Love By Accident

Love By Accident
Episode 33



"Lo jangan egois," Revan mencengkram kerah pakaian yang Raka kenakan dengan mata melotot penuh kemarahan.


Apa yang harus Raka lakukan? membalas kemarahan tersebut rasanya mustahil. bagaimanapun Revan adalah sahabatnya, jika ia melawan itu artinya mereka benar-benar telah menyalakan api peperangan.


"Cukup, Revan!" Deon yang melihat kejadian itupun langsung menghampiri keduanya. sejauh ini Deon tetap bersabar, karena Raka dan Revan masih tetap menyembunyikan akar permasalahan yang belum Deon ketahui. "Sebenernya lo berdua itu kenapa? apa yang kalian ributin sih?" pekik Deon kesal melirik kearah Raka dan juga Revan secara bergantian.


Raka terdiam, sedangkan Revan terus memincingkan matanya seolah menunggu agar sahabat yang sekarang telah menjadi rivalnya tersebut membuka suara.


"Jawab!" tegas Deon mencecar.


"Si Anj*ing ini udah ngehianatin gue!" sahut Revan spontan. emosinya kian memuncak, saat melihat Raka seolah enggan untuk mengakui hal itu.


Tak terelakan, Raka justru malah menggelengkan kepalanya seolah menampil hal yang Revan katakan. "Enggak, itu semua gak seperti yang Revan bilang!"


"Terus apa? kenyataannya lo udah tidur sama Kalila, bangs*at!"


Deon membulatkan matanya, ia menajamkan tatapan pada Raka kemudian berkata. "Lo? apa... apa itu bener?" tanya Deon terbata.


***


"Pagi, Sayang." Revan menarik selimut yang masih Sarah kenakan, kemudian mendaratkan ciuman singkat pada bibir sang empu yang sedang mengumpulkan kesadaran. "Sarapan udah aku siapin, kamu bangun. aku harus ke kantor sekarang." ucap Revan sambil mengelus wajah cantik istrinya.


Seperti biasa, hanya terlihat kekesalan dan sikap dingin yang terus Sarah pamerkan. meskipun begitu, Revan dengan begitu sabar melayani sang istri, meskipun tugas itu seharusnya menjadi tanggung jawab Sarah.


"Aku cinta kamu," Sekali lagi Revan mengecup bibir Sarah tanpa permisi, melebarkan senyuman penuh kebahagiaan pada wanita dingin tersebut lalu kemudian Revan beranjak menjauh meninggalkan Sarah sendirian di kamarnya.


Sarah menghela nafas kasar, mungkin sikapnya begitu sangat keterlaluan. tetapi ia sendiri berpikir, Revan tampan dan bahkan memiliki segalanya. sambil meraih segelas susu di atas nakas Sarah pun berkata, "Kenapa harus kamu, Van? kalo ajah bukan kamu pembunuhnya mungkin sekarang aku udah jatuh cinta sama kamu."


Bagaimana Sarah harus menata kebencian dan ketertarikannya terhadap Revan yang semakin kuat? Sarah terus menolak agar dirinya tak menaruh perasaan terhadap Revan. tetapi kelembutan pria itu selalu sukses membuat dirinya melayang.


Drrt... Drrt...


Sorot mata Sarah teralihkan pada sebuah ponsel yang tergeletak di sampingnya, wanita itu berdecak kemudian berkata. "Ih, kenapa hpnya malah ditinggal sih." Sarah mengerucutkan bibirnya, meraih ponsel tersebut lalu membuka screen lock pada ponsel milik Revan.


Semburat senyum Sarah tercipta, saat melihat gambar cantik dirinya terpasang pada layar ponsel.


"Sar..."


Wanita itu terkejut, dan langsung melempar ponsel ditangannya begitu saja saat mendengar suara Revan.


"Ponsel aku, kelupaan." ucap Revan tersenyum tipis.


"Aku pulang telat ya, ada meeting sama klien."


Apa perduli Sarah? sebanyak apapun Revan bicara semua itu tetap akan Sarah abaikan.


"Kamu mau sesuatu gak? nanti pulang aku beliin." tanya Revan penuh kelembutan mendekati istrinya.


Sarah mengabaikannya lagi, wanita itu malah beranjak dari tempat tidurnya melangkah menuju kamar mandi.


"Sayang..." Revan menarik tangan Sarah dan memeluk istrinya dengan sangat mesra, "Mau sampai kapan kamu diemin aku?" tanya Revan menggoda. pria itu bahkan dengan sengaja menghembuskan nafas di area ceruk leher milik Sarah untuk memancing gairah hasratnya.


"Van, kamu mau kerja. lepasin aku!" pinta Sarah ketus.


"Cium aku dulu, baru aku lepasin."


"Jangan mimpi," sahut Sarah menolak spontan.


"Yaudah aku maksa," pria itu langsung memalingkan wajah Sarah agar membalas tatapannya.


Mata Sarah membulat, wanita itu meletakan tangannya di dada Revan, seolah sudah bersiap untuk menahan tubuh kekar suaminya agar tidak semakin mendekat.


"Cium aku sekarang," pinta Revan sekali lagi.


Sarah menggelengkan kepalanya dengan cepat, sambil kembali memalingkan wajahnya.


"Gak bisa," Revan menahan wajah Sarah agar tetap terus membalas tatapannya. "Gak bosen, kalo mau itu harus aku paksa?"


Sarah menelan salivanya bersusah payah kemudian menjawab, "i... itu apa?"


Seringai licik tercipta dibibir Revan, pria itu bahkan membuka satu persatu kancing piyama yang Sarah kenakan.


"Van!" Sarah mencoba menolak, tetapi pria itu dengan kuat memeluk dan mengunci pergerakannya.


Cup... Revan mencium dan mengecup dada istrinya, pria itu bahkan meninggalkan jejak kemerahan disana. tak elak detak jantung Sarah mulai berpacu dengan cepat, perasaannya mulai tidak karuan.


"Van..." lenguh Sarah sisertai tolakan halus mencengkram rambut tebal milik Revan.


Pria itu terlihat begitu rakus saat sekarang Sarah berada tepat diatas pangkuannya. Revan menyapu bersih dan memainkan lidahnya di pusat sensitif dua gundukan istrinya hingga sukses membuat Sarah terjebak akan dilema kenikmatan dan juga kebencian.