
"Van, lepas. aku pusing," lirih Sarah sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.
Entah itu alasan atau suatu kebetulan, Sarah selalu saja merasakan sesuatu yang bisa saja menggagalkan aktifitas intim mereka. Revan yang sudah tidak bisa menahan diri pun terus mengecupi setiap inci bagian di leher Sarah dengan penuh hasrat.
"Van," Sarah memukul Sarah, dan sesekali mendorong tubuh kekar Revan yang sedari tadi terus menghimpit tubuhnya. "Aku pusing, aku sakit lepas!" titah Sarah penuh kekesalan.
Revan mengerutkan dahi dengan tatapan yang semakin menajam. tindakan Sarah bukanlah keluhan atas rasa sakitnya, semua yang Sarah lakukan barusan lebih terlihat seperti penolakan, "Kenapa?" dengan raut wajah dingin Revan pun melemparkan pertanyaan.
"Aku sakit," sahut Sarah sambil meringis, memundurkan tubuhnya di atas ranjang, menjauhi Revan.
Revan memiringkan senyum, "Kamu nolak aku lagi? ini alesan kamu atau emang kamu gak mau aku sentuh?" Revan terus mencecar Sarah, mungkin ia sudah tidak bisa mentoleransi sikap istrinya lagi.
"Van, cukup!" Sarah memejamkan matanya sejenak, tangannya meremat kuat sprei tempat tidur yang sedang ia duduki.
"Maaf kali ini aku gak bisa!" Revan dengan tatapan mematikan mulai mendekati Sarah.
"Van, apa maksud kamu?" Sarah mengerjap memulihkan penglihatannya yang sedikit kabur.
"Ini yang seharusnya aku dapetin dari dulu!" Revan meletakan tangannya di atas bahu Sarah, ia mulai mendekatkan wajahnya pada sang istri hingga kini mata mereka saling bertemu dengan jarak yang sangat dekat.
Entah apa yang harus Sarah lakukan, tangannya bergetar. kepalanya semakin terasa sakit, sungguh ia sendiri tak mengerti kenapa hal ini terjadi.
"Udah saatnya, Sar. kamu harus bisa terima kenyataan kalau sekarang kamu adalah milik aku," tegas Revan penuh penekanan.
Bibir Sarah bergetar, ia mencoba terus mengendalikan dirinya agar terus sadar menghadapi Revan. "Van, aku..."
"Kamu milik aku, Sar!" Revan langsung merengkuh bibir Sarah, mendorong tubuh gadis itu hingga Sarah terbaring dibawah tubuh Revan.
Tak ada gubrisan, Revan terus menyapu bersih tubuh Sarah yang sudah dalam kendalinya. tak ada perlawanan yang Sarah berikan, meskipun bibirnya menolak. pakaian keduanya bahkan sudah terhempas ke sembarang arah, Revan kembali menin*dih Sarah lalu memainkan dua benda padatnya dengan sangat rakus.
"Enggak, lepasin aku!" lirih Sarah tidak berdaya.
"Kamu istri aku!" Revan mencengkram wajah Sarah hingga bibir gadis itu memoncong, "Kamu harus keluar dari masa lalu kamu!"
Sarah mulai kehilangan tingkat kesadarannya, matanya mulai terpejam tubuhnya semakin terasa ringan.
"Maafin aku, Sar!"
Dalam keadaan tak sadarkan diri sekalipun, Sarah masih sangat terlihat cantik. hidung dan pipi yang sedikit merona semakin membuat gadis tersebut terlihat menggoda. Revan mengelus wajah Sarah, mengamati setiap jengkal tubuh indah yang sudah tak berpenghalang tersebut.
"Kamu cantik, Sar." puji Revan sambil mengelus perut rata istrinya penuh penghayatan.
Kecupan singkat Revan daratkan, Revan menciumi dan meninggalkan noda-noda cinta diatas kulit Sarah dengan kelembutan. tak perduli dengan kondisi Sarah, yang ia inginkan adalah mendapatkan sesuatu yang sudah seharusnya Revan dapatkan sejak dulu.
Meskipun pada akhirnya mungkin Sarah akan kecewa dan menganggap Revan egois, sejauh ini dirinya sudah cukup bersabar untuk tidak menikmati tubuh istrinya. toh mereka juga sudah menikah, tak ada salahnya jika Revan meminta haknya kapan saja.
Hasrat Revan telah membutakan segalanya, ia benar-benar tak lagi memikirkan Sarah dan perasaannya. Revan sudah tak bisa menunggu lagi, ia bahkan tak memperdulikan apa yang akan terjadi jika Sarah sadar, dan terbangun dengan keadaan dirinya yang sudah tergagahi oleh Revan. meskipun ingin melakukan hal tersebut dengan rasa saling menginginkan, melihat perlakuan Sarah yang terus menolak sepertinya Revan akan kesulitan.
Sarah sendiri terus menolak Revan dan lebih memilih untuk terjebak dalam masa lalunya. hingga pada akhirnya Revan terpaksa harus memaksa Sarah agar keduanya bisa menjalani kehidupan rumah tangga yanh normal.
Revan sudah memposisikan dirinya diantara dia tungkai kaki Sarah, sungguh melihat ketidak berdayaan Sarah membuat Revan sedikit ingin mengurungkan niatnya.
"Lo harus lakuin ini, Sarah gak akan bisa keluar dari masa lalunya kalo lo gak tegas!" batin Revan bergumam. "Maafin aku, Sar! aku terpaksa ngelakuin hal ini," Revan sudah membulatkan tekadnya untuk meniduri Sarah. harapannya, setelah ini Sarah akan mengerti dan lebih bisa menerima kenyataan jika dirinya sudah tersentuh seutuhnya oleh Revan.