Love By Accident

Love By Accident
Episode 39



Masih Flashback...


Dihari berikutnya, Revan terus memijat kepalanya yang tidak pusing. tekanan pekerjaan sekaligus masalah yang sedang menimpa dirinya terasa sangat mematikan. mungkin jika hal serupa terjadi pada orang lain, mereka akan lebih memilih untuk mengakhiri hidup ketimbang bertahan dengan keterpurukan.


Masalah yang menimpa Revan sekarang benar-benar sudah membuahkan hasil. bahkan saking terpukulnya, Revan harus menelantarkan pekerjaannya yang menumpuk dan memilih untuk menenangkan pikiran dengan meneguk begitu banyak minuman.


Cleak...


Mata Revan teralihkan kearah pintu yang terdorong dari luar. rasa kesal yang tersambar api kemarahan itupun kian muncul saat wajah wanita yang telah mengkhianatinya itu muncul.


"Van...." Dengan suara bergetar, Kalila melangkah mendekati Revan dengan raut wajah menyedihkan. "Aku, tolong maafin aku." lirih Kalila meneteskan air matanya.


Revan beranjak, ia benar-benar sudah enggan melihat wajah wanita tersebut dan memilih untuk menatap pemandangan kota melalui jendela ruangan kantornya.


"Aku salah, aku nyesel, Van." Kalila bersimpuh sambil terisak, raut wajah penyesalan itu memang sangat jelas terlihat. tetapi apa daya? Revan sudah dibutakan oleh api kebencian sehingga ia tak bisa mentoleransi apa yang sudah Kalila lakukan meskipun pria itu sangat mencintainya.


"Gak ada gunanya kamu disini, tolong keluar sebelum aku hilang kendali." ujar Revan dingin sambil mengepalkan tangan menahan amarah.


"Van, aku hamil."


Deg...


Revan tertegun, bayang-bayang saat Kalila di atas ranjang bersama Raka masih terbesit didalam otak Revan. dan sekarang wanita itu malah datang dan mengatakan jika dirinya telah mengandung. "Aku sama sekali gak ada hubungannya sama kehamilan kamu, dan harus kamu inget ini. aku belum pernah nyentuh kamu selama kita bersama!"


Air mata Kalila semakin deras, tentu wanita itu tahu jika ini semua tak ada hubungannya dengan Revan. tapi untuk sekarang hanya Revan-lah satu-satunya orang yang bisa membantu Kalila.


"Ra... Raka nyuruh aku buat gugurin kandungan ini," wanita itu beranjak berdiri tepat dibelakang tubuh Revan lalu meraih tangannya. "Dia sama sekali gak mau lepasin Sarah, aku mohon bantu aku, Van. aku gak mau bunuh bayi ini." lirih Kalila memohon.


Revan menepis tangan Kalila kasar, seolah sudah tak sudi untuk disentuh oleh wanita tersebut. "Masalah itu sama sekali gak ada hubungannya sama aku! mending kamu sekarang keluar sebelum aku panggil keamanan buat nyeret kamu!"


"Tapi, Van..." Kalila masih berusaha untuk menarik simpati dari Revan, meskipun pria itu terus saja menolak dan mengusirnya.


"Pergi!" bentak Revan meninggikan suara.


Kalila mengerjap, harapannya sirna saat seseorang yang ia andalkan benar-benar sudah menolaknya. "Maaf..." ucap wanita itu sambil terisak dalam keadaan menyedihkan.


Revan kembali memalingkan tubuhnya menatap pemandangan kota, sedangkan Kalila memilih keluar dari ruangan tersebut karena Revan terus saja mengusirnya tanpa memberikan kesempatan.


Suasana menjadi hening seketika, Revan menghela nafas panjang untuk menata emosinya. "Baji*ngan!" umpat Revan sambil memikirkan Raka yang sudah berani membohonginya.


Pria bertubuh jangkung itu meraih ponsel dalam sakunya untuk mengirimkan pesan pada seseorang dan memberinya perintah.


"Ikutin Kalila," tulis pesan yang Revan kirimkan pada Pak Teguh.


Pak Teguh, Seorang pria paruh baya sekaligus suami dari Bu Hanum yang rela melakukan apapun untuk membalas kebaikan Revan. memiliki seorang putri yang mempunyai penyakit serius mengharuskan Pak Teguh dan Bu Hanum harus bekerja dengan ekstra. setiap minggunya sang putri diharuskan untuk melakukan pencucian darah, dan itu sebabnya saat Revan mengatakan jika dirinya bersedia membayar seluruh biaya rumah sakit tanpa berhutang. hal itu langsung membuat Pak Teguh merasa dipertemukan dengan sesosok malaikat yang berwujud manusia.


"Dimana Pak? kirim lokasinya sekarang."


Tak butuh waktu lama, saat membaca Kalila bersama seorang pria dan berada disebush klinik. ingatan Revan langsung tertuju pada ucapan wanita tersebut yang mengatakan jika Raka menyuruhnya Abor*si.


"Sial," umpat Revan sambil meraih jas dan juga kunci mobilnya untuk segera menyusul Kalila dan menggagalkan Rencananya.


Flashback of...


"Enggak, itu gak mungkin Raka gak mungkin kaya gitu." Lirih Sarah seolah tak percaya.


Benar saja, Revan sudah memikirkan hal ini sejak dulu. seseorang yang sudah dibutakan oleh cinta memang tak akan bisa mempercayai orang lain selain cintanya. ketakutan Revan benar-benar terbukti sekarang.


Revan tersenyum kecut, mengalihkan sorot matanya kearah lain penuh kekecewaan. "Udah aku duga, kamu bakalan tetep raguin aku."


"Tapi Raka itu baik," ucap Sarah terisak.


Sesuatu yang sangat Revan benci, saat mendengar Sarah selalu mengunggulkan sahabat breng*seknya. Revan bisa menerima apapun, tapi sulit untuk menerima jika Sarah terus memuji pria lain dihadapannya.


"Van, kamu mau kemana?" tanya Sarah setelah sang suami beranjak menjauhinya.


Revan kesal, ia memilih menjauh dari Sarah karena takut jika dirinya tak bisa mengontrol emosinya.


"Van tunggu," langkah Revan terhenti saat Sara beranjak menghentikannya dengan cara menarik tangannya. "Dimana Kalila sekarang?"


"Meninggal!" sahut Revan spontan yang sukses membuat Sarah terkejut.


"Me... meninggal?"


"Dia meninggal kehabisan darah setelah Raka maksa dia buat abo*rsi." tegas Revan penuh kekesalan.


Bibir Sarah terasa kelu, mulutnya sedikit terbuka dengan keadaan tubuh yang bergetar.


"Masih mau bilang gak mungkin? gak percaya?" Sejenak Revan terkekeh, "Selamanya kamu cuma dibodohin sama Raka, meskipun bajin*gan itu udah mati sekalipun!"


Sarah memandang lekat wajah Revan, wanita itu semakin mendekati prianya sambil terus meneteskan air mata.


Cup... Sarah menempelkan bibirnya pada Ravan, meletakan tangan cantiknya diatas bahu pria tersebut sambil memberikan ciuman tulus pada suaminya.


Revan hanya bisa terdiam, ia tak membalas ciuman Sarah saat otaknya terus saja berkutat dengan perasaan heran dan tidak percaya.


"Aku cinta kamu!" ucap Sarah setelah melepaskan ciuman.