Love By Accident

Love By Accident
Episode 7



"Selamat pagi,"


Revan mengerjap, mencoba memulihkan penglihatannya yang masih sedikit kabur.


"Aku udah siapin sarapan buat kamu, sekarang kamu mandi dulu." ucap Sarah lembut menyerahkan handuk.


Semalam memang tidak terjadi apapun meskipun keduanya tidur dalam satu ranjang yang sama. dalam hal ini Revan cukup hebat, karena mampu menahan sesuatu yang bergejolak dalam dirinya. itu semua hanya karena Sarah. Revan tak ingin membuat Sarah takut, ia yakin perlahan Sarah sendirilah yang akan menyerahkan dirinya pada Revan.


"Nanti langsung turun ya, aku nunggu dibawah." ucap Sarah menyunggingkan senyum.


Revan hanya menganggguk seolah mengiyakan apa yang baru saja Sarah katakan.


Diruang makan, tak ada satu katapun yang Revan lemparkan. begitupun dengan Sarah, mereka terlihat sangat kaku. hubungan suami istri antara keduanya nampak tidak terlihat. semuanya tampak terasa aneh dan asing, baik itu bagi Revan maupun Sarah.


"Suami istri apaan kaya gini?" batin Revan bertanya.


Sarah hanya terus memandang Revan dengan sorot penuh tanda tanya. senyum cantiknya terpancar, jujur untuk saat ini Revan berharap jika Sarah akan berinisitif untuk memulai obrolan. nyatanya tidak, bermenit-menit Revan menunggu, Sarah hanya terus terdiam dengan pandangan yang sama sekali tidak teralihkan.


"Kamu kenapa, Sar?"


"Kenapa apanya?" sahut Sarah spontan.


"Kamu keliatan aneh,"


Sarah memutar bola matanya, seolah berpikir. "Masa sih? aku baik-baik ajah kok."


Revan yang terlihat canggung pun langsung menyudahi aktifitas sarapan tersebut, ia meraih tas kerjanya kemudian mendirikan badan dengan pandangan yang masih tertuju pada sang istri.


"Mau kemana?" tanya Sarah mengerutkan dahi.


"Kantor,"


"Tapi makanan kamu belum abis," Sarah memincingkan mata dengan bibir yang mengerucut, "Abisin dulu!"


"Kenyang, Sar." Revan langsung melangkah menjauh dari Sarah dengan santai.


Seketika langkah Revan terhenti, pria itu langsung memalingkan wajah dengan raut wajah datar, "Raka?"


"Maksud aku, Revan." Sarah seketika memucat, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu meremat ujung dresnya perlahan.


Revan hanya tersenyum getir, ia berpikir mungkin Sarah memanglah belum sepenuhnya melupakan kekasihnya tersebut. tanpa mengatakan apapun, Reva. kembali memalingkan tubuh dan berlalu begitu saja meninggalkan Sarah.


"Revan tunggu!" Sarah pun berlari mengejar sang suami, "Berenti." gadis itupun meraih tangan Revan dengan penuh kekesalan.


"Ada apa?"


"Aku gak bermaksud..."


"Lupain ajah, aku udah biasa." sahut Revan spontan.


"Aku gak bermaksud kaya gitu, aku... aku cuma..."


"Cuma apa?"


"Keceplosan," Sarah melebarkan senyumnya menatap Revan lekat, gadis itu bahkan langsung meletakan tangannya pada dada bidang milik Revan penuh kelembutan. "Maaf," ucap Sarah memohon sambil merapikan dasi yang sudah Revan kenakan.


"Gak masalah," tegas Revan spontan.


"Aku belum terbiasa,"


Revan hanya bisa mengangguk pasrah, meskipun sebenarnya masalah seperti ini cukup mengganggunya.


Cup... kecupan singkat Sarah berikan dipipi kiri Revan, hingga langsung membuat pria jangkung itu membulatkan mata terkejutnya.


"Sebagai tanda permintaan maaf aku yang tulus," ucap Sarah tersenyum tipis.


Bingung hal itu yang sedang berkutan dalam dir Revan sekarang. sulit baginya untuk mengetahui isi hati Sarah. gerak-gerik Sarah seperti orang normal. namun jika semakin diperhatikan sepertinya Sarah masih terjebak dalam lingkaran masa lalunya bersama Raka.


"Aku tau kamu belum bisa lupain Raka, Sar." batin Revan kecewa.