Love By Accident

Love By Accident
Episode 17



Disebuah koridor gedung perusahaan, Sarah berlari dengan kencang. yang ia pikirkan sekarang mungkin ini adalah kesempatan terakhirnya, mencari bantuan dan mengatakan kebenaran perihal kematian Raka yang sudah direncanakan oleh Revan pada Deon.


Sarah tak berpikir panjang, harapannya hanya Deon. terserah, apapun hasil akhirnya. yang Sarah harapkan hanya kepercayaan dari orang-orang terdekat agar dia tidak sendirian menghadapi suami sekaligus pembunuh kekasihnya tersebut.


"Deon..." Sarah bahkan tidak mengetuk pintu ruangan kerja Deon terlebih dahulu, dan dengan gugup beberapa orang yang sedang membahas pekerjaan di sana spontan melirik kearah Sarah dengan tatapan heran, "Ma... maaf." ucap Sarah terbata.


"Aku rasa hari ini cukup, kalian boleh kembali sekarang." ucap Deon kepada beberapa pekerjanya yang berada didalam ruangan tersebut.


Kedua orang itu hanya mengangguk, yang mereka pikirkan tentu bermacam-macam. ada yang menganggap jika Sarah adalah kekasih Deon. dan ada yang menganggap jika Sarah adalah seorang simpanan, karena satu diantara dua orang tersebut tahu jika Deon sudah memiliki kekasih, dan bukan Sarahlah orangnya.


"Kenapa, Sar?" Deon beranjak dari kursi kerjanya menghampiri Sarah. tentu hal ini adalah suatu kehormatan karena Sarah memang tak pernah datang sebelumnya, mencari Deon.


"Aku mau ngomong sesuatu,"


"Kenapa?" Dengan raut wajah santai Deon mengukir senyum diwajahnya dan mempersilahkan Sarah untuk duduk di sofa yang sudah tersedia.


"Revan, dia yang udah bunuh Raka!" ucap Sarah langsung kepada intinya.


Deon mengerutkan dahinya, senyumnya di bibirnya hilang begitu saja setelah mendengar pernyataan Sarah.


"Kamu harus percaya sama aku! aku mohon, hanya kamu yang bisa bantuin aku buat jeblosin ba*jingan itu kepenjara," lirih Sarah memohon.


"Sar..."


Deon dan Sarah langsung mengalihkan sorot mata mereka ke sumber suara secara berbarengan.


"Deon, kamu harus percaya sama aku! aku gak bohong!" tegas Sarah meyakinkan.


Revan melangkahkan kakinya perlahan mendekati Deon dan juga sang istri. dengan ekspresi santai pria tersebut pun berkata, "Ada apa?"


"Kamu jangan tertipu sama dia, dia itu pembunuh!" tubuh Sarah bergetar hebat saat Revan mendudukan bokongnya tepat di sebalahnya, dengan sorot yang memandang lekat wanita tersebut.


Revan meraih tangan Sarah dan menggenggamnya, "Siapa yang pembunuh, Sar?"


"Lepas!" Sarah langsung menepis tangan suaminya dengan kasar.


"Depresi Sarah makin memburuk, lo harus cepetan bawa dia ke psikiater." ucap Deon pada Revan merasa iba.


Sarah tertegun, apa ini? lagi-lagi dirinya diklaim sebagai wanita yang terkena gangguan jiwa. Sarah langsung mencengkram jas yang Deon kenakan, "Aku gak gila, aku bicara apa adanya. dia itu orang yang udah bunuh Raka!" tegas Sarah memekik.


Deon menghela nafas kasar, sambil menyandarkan tubuhnya perlahan. keyakinannya semakin kuat, jika Sarah benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya lantaran terus terjebak dalam masa lalunya.


"Lo urus masalah ini, karna dari awal gue udah bilang, bawa dia ke secepatnya ke psikiater!" tegas Deon merasa kesal, karna tak terima mendengar tuduhan Sarah terhadap Revan yang sudah melenyapkan sahabatnya tersebut.


