
"Hay..." Natalie menyapa dan langsung melambaikan tangannya begitu Sarah membuka pintu yang sudah ia ketuk sedari tadi.
Dengan wajah pucat Sarah tersenyum tipis kemudian berkata, "Cari Revan?"
"Enggak, aku tadi kebetulan lewat sini. Deon sama Revan pasti lagi di kantor, itu sebabnya aku mampir." ucap Natalie menjelaskan.
Sarah hanya menelan ludah getir, ia perlahan melebarkan pintu utama memperlihatkan sesosok pria yang tidak lain suaminya yang sudah berada dibelakang Sarah.
"Lah, gak ke kantor, Van?" tanya Natalie spontan, saat sorot matanya menangkap Revan.
Revan menggenggam kuat tangan Sarah, semburat senyumnya tercipta kemudian menjawab, "Gue lagi jagain Sarah."
Natalie mengangguk, raut wajah Sarah memang terlihat tidak baik-baik saja. apalagi saat Revan menggenggam tangannya, wanita itu terlihat sangat enggan tetapi Revan terus memaksa.
Tak ada kecurigaan yang pasangan itu tonjolkan, baik itu Sarah maupun Revan.
"Masuk lie," ucap Sarah mengajak ramah.
Natalie menganggukan kepalanya dengan cepat. tujuannya datang memanglah untuk melihat Sarah dan kondisinya, sudah beberapa hari ini Revan tak mengeluhkan perihal kejiwaan istrinya. sesuatu yang biasa Revan lakukan, sampai membuat Deon kekasih Natalie sendiri merasa iba terhadapnya.
"Duduk, aku mau bikin minum." ucap Sarah lalu melangkah menjauh dari Revan dan juga Natalie.
"Sarah, tunggu." pekik Revan memanggil.
Sarah menghentikan langkahnya sejenak, ia memutar badan perlahan penuh ketakutan.
"Biar, pelayan ajah yang buatin minum." Sikap Revan memang terlihat sangat baik dan jiga pengertian, baik itu dihadapan Natalie, ataupun hanya dalam keadaan berdua.
Meskipun terbilang cukup menakutkan, Sarah sendiri tak pernah sedikitpun disakiti secara fisik oleh suaminya tersebut. dalam perannya menjadi seorang suami, Revan benar-benar sangatlah sempurna.
Sarah akhirnya menurut, ia langsung mendekati Natalie dan duduk tepat di sampinnya.
"Van, lo cowok sendirian. gue kaku mau ngobrol sama Sarah kalo ada, lo." ujar Natalie.
Sarah tak banyak bicara, ia hanya terus tertunduk tanpa mengeluarkan sepatah katapun. meskipun sedari tadi Revan terus menatapnya dengan penuh kekaguman, Sarah tak memperdulikan hal itu.
"Apa Sarah bener-bener depresi? pasangan ini keliatan aneh banget." gumam Natalie menyadari ada sesuatu yang mengganjal.
"Sar," Natalie meraih tangan Sarah perlahan. "Gimana keadaan, lo? udah lebih baik?" tanya Natalie perhatian.
Sarah menatap wajah Natalie dengan mata yang menggenang, sejenak ia melirik kearah Revan kemudian berkata. "Aku baik," sahutnya disertai anggukan.
"Gimana kalo besok kita ke mall, happy-happy?" ajak Natalie dengan sorot yang berbinar.
"Enggak!" tegas Revan menolak meninggikan suara.
Natalie dan Sarah yang sedikit tersentak itupun langsung melirik kearah Revan secara bersamaan.
"Sarah harus banyak istirahat, gue gak ngijinin dia untuk pergi kemanapun."
Sarah menelan salivanya, padahal ini adalah satu-satunya harapan Sarah. jika dia bisa keluar dari rumah tersebut, dan mengatakan apa yang ia keluhkan pada Natalie. sebab Natalie adalah seorang dokter, tentu ia akan mengerti jika ucapan semua Sarah adalah kebenaran. bukan serangan depresi yang biasa Revan katakan.
"Tapi... aku... aku baik-baik ajah, Van." Sarah mencoba memohon, dan memberi isyarat pada Natalie jika sebenarnya dirinya juga ingin keluar bersama Natalie.
