mencengkram kerah kemeja yang dikenakan oleh suaminya dengan kuat, "Aku gak bisa."
Revan mengangkat tubuh istrinya, ia berjalan membawa wanita itu keatas ranjang tempat tidur lalu merebahkannya.
"Van..." lirih Sarah memohon.
"Ustt," Revan meletakan telunjuknya diatas bibir Sarah, tangan Revan yang lain mulai mengelus perut wanita tersebut yang sedikit membuncit. "Demi bayi kita," ucap Revan memohon.
Sarah menggelengkan kepalanya, seolah menolak keras keinginan Revan.
"Terserah kamu," Revan menempelkan wajahnya tepat diatas perut Sarah sambil sesekali mencium perut tersebut penuh kasih sayang. "Jangan sakitin dia lagi, dia gak salah."
Sarah tertegun, tatapannya semakin dalam dan sepertinya Sarah sedang memikirkan sesuatu setelah mendengar permintaan Revan.
"Kalo kamu butuh sesuatu bilang sama aku, semua keinginan kamu bakalan aku penuhin. kecuali pisah," ujar Revan kemudian mendaratkan ciuman pada bibir Sarah.