
Darma tak banyak bicara, meskipun dalam pikirannya sedang menyimpan begitu banyak pertanyaan. pria paruh baya itu hanya terus menatap Revan yang sedang memainkan ponsel sambil sesekali melirik ke menu pilihan restoran yang sudah pelayan siapkan.
"Dua kopi, sama Bread Coconut Almon." ucap Revan pada pelayan.
Pelayan tersebut pun langsung mengiyakan, lalu pergi untuk menyiapkan apa yang Revan pesan. sejenak Revan meletakan ponselnya, lalu tersenyum tipis kearah Darma dan berkata. "Kenapa, Papah. ngikutin aku?"
"Langsung ajah, apa yang mau kamu bicarakan? saya gak punya banyak waktu." sahut Darma dengan sedikit meninggikan suaranya.
Revan hanya terkekeh, ia masih bisa bersikap santai meskipun jujur saja. Revan sebenarnya telah menyimpan sedikit kekesalan akibat tindakan Darma yang berani membawa Sarah menjauh darinya. "Aku pikir Papah lagi punya banyak waktu, itu sebabnya Papah sampai ngikutin aku kesini." timpal Revan menyindir.
Anggap saja saat itu Revan sedang memancing Darma, dan ingin mencari celah untuk bisa menghadapi pria paruh baya tersebut.
Darma sendiri berpikir, meskipun Revan terlihat tidak berdaya dan penurut. nyatanya Revan adalah dalang dari suatu kasus pembunuhan, tentu Darma sendiri memiliki rasa sedikit takut dalam menghadapi menantunya sekarang. apa boleh buat, karena sudah tertangkap basah, Darma pun menyetujui permintaan Revan untuk mengajaknya bicara.
"Serahin Sarah sama aku, dan aku bakalan tutup mulut."
Pernyataan Revan kembali mengguncang rasa penasaran Darma terhadap ucapan yang dilontarkannya, pria itupun mengerutkan dahinya dengan pandangan yang semakin menajam, "Tutup mulut? apa maksud kamu?"
Revan menghela nafas panjang, ia meraih sesuatu yang tersembunyi dibalik saku jasnya. lalu menyerahkan beberapa lembar foto pada Darma sambil berkata. "Ibu kandung Sarah, menggeluti dunia fashion, dengan uang yang Papah berikan. dikenal oleh Mamah Riyanti sebagai klien bisnis, nyatanya wanita ini adalah istri Pertama Papah."
Deg...
Mata Darma membulat, dengan detak jantung yang mulai tidak karuan. "Dari mana kamu tau semua ini?"
"Itu hal mudah, awalnya aku mau jemput Sarah dengan cara yang terhormat! setelah mengetahui ini, sepertinya Papah adalah orang yang sama seperti aku!" sahut Revan menjelaskan dengan seringai licik.
"Balikin Sarah, dan semuanya selesai."
"Apa itu artinya kamu lagi ngancem, Saya?"
Revan hanya memiringkan senyumnya, "Aku selalu berpikir buat nebus dosa aku ke kantor polisi. dan aku berubah pikiran. Sarah dan anak yang baru saja dia lahirkan, mereka semua butuh aku! rasanya gak adil, ngeliat Mamah Riyanti hidup dibalik skenario yang sudah Papah buat. bahkan Sarah sendiri gak tau kalo ternyata Ayahnya adalah seorang aktor berbakat."
"Lancang kamu..." Darma beranjak dan menarik kerah pakaian yang Revan kenakan. pria paruh baya tersebut langsung mengarahkan kepalan tangannya kearah wajah Revan, akan tetapi aksinya terhenti saat sekali lagi Darma mendengar ancaman yang Revan lontarkan.
"Mamah Riyanti tentu akan marah besar, anak yang ia pikir hanyalah Anak angkat, ternyata adalah darah daging Papah sendiri. dan Sarah, dia pasti bakalan membenci Papah! karena aku dan Papah, sama sekali tidak ada bedanya! penjahat yang licik." tegas Revan mengingatkan.
Cengkraman itu Darma lepaskan, Darma langsung menghela nafas panjang. ternyata Revan jauh lebih cerdik dari apa yang ia bayangkan, ketenangan Revan hanya kedok belaka. nyatanya dibalik itu semua, Revan bisa melakukan apapun dengan begitu mudahnya.
"Bawa Sarah, saya gak akan larang kamu!" cetus Darma pasrah.
Semburat senyum tercipta dibibir Revan, sejenak pria itu bersikap santai saat seorang pelayan datang menghidangkan pesanan.
"Dan dia," Revan menunjuk kearah pelayan yang pergi menjauh dari mejanya. "Dia adalah simpanan Papah."
"Keterlaluan!" Bruak... Darma menggebrak meja dihadapannya penuh kemarahan. "Beraninya kamu mengorek hidup, Saya!"
Revan mengerjap, ia menyeret kopi dihadapannya lalu meniup kopi tersebut perlahan. "Aku bisa melakukan apapun, suatu kesalahan jika aku menghadapi Papah dengan cara lembut. karena Papah sendiri adalah orang yang udah menipu istri dan anak Papah sendiri."