Love By Accident

Love By Accident
Episode 56



Revan dan Sarah terus saja menikmati momen manis kebersamaan mereka. keduanya nampak seperti pasangan kekasih yang baru saja saling menyatakan perasaan.


Meskipun begitu, tak sedikit beban pikiran yang menghampiri Revan. dari mulai teror nomor yang tidak dikenal terus mengganggu aktifitasnya. serta tindakan yang terus saja membuat Revan terdorong, dalam melakukan hal-hal jahat. Tentu Revan tahu, siapa dalang dari segala kekacauan ini. merasa jengah, pada akhirnya pria tersebut tak segan untuk mendatangi Laura dan juga Darma dalam waktu yang berbarengan.


Benar saja, saat Revan sudah berada di sebuah kawasan perumahan elit di pusat kota. ia sedikit tidak percaya, jika rumah tersebut milik Laura. saat pria jangkung itu mendapati mobil sang mertua terparkir di garasinya, Revan pun langsung bergegas masuk untuk melontarkan ancaman atas teror dan masalah yang sengaja kedua orang itu berikan.


Revan berdecih, dengan ekspresi jiji pria itu melangkan masuk meskipun daun telinganya terus saja dihiasi dengan suara-suara erangan Laura.


"Miris," gumam Revan saat mendapati jika Darma dan Laura sedang bercumbu dengan asiknya di balik pintu yang sedikit terbuka. "Cukup!" Revan masuk dan mendorong pintu tersebut dengan santainya, hingga membuat Darma dan Laura tersentak dan langsung menghentikan aktifitasnya.


"Si*al," umpat Laura sambil menutup tubuh telanjangnya dengan selimut. sedangkan Darma beranjak menjauh.


Revan menepukan tangannya, pandangannya terus tertuju pada Darma dan juga Laura secara bergantian. ia terkekeh, kemudian setelah itu berkata. "Ternyata, Papah. cukup perkasa," celetuk Revan seolah meledek.


"Kenapa kamu kesini?" tanya Darma seolah jengkel.


"Sabar, Pah." Revan mendudukan bokongnya dengan kaki yang menyilang, pria itu bahkan meregangkan otot-ototnya disana sambil menghela nafas panjang. "Aku gak peduli sama kisah cinta kalian, satu hal. jangan pernah usik hidup aku sama Sarah!"


"Apa maksud kamu?" tegas Darma memincingkan mata.


Revan meraih ponselnya, ia langsung menyentuh icon kamera lalu memotret pasangan tersebut, hingga sukses membuat Darma dan Laura kesal.


"Revan!" Rahang Darma mengeras, tangannya mengepal seolah tak terima. "Hapus foto-foto itu, sekarang!" pekik Darma memerintah.


"Stop!" Revan menunjuk sambil memperlihatkan layar ponselnya pada sang mertua saat pria paruh baya itu hendak merebutnya. "Sekali lagi Papah deketin aku, aku bakal kirim ini ke Sarah dan Mamah Riyanti."


Darma terlihat pasrah, wajahnya langsung memucat saat ancaman yang Revan berikan berhasil membuat naluri ketakutannya bekerja. "Apa mau kamu?" ucap Darma bertanya, sambil mengangkat tangannya.


Darma semakin memperdalam lipatan didahinya, seolah tak mengerti setelah mendengar permintaan Revan. "Sa... saham?"


"Saham yang seharusnya jadi milik Sarah, tapi malah Papah alihkan menjadi nama Laura!"


Mata Laura membulat. ia berpikir, bagaimana Revan bisa tahu tentang masalah tersebut? sejenak Laura mengerjap kemudian membuka mulutnya, "Ini pasti ada kesalahan," Laura melirik kearah Darma. "Sayang, kamu jangan dengerin dia. kamu udah janji kalo saham itu buat aku!"


"Oke," Revan kembali menyalakan ponselnya seolah memberikan isyarat ancama. "Sarah, Mamah Riyanti." ucap Revan sambil menggulir layar kontaknya.


"Baiklah," Darma kembali menghentikan aksi Revan dengan mengiyakan keinginannya.


"Tapi..."


"Jika Foto itu dikirim, bukan cuma saham! kamu bahkan akan kehilangan apa yang kamu miliki sekarang." bentak Darma pada Laura.


Laura menajamkan tatapannya kearah Revan dengan gigi yang mengerat, seolah sedang menahan amarahnya yang sudah memuncak.


"Oke," Revan beranjak, sebelum melangkahkan kakinya pria itu meraih sesuatu dalam sakunya lalu melemparkannya pada Darma dan juga Laura. "Buat nambah stamina bonus sama pengaman, biar jala*ng Papah gak hamil dan gak ngerepotin." celetuk Revan tersenyum licik.


"Revan! jaga sikap kamu!" tegas Darma memekik.


Revan masih terlihat tenang, pria itu hanya bisa tersenyum getir sambil mengangguk. "Aku tau harus ngejaga sikap sama siapa, dan untuk seorang yang seperti apa." Revan menghela nafas panjang, "Papah gak usah teriak, nanti kadar darah Papah naik. terus Papah kena serangan jantung, terus jalang ini bisa cari pria lain buat muasin dirinya."


Laura menelan salivanya, bibirnya terus merapat dengan tangan yang mencengkram sprei menahan rasa kesalnya.


"Silahkan dilanjut." ucap Revan berpamitan, sambil memutar badan berlalu keluar ruangan.