"Deon, tunggu!" Sarah mencoba menghentikan Deon yang melangkah keluar dari ruangan kerjanya tersebut, "Aku gak boong!"


Deon benar-benar pergi, menyisakan Sarah dan Revan dalam ruangan kerja. bukan tanpa alasan, Deon yang menolak untuk percaya merasa batinnya tersayat lantaran masih dalam suasana berduka, ia harus melihat perjuangan Revan untuk menstabilkan kondisi Sarah yang menurut Deon sendiri sudahlah tidak waras.


Air mata Sarah mengalir, ia tertunduk dan tak berani menampakan wajahnya pada Revan. sungguh kebencian itu semakin melekat, karena bukan hanya unggul dalam merencanakan pembunuhan. ternyata Revan juga sangatlah jago berekting dihadapan semua orang.


Seketika terjadi keheningan, Revan yang sedari tadi terus memiringkan senyumnya pun mulai memangkas jaraknya diantara Sarah lalu meraih wajah wanita tersebut agar menatapnya. "Gak yang percaya, masih mau usaha?" tanya Revan dengan seringai licik yang tercipta.


"Aku mau kita cerai!"


Revan melebarkan bola matanya dengan gigi yang mengerat setelah mendengar permintaan istrinya.


"Aku gak sudi punya suami pembunuh kaya kamu, sampai kapanpun aku gak akan pernah naruh perasaan aku terhadap kamu! meskipun cuma sedikit!" tegas Sarah penuh penekanan dengan mata yang menggenang.


Revan terkekeh, ia mendekatkan wajahnya pada Sarah hingga kini nafas mereka sudah saling beradu dengan jarak bibir yang sangat tipis, "Aku udah susah payah bunuh Raka buat dapetin, kamu. dan sekarang kamu minta cerai? apa kamu pikir aku bakalan ikutin kemauan kamu, lalu semuanya berakhir? jangan mimpi, Sayang! kamu cuma milik aku! sampai kapanpun aku gak bakalan lepasin kamu!"


"Plak..." tamparan keras Sarah layangkan, "Kenapa kamu gak sekalian bunuh aku ajah!" jerit Sarah memecah tangisan.


"Aku gak mungkin nyakitin orang yang aku cinta, kamu hidup aku. aku bakalan sabar nunggu kamu, aku bersumpah bakalan motong tangan aku sendiri kalo aku berani nyakitin kamu!" ucap Revan penuh kelembutan menatap Sarah intens.


"Apa kamu pikir aku bisa hidup sama pria yang udah bunuh kekasih aku sendiri? manusia licik, pembunuh kaya kamu!"


Cup... kecupan singkat Revan daratkan dipucuk kepala Sarah. seperti biasa, dalam menghadapi api kemarahan Sarah, Revan selalu bersikap tenang. seolah semua yang pernah ia lakukan bukanlah sesuatu hal yang serius.


"Kamu gila, Van!"


Revan hanya tersenyum mendengar hardikan yang terus saja keluar dari mulut Sarah. dengan kepala yang menggeleng, Revan mengelus rambut Sarah kemudian berkata. "Semua itu demi kamu, Sayang! belajarlah untuk menerima kenyataan, karna sekarang kamu itu milik aku! aku bisa bahagiain kamu ngelebihin Raka." sejenak Revan meraih dan memaksa tubuh Sarah, memeluknya dengan erat dan penuh kasih sayang.


Sebenarnya apa yang berada dalam batin dan pikiran Revan. dia adalah pria berbahaya, bahkan sampai nekad membunuh seseorang hanya untuk mendapatkan cinta. Disisi lain Sarah tak pernah menerima perlakuan jahat Revan terhadap dirinya, justru sebaliknya. meskipun berulang kali ia melontarkan kata umpatan ataupun sejenisnya, Revan dengan sabar menghadapi hal itu dengan senyuman dan ketulusan cintanya yang dapat Sadah lihat dengan jelas.