
Hari pun berlalu, Riyanti selalu memperhatikan Sarah yang terlihat tenang dan ceria. saat awal-awal wanita Riyanti membawa Sarah, biasanya Sarah akan mengurung diri di kamar, tapi berbeda dengan sekarang. Sarah terlihat jauh lebih bahagia dari biasanya, porsi makannya meningkat drastis. Sarah bahkan sangat memperhatikan perkembangan bayi dalam perutnya.
"Pah, Mamah ngerasa aneh sama Sarah." ucap Riyanti pada Darma sambil membawa secangkir kopi untuk ia suguhkan pada sang suami.
"Kenapa?" tanya Darma mengambil alih kopi dari tangan istrinya.
Riyanti terduduk tepat di sebelah Darma, wanita itu memang terlihat sedang menyimpan rasa penasaran terhadap sang putri. "Mamah perhatiin, Sarah kok gak kaya biasanya. dia terlihat lebih ceria dan baik-baik ajah."
Darma menyeringai setelah menyeruput kopi yang Riyanti buatkan. pria itupun meletakan cangkir yang berada ditangannya perlahan kemudian menjawab, "Bagus dong, itu lebih baik buat kandungannya."
"Apa mungkin itu semua karena Revan?"
Darma menggelengkan kepalanya, seolah tidak setuju mendengar pernyataan Riyanti. "Dadang udah Papah suruh, buat gak masukin dia kesini. jadi itu gak mungkin,"
Riyanti menghela nafas panjang, ia menatap Darma kemudian berkata, "Mudah-mudahan deh.
Bagaimana Sarah tidak bahagia? setiap malamnya Revan selalu datang. Revan tidur bersama Sarah, mengelus dan memberikan cinta juga kasih sayang dengan sepenuh hatinya.
Semua keinginan Sarah selalu Revan penuhi, meskipun dalam keadaan sesulit dan serumit apapun. Sarah tidak sama sekali merasakan kesepian, atupun kekurangan kasih sayang.
Belaian lembut tangan Revan, kehangatan tubuh pria jangkung tersebut selalu menemani Sarah di setiap malam. meskipun Sarah sesekali merasakan kesedihan, karena harus berada dalam fase serumit ini. Revan selalu saja berhasil memberikan ketenangan dan juga keyakinan, agar Sarah mampu mempercayainya jika mereka berdua dapat kembali bersama.
Pernah di suatu malam, Sarah yang tak bisa jauh dari Revan sempat mengalami gangguan tidur. padahal saat itu, Revan diharuskan kembali larut karena desakan pekerjaan. bahkan saat cuaca hujan sekalipun, Sarah mengeluh. dan disaat itu juga Revan datang, sulitnya memesan sebuah taksi diwaktu malam serta hujan tak menghalangi Revan untuk menemui sang istri. disaat itulah, Sarah menghempas jauh rasa penyesalannya. justru ungkapan makian Sarah telah menikam dirinya.
Bak menjilat ludah yang sudah jatuh, Sarah sama sekali tidak bermalu untuk melontarkan kalimat cinta dan rasa beruntungnya terhadap Revan. wanita itu terus menyanjung tinggi sang suami.
"Ayo, Pah." bujuk Revan pada Arman.
Pria paruh baya itu pun menghela nafas panjang. bukan tak ingin, Arman hanya merasa semua itu sudah tidak berguna. sebab sebelumnya, ia sudah datang bersama Ibunda Revan untuk meminta Sarah kembali, dari orang tuanya.
Ratna yang berada tepat disebelah Revan pun langsung meraih bahu sang buah hati, lalu mengelusnya dan berkata. "Kita udah berusaha, Van. tapi mertua kamu tetep minta kamu segera pisah sama Sarah." ucap Ratna menjelaskan.
"Aku gak mau tau, pokonya kalian harus bantuin aku buat bawa Sarah kesini." tegas Revan penuh penekanan.
Bukannya mengerti tentang ambisi dan keinginan Revan, Arman justru kesal sebab Revan terlalu mengandalkan kedua orang tuanya. padahal jika bukan Arman dan Ratna, belum tentu orang tua lain bisa menerima kesalahan fatal yang Revan lakukan.
Arman berdecak, memandang Revan dengan tatapan kejam. "Anak gak tau diri, sudah bikin malu. dan sekarang masih ajah libatin orang tua buat masalah pribadinya!"
Ratna mencoba menenangkan sang suami yang sudah terpancing emosi, "Tenang, Pah. Revan cuma mau memperbaiki diri, dia mau hubungan rumah tangganya baik-baik ajah."
"Darma sama Riyanti udah ngehina kita! mereka udah gak sudi, punya menantu kaya Revan. itu semua karena kesalahan Revan sendiri." pekik Arman dengan rahang yang mengeras.
Cukup patuh, setelah emosi sang Papah mencuat. Revan hanya terdiam, saat Arman menyudutkannya dengan cara mengungkit apa yang pernah Revan lakukan. Revan sadar, hidupnya masih bergantung pada kedua orang tua, ia belum cukup baik untuk menyelesaikan urusan ini dengan sendiri. karena tak ingin masuk kedalam lubang yang sama, Revan hanya bisa pasrah. menunggu sampai Darma dan Riyanti bisa kembali mempercayainya meskipun itu adalah hal yang tidak mungkin.
"Masih untung kami, masih mengakui kamu sebagai anak! seharusnya kamu bersyukur! kesalahan kamu itu sangat sulit untuk di toleransi. bahkan keluarga Sarah terus ngehina kamu, saat Papah sama Mamah dateng! harga diri kami sudah kamu jatuhin, Van!"
Revan beranjak, dengan wajah kecewa pria itu langsung melangkah keluar tanpa menatap Arman dan Ratna. dari rumah kedua orang tuanya. Revan berpikir, sepertinya apa yang Arman benar. tidak seharunya ia melibatkan kedua orang tuanya, atas masalah yang telah terjadi. mungkin ini semua adalah buah dari kesalahannya, meskipun kemungkinannya sangat kecil. Revan tetap akan berusaha untuk memperjuangkan rumah tangganya, untuk menjalin kebahagian bersama keluarga kecilnya.