Love By Accident

Love By Accident
Episode 57



Pada akhirnya Sarah bisa bernafas lega. sudah tidak ada lagi sesuatu yang harus ia khawatirkan. sesekali Sarah berpikir, dan bertanya. apa semua ini adalah pilihan yang tepat? sulit bagi Sarah untuk mengartikan perasaannya sekarang, bahwasannya semua ini sudah cukup membuat dirinya bahagia.


Namun, apa harus ia menjauhi seluruh keluarganya hanya demi cinta? Riyanti nyaris tak pernah berkunjung, begitu pula dengan Darma. kata apa yang tepat untuk menggambarkan perasaan Sarah sekarang? disisi lain, ia cukup bahagia. dan di sisi lainnya ia merasa sangat merindukan kasih sayang kedua orang tuanya.


"Revan gak pernah nyakitin aku, dia selalu ada buat aku. dia gak pernah sedikitpun bersikap kasar dan marah sama aku," sejenak Sarah menghentikan ucapannya, mempertegas tatapan kearah sang suami yang sedang berada dilantai dasar bersama Zoya. "Makasih, Van. kamu sukses buktiin ke aku, kalo kamu adalah pria yang baik. aku nyaris gak pernah inget sama kesalahan fatal kamu, semua itu udah hanyut terbawa perasaan aku yang semakin takut kehilangan kamu."


Sarah menyalakan layar ponsel yang sedang ia genggam. wanita tersebut langsung mengalirkan setetes air matanya, saat ponsel tersebut memperlihatkan gambar kebersamaan Sarah yang terlihat bahagia dipeluk oleh kedua orang tuanya.


"Mah, Pah." Sarah menyeka air matanya sambil mengelus layar ponsel. "Apa aku gak berhak nentuin pilihan hidup aku sendiri? maaf udah jadi anak pembangkang. aku harap kalian bisa maafin aku," lirih Sarah penuh kesedihan.


"Sayang,"


Sarah tersentak, ia spontan mematikan layar ponselnya dan langsung memalingkan tubuh menatap Revan yang sudah berada di sisinya.


"Kamu nangis? kenapa? perut kamu sakit lagi?" tanya Revan cemas, mencecar.


Sarah langsung memeluk Revan, mencurahkan semua isi hatinya pada pria tersebut sambil terisak. "Aku... aku kangen sama Mamah, Papah." ucap Sarah memecah tangisan.


Respon apa yang harus Revan berikan? menenangkan sang istri dan menjanjikan wanita itu untuk bertemu dengan kedua orang tuanya, atau Revan harus menentang keras keinginan istrinya dan menjauhkan sang empu dari keluarganya?


"Van aku mau ketemu Mamah. aku mau ketemu Papah." pinta Sarah memohon sambil menatap suaminya intens.


Bisa saja Revan mengatakan segalanya pada sang istri. Namun, melihat dari ekspresi dan kepercayaan Sarah terhadap keluarganya, itu semua nampak tidak memungkinkan. tidak hanya perasaannya yang hancur, Sarah juga pasti akan mengalami syok berat. jika mengingat, ia memiliki sindrom kecemasan berlebih.


"Denger," Revan meraih wajah Sarah dan menatap matanya intens. "Selalu ada alasan, di setiap tindakan. aku tau, mungkin sekarang kamu ngerasa terkurung. semua yang kamu lakuin disini terbatas," Cup... Revan mengecup pucuk kepala Sarah singkat, "Aku selalu ada buat kamu, untuk saat ini tolong dengerin aku. aku janji, setelah ini kita bakalan hidup bahagia tanpa beban sedikitpun."


Sarah hanya bisa terdiam, saat mendengar ucapan Revan. terdengar misterius, Namun sepertinya cukup serius.


"Jangan bunuh orang lain lagi, jangan bikin kesalahan lagi. semarah apapun, aku harap kamu bisa bersikap seperti sekarang sama orang lain. meskipun orang itu udah bikin kamu marah dan kecewa," pinta Sarah seolah memohon dan mengingatkan.


Tidak tahu pasti apa yang sedang Revan rencanakan. tapi sebagai istri, Sarah tentu tak ingin melihat suaminya terjerumus kembali pada masa lalunya. cukup Raka saja yang menjadi korban dendam kemarahan Revan. Sarah tak ingin Revan kembali terlibat dalam masalah yang serupa. ia tak ingin ada Raka lainnya yang terbunuh akibat rencananya tersebut.


Revan hanya tersenyum getir, ia tak mengiyakan ataupun menolak apa yang Sarah katakan. pria itu justru langsung merengkuh bibir Sarah tanpa permisi, membawa sang empu kedalam dekapan.


Dapat Sarah rasakan kasih sayang tulus Revan. belaian lembut tangannya, dan lumata*n-lumata*n yang Revan berikan sukses membuat perasaan wanita itu tenang. Sarah terlalu mudah untuk Revan lumpuhkan dengan serangan cintanya.