Love By Accident

Love By Accident
Episode 58



"Selamat pagi," Sarah berjalan santai mengembangkan senyumnya, sambil sesekali menyapa semua orang yang berpapasan dengannya.


Sesaat setelah Sarah berlalu, memasuki sebuah lift untuk menuju lantai atas. semua orang langsung berkerumun, mempertanyakan apa maksud dan tujuan Sarah datang ke kantor milik suaminya.


"Dia emang cantik, wajar ajah Pak Revan mau gantiin temennya buat nikahin dia."


Salah seorang pegawai wanita lainnya menggelengkan kepala dengan sorot mata kagum, memandang Sarah dari kejauhan. "Beruntung banget. gue bertahun-tahun kerja disini, sama sekali gak pernah di lirik sama Pak Revan."


"Gue denger dia baru ajah melahirkan," penggosip itupun mengerucutkan bibirnya. "Badannya malah makin bagus, sedikit berisi malah makin sexy."


"Ehmm..." Revan yang mengetahui jika para pegawainya sedang membicarakan sang istri pun langsung menghampiri mereka. "Masih mau kerja gak?" ucap Revan bertanya dengan seringai misterius.


Mereka semua hanya tertunduk dengan wajah memucat. sebagian bahkan langsung memundurkan langkahnya, menuju meja kerja yang telah disediakan.


Sementara itu. Sarah yang sudah berada di lantai atas pun hanya bisa terduduk, menunggu kedatangan suaminya. mereka berdua memang datang bersama, tetapi Revan justru malah menyuruh Sarah untuk turun lebih dulu saat Revan memarkirkan mobil di tempat yang seharusnya.


Sarah terus memainkan ponsel, memandang kekagumannya pada sang buah hati. seolah mendukung penuh apa yang Revan putuskan, Ratna bahkan dengan senang hati bersedia menjaga Zoya.


"Kayanya Mamah juga tau sesuatu tentang rencana Revan." gumam Sarah menduga-duga.


Cleak... Suara dorongan pintu pun terdengar, spontan Sarah langsung melirik ke suatu arah dan melihat sang suami sedang menutup pintu lalu menguncinya.


"Huft..." Revan menghela nafas panjang dan langsung mendekati Sarah lalu mengecup pipinya singkat.


"Kenapa?" tanya Sarah penasaran.


"Aku punya sesuatu, dan sekarang kamu udah mulai bisa kerja."


Sarah mendalamkan lipatan di dahinya, "kerja?" wanita itupun terkekeh, karena tak biasanya Revan membebankan sesuatu pada Sarah. "Kamu bangkrut? kok nyuruh aku kerja?"


"Nurut ajah sama suami. ini buat kebaikan kamu, ngurus perusahaan itu gak gampang."


"Bentar-bentar," Sarah mempertajam tatapannya. sungguh Revan sama sekali tak mengatakan apapun sebelumnya, tentu Sarah terkejut dan merasa heran atas keputusan suaminya sekarang. "Jelasin dulu, aku gak ngerti."


Revan beranjak, ia menjauh dari Sarah lalu mendekati meja kerja dan mengambil beberapa lembar berkas di sana. "Ini," ucap Revan memberikan beberapa lembar surat tersebut pada sang istri. "Mulai sekarang kamu udah jadi pemegang saham,"


"Loh, inikan perusahaan Papah. kenapa secepat ini?" sejenak Sarah menghentikan ucapannya lalu memeriksa berkas tersebut secara rinci. "Ini serius? kok bisa?"


"Bisa," Revan mengelus pucuk kepala Sarah perlahan. "untuk sekarang jangan tanya apapun, inget apa yang aku bilang?"


Sarah tersenyum tipis dan mengangguk kemudian menjawab, "Selalu ada alasan dibalik tindakan."


"Aku cinta kamu," ucap Revan mengungkapkan isi hatinya.


Meskipun terbilang cukup sering. kalimat cinta yang Revan lontarkan tak pernah terdengar membosankan. justru sebaliknya, Sarah semakin ingin mendengar kata-kata indah tersebut yang sukses membuat perasaannya bahagia.


Revan mengelus punggung dan pingg*ul Sarah dengan perlahan, "Hari ini kamu cantik, pegawai banyak yang iri." ucapnya menggoda.


Revan terkekeh, penolakan sang istri justru malah semakin membuat dirinya gemas. sejenak Revan menghentikan aksinya kemudian menjawab, "Ini lebih seru, dari pacaran sebelum menikah."


Sarah meletakan jari-jari lentiknya di atas bahu Revan, sambil memperdalam tatapan. "Maksud kamu?"


"Jangan begini, kalo aku gak tahan gimana?" Revan menyingkirkan tangan Sarah dari bahunya, lalu mendorong tubuh wanita tersebut hingga Sarah sudah terhimpit oleh tubuh suaminya.


"Van," Sarah menahan tubuh pria itu, dengan mendorong dada Revan perlahan. "Ini kantor, jangan gila."


"Kita lagi kasmaran, jadi mau di manapun aku gak masalah. kayanya itu hal wajar," ujar Revan sambil mengecupi setiap inci kulit diarea ceruk Sarah.


"Mmm, Vanhh..." Sarah masih saja memberikan tolakan-tolakan halus. meskipun dirinya menerima sentuhan yang Revan berikan. "Jangan di sini."


Tangan Revan mulai menyusup kebalik ujung dress yang Sarah kenakan. Revan mengelus sambil mengecupi sudut bibir istrinya dengan begitu rakus.


Satu persatu kancing yang terdapat dibagian dada Sarah, Revan lepaskan. pria itu bahkan menyapu bersih bagian tersebut dengan lidahnya hingga sukses membuat gairah Sarah mulai membara.


"Van..." tubuh Sarah terangkat, dalam sekejap wanita tersebut sudah berada di atas pangkuan Revan tanpa melepaskan penyatuan bibir yang sedari tadi pasangan itu lakukan.


Sarah bahkan tak tinggal diam, ia semakin membuka mulutnya mengimbangi gaya berciuman sang empu. tangannya dengan sangat terlatih membuka satu persatu kancing kemeja yang Revan kenakan. dapat Sarah rasakan, jika bokongnya sekarang tengah menduduki kelelakian Revan yang tengah mengeras.


"Tok... tok..."


Sarah tersentak. wanita tersebut langsung menghentikan aksinya, sementara Revan, ia tak memperdulikan suara ketukan pintu dan menahan sang istri agar terus melanjutkan aksi panasnya.


"Tapi ada yang dateng," Sarah mengalihkan wajahnya saat Revan hendak kembali meraih bibirnya.


"Gapapa, nanti aku pecat." sahut Revan sembarangan kemudian kembali, mengulu*m bagian kecil di pucuk dada istrinya.


"Van!" pekik Sarah kesal, "nanti berantakan! malu!"


Revan mengalah, ia langsung menurunkan sang istri dari tubuhnya. Revan tidak bisa mendeskripsikan perasaannya sekarang, pada intinya menahan hasrat adalah hal yang sangat ia benci.


"Rapiin bajunya," titah Sarah mengingatkan.


Tanpa menggubris, Revan pun mengiyakan apa yang Sarah perintahkan. kemudian melangkah mendekati pintu untuk melihat siapa pegawai yang telah berani mengganggu aktifitas intimnya.


"Kenapa?" tanya Revan dingin spontan.


"Hay..."


Revan membulatkan matanya, ia terkejut saat menyadari jika wanita yang sedang berdiri dihadapannya sekarang adalah Laura.


"Siapa?" tanya Sarah penasaran menghampiri.