
Rasa lelah bercampur bahagia itu terasa sangat mendominasi, Revan terus memandang wajah cantik istrinya yang sudah terpejam. tidak ada tolakan, seperti teriakan ataupun kata umpatan yang biasanya terlontar dari bibir manis Sarah. wanita itu bahkan tak lagi tidur dalam posisi memunggungi Revan sekarang.
Revan jadi teringat bagaimana pertama kali ia tertarik pada Sarah, tak hanya kecantikan Sarah saja Revan juga sangat mengagumi sifat ramah dan murah senyum wanita tersebut sebelum pada akhirnya semua ini benar-benar terjadi.
Flashback...
"Gak usah, disini ada Revan. aku tutup ya." ucap Sarah pada seseorang yang sedang melakukan panggilan dengan dirinya.
Revan yang awalnya sedang berkendara itupun langsung memelankan laju kendaraannya begitu melihat Sarah yang sedang berdiri dipinggir jalan, tidak jauh dari kantornya.
"Van, aku boleh numpang gak?" tanya Sarah setelah mengakhiri panggilan bersama Raka pada Revan.
Revan yang saat itu masih terlihat kikuk, dan mungkin bisa dikatakan ini adalah kali kedua dirinya berinteraksi secara langsung dengan Sarah. "Kemana?" sahut Revan kembali bertanya datar.
"Eummm," sejenak Sarah menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Anterin pulang." ucap gadis itu melebarkan senyumnya.
Revan berpikir keras, sebenarnya ia tak ingin berurusan dengan seseorang yang begitu mengagungkan Raka. tapi melihat kepolosan Sarah, Revan pun menyetujuinya.
"Naik," titah pria itu tanpa ekspresi.
Sarah langsung memancarkan rona kebahagiaanya. tak butuh waktu lama, gadis itu langsung membuka pintu mobil tersebut dan duduk tepat disebelah Revan, "Jalan ajah, sambil aku tunjukin arahnya." ucap Sarah setelah memasang sabuk pengaman.
Tanpa mengatakan apapun, Revan kembali menginjak pedal gas kendaraannya. luar biasa, ternyata Revan adalah pria acuh yang mengabaikan Sarah sebelum keduanya menikah. sebaliknya, Sarah adalah gadis cerewet yang terus mengoceh. dengan karakternya yang seperti itu, siapapun akan mudah terbiasa. bahkan sikap ketidak pedulian Revan pada akhirnya akan berubah dengan ketertarikan.
"Van, kok kamu diem terus sih?" tanya Sarah dengan bermaksud untuk mengorek permasalahan antara pria itu dengan kekasihnya.
Revan dengan sorot mata tajamnya melirik kearah Sarah. pria itu pun mengamati penampilan Sarah selama beberapa waktu, kemudian berkata. "Kemana si Raka? dia gak jemput lo?"
Sarah tersenyum tipis, dengan raut wajah sedikit kecewa gadis itupun menjawab. "Aku gak tau, akhir-akhir ini dia terlalu sibuk. katanya sih ada meeting, tapi ya udah lah, selama itu positif."
Revan memiringkan senyum sambil menggelengkan kepalanya, seolah sedang menertawakan apa yang Sarah katakan.
"Kenapa, Van? kok ketawa? aku lucu ya," celetuk gadis itu dengan sangat santainya.
"Lu bodoh," sahut Revan spontan.
Sarah langsung mengubah ekspresi diwajahnya dengan tatapan heran yang mengarah pada wajah Revan, "Ini becanda kan?" tanya gadis itu penuh kepolosan.
Revan terkekeh, "Enggak, gue serius."
Revan terdiam, walau bagaimana pun dirinya sama sekali tidak berhak mengatakan apa masalah yang sedang menimpanya dengan Raka sekarang. itu semua adalah tanggung jawab Raka, dan Revan hanyalah perantara.
"Van, kok diem? itu dahi kamu kenapa?" tanya Sarah penasaran setelah melihat ada sedikit luka pada bagian kepala pria tersebut.
"Ah, dahi?" Revan mengarahkan kaca mobil yang berada diatasnya ke pada bagian wajahnya, "Ini..." sejenak Revan menyentuh luka itu sambil berpikir, "Gue ini, gue gak sengaja nabrak pintu."
Sarah berdecak sebal, ia langsung meraih tas kecilnya dan mencari sesuatu didalam sana. "Kamu udah gede bukannya hati-hati, kayak anak kecil tau gak." setelah gadis itu berhasil mengeluarkan sebuah plester luka, Sarah langsung menempelkannya pada dahi Revan tanpa segan.
Apa ini? kenapa gadis ini begitu perhatian, pertanyaan itu terus saja berkutat dalam otak Revan. tidak Salah, kenapa Raka enggan untuk meninggalkan Sarah karena memang dari segi apapun wanita tersebut terlihat begitu unggul dan sempurna.
Hati Revan terguncang, kelembutan tangan Sarah menyentuh wajah Revan sukses menggetarkan hati pria tersebut.
"Lain kali hati-hati ya, Van." ucap Sarah setelah menempelkan plester tersebut.
Bibir Revan terasa kelu, ia tak bisa mencerna dengan baik apa yang Sarah katakan. bahkan sorot mata Revan yang terus memandang kagum pada Sarah pun sangat sulit untuk dialihkan.
"Van," pekik Sarah setelah berulang kali gadis itu memanggil nama Revan.
Seketika lamunan Revan buyar, ia kembali membenarkan posisi mengemudinya dan berfokus pada jalanan.
"Ehem," Revan berdehem untuk menghilangkan kecanggungan, "Euh Sar, lo baik sama semua orang?"
Sarah terkekeh, menurutnya pertanyaan Revan terdengar sangat menggelikan. "Iyalah, masa baik pilih-pilih. itu sih perhitungan namanya," celetuk Sarah menjawab.
"Kalo orang itu jahat, apa lo masih mau baik sama dia?" tanya Revan penuh keseriusan.
Sejenak Sarah terdiam dengan raut wajah datar, "Kenapa sih? kok pertanyaan kamu kaya gitu?"
"Ya gue cuma nanya, kalo lo gak mau jawab juga gapapa."
Sarah menghembuskan nafas perlahan, "Aku sih oke ajah, malah berharap jika kebaikan kita bisa bikin orang jahat itu berubah."
Revan mengangguk, dengan seringai misterius yang tercipta. "Kalo gue orang jahatnya gimana?"
Gadis itu melebarkan senyumnya, dan langsung menyentuh tangan Revan sambil mengelusnya perlahan. "Aku percaya kamu orang baik, Van. aku percaya ku bukan penjahat," ucap Sarah penuh kelembutan.
Revan tertegun, sorot matanya kembali teralihkan memandang wajah cantik Sarah. tidak hanya kecantikannya saja yang berhasil membuat Revan terkagum-kagum, bahkan gaya bicara Sarah dan kelembutan disertai perhatiannya sukses membuat Revan seolah tertarik untuk segera mengulik lebih dalam kehidupan wanita tersebut.