"Kalo gitu aku bakalan temenin kamu! kita pergi bareng!" tegas Revan penuh penekanan.
Sadar akan hal tersebut, Natalie pun langsung berdehem untuk mencairkan suasana, "Ehemmm..." sejenak Natalie menelan salivanya, "Kalo gitu besok gue ajak Deon sekalian. kita pergi bareng,"
"Tapi..."
"Gapapa, kan lo juga ikut. santai ajah kali, yakan, Sar."
Sarah langsung menganggukan kepalanya dengan cepat, seolah menyetujui akan keputusan yang Natalie buat. setelah itu Sarah tinggal memikirkan cara bagaimana ia mengatakan segalanya pada Natalie, perihal kejadian yang sesungguhnya.
"Tangan Sarah panas banget," ucap Natalie mengerutkan dahi, wanita itu bahkan langsung meraih dahi Sarah untuk memastikan suhu tubuhnya. "Tuhkan! lo sakit, Sar?"
Sarah menggelengkan kepalanya perlahan, "Aku baik-baik ajah." sahutnya terbata.
"Kayanya Sarah masih butuh istirahat, lo boleh pergi sekarang." ucap Revan santai.
Natalie semakin memperdalam kerutan didahinya. "Lo ngusir gue, Van?"
"Enggak, kan Sarah lagi sakit. dia butuh istirahat, gua mau nemenin dia. lo gapapa disini sendirian?"
Natalie menghela nafas kasar, meskipun penjelasan Revan tak menutup kemungkinan jika pria itu ingin Natalie segera pergi dari hadapannya dan juga Sarah. wanita itupun langsung mengiyakannya, Natalie langsung meraih tasnya lalu berkata, "Yaudah... sampai ketemu besok!"
Sarah mengangguk kikuk, sedangkan Revan hanya tersenyum getir saat Natalie sudah memalingkan tubuh berjalan menuju pintu utama untuk segera keluar.
Suasana hening seketika, saat Natalie sudah tak terlihat Revan langsung mendekati istrinya. meraih dan mengelus wajah tersebut penuh kasih sayang, "Kamu demam lagi?"
Sarah tak menanggapinya, ia terlihat memalingkan wajah seolah enggan untuk menerima sentuhan lembut itu dari suaminya.
"Kita kekamar?"
Sarah menganggukan kepalanya perlahan, ia langsung mendirikan tubuh indahnya spontan untuk segera berjalan menuju kamar.
Mungkin sakit yang Sarah rasakan adalah buah dari beban dalam hidupnya, nafsu makan Sarah berkurang drastis. tak banyak aktifitas yang ia lakukan setelah kebenaran itu terungkap, karena Revan sangat memperhatikannya.
"Aku siapin obat ya?" pekik Revan saat Sarah mulai menjauh dari hadapannya.
Tak ada gubrisan dari Sarah, wanita itu nampak berjalan dengan penuh kehati-hatian. Sarah bahkan sedikit terlihat sempoyongan saat dirinya memijakan kaki di atas para anak tangga.
"Pusing," gumam Sarah menghentikan langkah menyentuh dahinya.
"Sar?" Revan meraih bahu Sarah dan menatap wajah pucat istrinya, "Aku gendong ya?"
Sarah menggelengkan kepalanya, sambil mendorong pria tersebut agar menjauh darinya.
"Sar," Didetik berikutnya, Sarah benar-benar kehilangan keseimbangan tubuh dan hampir jatuh. untung saja Revan dengan cepat menangkap wanita tersebut dan langsung membawanya kedalam gendongan.
"Van, lepas!" titah Sarah memberontak, minta untuk diturunkan.
"Diem!" tegas Revan menajamkan tatapan.
Apa yang sedang Revan pikirkan? pertanyaan itu langsung berkutat dalam benak Sarah saat ia menatap ketampanan suaminya. hidung mancung dengan garis bibir yang sempurna, tak ada alasan jika secara fisik Sarah harus menolak suaminya.
Sarah gelisah, detak jantungnya berdebar. seiring berjalannya waktu ternyata kepedulian dan perhatian Revan sukses menggetarkan hatinya.
"Enggak! aku gak boleh jatuh cinta sama Revan." gumam Sarah penuh kecemasan.