Love By Accident

Love By Accident
Episode 27



Revan terus terdiam dengan diselimuti rasa takut dan kekhawatiran. tubuhnya bergetar hebat, wajahnya memucat saat terbesit dalam pikirannya jika ini semua adalah karma.


"Enggak, itu gak mungkin!" ucap Revan tidak karuan.


Tentu ia mengingat betul bagaimana kejadian ini menimpa Raka sebelumnya, kecelakaan yang membuat Sarah hancur tidak berdaya. sepertinya kekhawatiran inilah yang dulu pernah Sarah rasakan sebelum pada akhirnya Raka meninggal.


Revan yang sedang berdiri didepan ruangan oprasi itupun hanya bisa mondar-mandir tidak jelas. yang ia takutkan sekarang adalah, Sarah meninggal lalu dirinya bisa merasakan apa yang pernah Sarah alami sebelumnya, yaitu ditinggalkan oleh orang yang ia cintai begitu saja.


Kedua orang tua Sarah pun sudah hadir disana, berikut dengan kedua orang tua Revan. Deon dan juga Natalie sudah mengetahui hal ini, mereka sedang ada dalam perjalanan menuju rumah sakit tersebut.


Kondisi Sarah benar-benar mengkhawatirkan, Revan bahkan melihat dengan jelas jika di bagian dahi dan kepala belakang wanita itu mengeluarkan begitu banyak darah. tangan Sarah tersayat serpihan kaca mobil yang pecah, meskipun pada saat dibawa ke rumah sakit denyut nadi Sarah masih bekerja.


"Dokter, bagaimana dengan keadaan putri, Saya?" tanya Riyanti cemas, Ibunda dari Sarah.


Dokter melepas sarung tangan yang sedang ia kenakan sejenak, kemudian berkata. "Kami sudah melakukan oprasi, bagian tulang kepalanya mengalami sedikit keretakan. keadaannya masih sangat kritis, kalian berdoa saja. kami para medis sudah melakukan yang terbaik, sisanya serahkan kepada Tuhan."


Pernyataan Dokter tersebut tentu sama sekali membuat mereka semua yang mendengar merasa tenang. justru sebaliknya, bagaimana jika Sarah tidak bisa melewati masa kritisnya? bagaimana jika Sarah benar-benar meninggalkan Revan beserta keluarganya? seketika mata Revan terasa panas, pandangannya mulai mengembun saat cairan bening tersebut memaksa ingin keluar dari pelupuknya.


"Beruntung kondisi janin yang ada dalam perutnya kuat, tak ada benturan di bagian perut sehingga kehamilannya sekarang baik-baik saja. kakinya mengalami cidera..."


Revan membulatkan matanya menatap tajam kearah Dokter, "Hamil? istri saya hamil?" ucapnya mencengkram kuat kerah jas putih yang Dokter kenakan.


"Apa Anda tidak mengetahuinya? usia kehamilannya sudah tiga bulan."


Revan mencoba ditenangkan oleh Ayanya, pria itu sedikit ditarik kebelakang oleh Arman sambil berkata. "Tenang, biarkan dokter menjelaskan."


"Tapi aku gak tau sama sekali kalo Sarah lagi hamil!" lirih Revan berkaca-kaca. tentu sebagai seorang suami dirinya semakin merasa bersalah karena tidak bisa menjaga sang istri dengan baik. terlebih kehamilan Sarah saja Revan tidak mengetahuinya.


"Kasus ini sering terjadi, kemungkinanya ada dua, istri Anda belum memberi tahukan kehamilannya. atau memang dia sendiri tidak menyadari jika dirinya sedang mengandung karena memang bagian perutnya sendiri tidak terlalu membuncit. tidak semua wanita yang hamil memberikan tanda-tanda kehamilan dengan cara spontan."


Mungkin saja Sarah sudah mengetahui jika dirinya sedang mengandung, dengan sengaja wanita itu menantang maut karena tidak bisa menerima kehamilan tersebut. entahlah, semua jawaban itu hanya ada pada Sarah. untuk sekarang Revan menjadi sangat terpukul, cairan bening itupun akhirnya lolos dari mata pria lemah tersebut.


Ya, katakan saja Revan adalah pria yang lemah. ia akan jauh lebih mudah meneteskan air mata, itu sebabnya Deon sendiri sempat tidak percaya jika Revan yang membunuh Raka. karena pada kenyataannya membunuh seekor semut saja Revan tak bisa, lalu pada kenyataannya Revan malah menyuruh orang lain untuk melakukan hal tersebut tanpa ada campur tangan darinya.


Rencananya patut diacungi jempol, Pak Teguh yang mengaku jika dirinya lalai pada saat mengendarai itu hanya dijatuhi hukuman 12 tahun penjara. tapi Pak Teguh masih bisa dibebaskan atas bantuan Revan. dan tidak sedikit pula uang dan fasilitas lainnya yang keluarga Pak Teguh berikan.


Semua itu tentu tak gratis. kebaikan Revan yang telah membantu biaya penyakit putri Pak Teguh-lah yang menjadi alasan utama. kenapa pria paruh baya itu berani mengambil resiko. Pak Teguh merasa dirinya banyak berhutang terhadap Revan sampai ia berani melakujan hal tersebut hingga membuat Raka kehilangan nyawanya.