
Memiliki amarah yang agak sedikit sulit untuk dikendalikan, mungkin itulah salah satu kekurangan Riyanti. tidak hanya kesulitan untuk memiliki keturunan, wanita itu mudah sekali melampiaskan rasa kesalnya dengan cara melempar barang untuk memuaskan kejengkelannya.
Riyanti tidak terima, bagaimana mungkin ia bisa merelakan Sarah begitu saja hidup dengan seorang pembunuh. cukup tahu diri, karena dirinya sering kali kesulitan dalam urusan kehamilan. Riyanti benar-benar tak ingin menyia-nyiakan hidup Sarah, dengan menyerahkan wanita itu pada Revan.
"Permisi..."
Dengan emosi yang masih meningkat, Riyanti mengalihkan sorot matanya kearah pintu utama kemudian bertanya, "Siapa kamu?"
Terlihat jelas jika Darma cukup terkejut, setelah melihat seseorang itu datang. pria paruh baya itu mendalamkan kerutan di dahinya, lalu dengan cepat melangkah mendekati wanita yang baru saja datang tersebut.
"Hay..." sapa wanita itu dengan suara terendah.
"Siapa?" Riyanti pun langsung menyusul langkah suami dengan sorot mata heran menatap gadis yang terlihat sepantar dengan putrinya.
"Laura, pengantar kue." ucap gadis tersebut memperkenalkan diri sambil menunjukan sesuatu yang ia bawa pada Darma dan Riyanti.
Pandangan Riyanti beralih pada Darma yang sedari tadi terus menatap Laura. "Papah pesen kue?"
Spontan Darma tersentak, memalingkan wajahnya penuh kecemasan. "E... enggak," sahutnya sambil menggelengkan kepala.
"Oh ini," Laura menyerahkan kue ditangannya pada Darma dengan jemari yang sangaja wanita itu mainkan, seolah memberikan isyarat tanpa Riyanti sadari. "Dari seseorang yang bernama Revan."
Rahang Darma mengeras, seluruh urat ditubuhnya semakin menegang. lagi-lagi Revan yang ada dibalik semua ini, apa maksud tujuan Revan mengirimkan wanita simpanan Darma kerumahnya?
"Oh, tunggu sebentar." Riyanti berlalu begitu saja meninggalkan Laura dan Darma.
Kesempatan itu langsung Darma manfaatkan, dengan cara mencengkram kuat tangan Laura kemudian berkata. "Kamu sekkngkol sama Revan? kamu mengkhianati saya?" tegas Darma bertanya penuh penekanan.
"Aw..." Laura meringis menatap lekat wajah Darma, lalu menjawab. "Enggak, aku gak sekongkol sama dia. justru aku datang, karena dia udah nyuruh sekaligus ngancem aku."
Darma berdecak kesal. pria itu langsung melepaskan cengkraman tangannya dari sang kekasih, karena takut jika Riyanti akan melihatnya.
"Ini..." Riyanti memberikan beberapa lembar uang receh pada Laura, dengan bermaksud untuk memberi wanita itu tip pengantaran.
Apa ini? uang receh. meskipun Laura bekerja diberbagai tempat, tetapi wanita itu sama sekali tidak kekurangan uang. Darma sendiri yang telah membiayai seluruh kebutuhan hidupnya, lalu anggap saja jika pekerjaan yang Laura jalani hanya sebuah formalitas. dengan begini, ia merasa mendapat penghinaan dari Riyanti. tanpa wanita paruh baya itu sadari, ia sedang berhadapan dengan seseorang yang sering memuaskan hasrat suaminya kala dirinya sedang bertengkar.
Laura tersenyum getir, dengan terpaksa wanita itu mengambil uang yang Riyanti berikan.
Tak ingin menanggapi kekesalan Laura yang begitu jelas, Darma pun memilih kembali masuk kedalam rumah. guna menghindar dari sesuatu yang tidak diinginkan, anggap saja Laura adalah seorang wanita ceroboh. ia cenderung meluapkan sesuatu yang mengganjal dalam dirinya, secara spontan. lalu setelah kekacauan terjadi, wanita itu akan mengeluh jika dirinya telah menyesal.
"Apa yang Revan rencanakan?" Darma menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, pria itu terlihat kewalahan mengikuti permainan Revan yang hampir saja akan membakar dirinya.
Sudah terlibat sejauh ini, tentu bukan hal yang benar jika Darma terus terdiam. sepertinya dengan sengaja, ingin menciptakan kekacauan antara Darma dan juga keluarganya. Revan juga gak pandang bulu dalam memilih lawan, meskipun Darma adalah mertuanya.
*****
"Sayang..."
Revan yang sedang menerima panggilan diluar kamar pun menjawab, "Kenapa, Sar?" Revan kembali menempelkan ponsel di daun telinganya. "Nanti saya hubungin lagi," lalu Revan langsung memutuskan panggilan tersebut secara sepihak.
"Beli susu formula," titah Sarah sambil membuka pengait dua gundukannya.
Mata Revan sedikit membulat, ia langsung mendekati Sarah kemudian bertanya. "Ngapain?"
"Mijet asi," sahut Sarah prustasi dengan bibir yang mengerucut.
Revan menghela nafas panjang, ia terduduk disebelah sang istri lalu kembali melemparkan pertanyaan. "Masih belum keluar?"
Sarah menganggukan kepalanya, sedikit kecewa karena tak bisa memberikan asupan yang seharusnya pada Zoya. Sarah pun hanya bisa melampiaskan semua itu pada Revan dan juga pada dirinya sendiri.
"Gapapa, jangan dipaksain. yang penting Zoya sehat." ucap Revan menenangkan sang istri.
Sarah hanya terus terdiam, perlahan ia memijat buah dad*anya sambil sesekali memasangkan alat pemompa asi. agar asupan sang bayi bisa segera keluar dari sana.
"Aku bantu ya?" Revan meraih tangan Sarah hingga sukses membuat sang istri langsung mengalihkan pandangan setelah mendengar penawaran Revan.
Revan langsung beranjak duduk, dibelakang tubuh Sarah. pria itu perlahan menurunkan tali dress yang Sarah kenakan lalu mendekatkan wajahnya diantara ceruk leher sang istri.
"Mmm..." Sarah dengan bersusah payah menelan salivanya, bulu kuduknya seakan merinding saat deruan nafas Revan berhasil menyapu area sekitar lehernya. Ka... kamu, yakin?" tanya Sarah terbata.
"Gak yakin kenapa?" tangan Revan mulai akan menyentuh dua gundukan milik Sarah. bahkan belum sempat tersentuh saja, tubuh Sarah sudah kian menegang.
"Cukup, Van!" Sarah langsung meraih tangan Revan yang hendak menyentuhnya. "A... aku bisa sendiri."