Love By Accident

Love By Accident
Episode 30



Tak berhenti sampai di sana, Sarah benar-benar menantang Revan untuk mengundang Deon datang dan menanyakan kebenaran yang Sarah katakan sebelumnya. bagaimana pria itu bisa menolak? Revan rasa alasan untuk mengalihkan permintaan Sarah pun hanya akan membuat semua orang berpikir jika semua itu adalah kenyataan.


Sampai detik ini Revan hanya bisa terdiam, suhu tubuhnya meningkat pesat. keringat cemas itu menetes dari dahi pria tersebut. Revan hanya bisa menyaksikan bagaimana Deon menatapnya dengan penuh kekesalan. sedangkan semua orang sedang menunggu apa yang akan Deon katakan perihal pernyataan dan pertanyaan yang Sarah lemparkan.


"Jawab aku, Deon. kenapa kamu diem?" lirih Sarah penuh harapan, wanita itu meraih dan menggenggam tangan Deon sambil terisak. "Bantu aku, Deon. bantu aku lepas dari Revan! aku mohon, tolong katakan yang sebenarnya sama semua orang." tangisan Sarah semakin pecah, besar harapan ia sematkan dalam hatinya pada Deon. karena beberapa waktu lalu Deon pun sempat marah sampai memukul Revan untuk meluapkan amarahnya pada pria yang berstatuskan suami Sarah tersebut.


Hanya terdengar rintihan Sarah, semua orang terdiam menatap kearah Deon seolah tidak sabar untuk mendengar penjelasan pria tersebut.


Revan yang sudah ketakutan itupun terus tertunduk, tak berani menatap kearah Deon yang terus mengintimidasinya. rasanya untuk bernafas saja Revan kesulitan, sungguh suasana seperti ini sangat menyiksa dirinya. bagaimana jika semua orang percaya, meskipun tidak ada bukti yang kuat tentu kejujuran Deon akan sangat berpengaruh pada hidup Revan. karena setelah ini ia akan kehilangan kepercayaan dari semua orang terdekatnya, citra hidup Revan bahkan akan dipertaruhkan.


"Ehhmm..." Deon berdehem, sejenak ia menelan salivanya memandang Sarah sambil membalas genggaman tangan wanita tersebut. "Aku tau kamu tersiksa," Deon tersenyum tipis sambil mengelus pucuk kepala Sarah, "Semua pasti berlalu. sabar, Sar. kamu kuat."


Sarah menghentikan isakan tangisnya, ia memperdalam tatapan pada pria dihadapannya tersebut, "Jujur..." pinta Sarah memohon.


Deon menghela nafas panjang, ia mengalihkan tatapannya pada kedua orang tua Revan dan juga Sarah kemudian berkata, "Sarah hanya belum bisa merelakan kepergian Raka."


Deg...


Sarah tertegun, perasaannya hancur genggamannya kian melemah dengan ekspresi tidak percaya.


"Emang gak mudah buat ngelupain seseorang yang lo cinta, tapi liat Revan. dia juga cinta sama lo, relain dan lupain Raka. lo harus bisa terima kenyataan." ucap Deon dengan semburat senyum yang tercipta.


Bagi kedua orang tua Sarah dan Revan, ungkapan yang Deon katakan memanglah terdengar seperti penguatan dan dukungan seorang tema. Namun lain bagi Deon, Revan dan juga Sarah. pernyataan itu memanglah seruan untuk Sarah menerima Revan, melupakan segalanya yang sudah terjadi. sebab Deon sendiri berpikir, semua sudah tidak berguna. kenyataanya Raka memanglah sudah tiada.


"Aku pikir kamu temen aku, Deon." Sarah menghapus air mata yang menetes dari pelupuknya, "Aku salah," Sarah mengalihkan tatapannya, "Aku salah karena udah menaruh harapan sama kamu."


Deon menatap kearah Revan yang sepertinya pria itu terlihat lega setelah mendengar jawaban Deon atas pertanyaan Sarah. "Sepertinya semua sudah jelas, jika tidak ada hal lain saya pamit." ucap Deon pada kedua orang tua Sarah lalu melangkah keluar dari ruangan tersebut.


"Tunggu, Deon." pekik Revan mengejar.


Deon pun menghentikan langkahnya, ia memalingkan tubuhnya perlahan dan menatap Revan yang saat itu mulai melangkah mendekatinya.


"Kenapa lo lakuin ini?" tanya Revan dengan sorot mata tajam.


Deon memangkas jaraknya, hingga ia berdiri tepat dihadapan Revan dengan wajah keduanya yang kini saling bertemu. seringai misterius Deon tercipta, pria itu bahkan mendaratkan tangannya di atas bahu Revan kemudian menepuknya perlahan, "Gue gak mau kehilangan sahabat gue untuk yang kedua kalinya."


Bibir Revan terasa kelu, Deon memanglah sangat bijaksana dan juga dewasa. bahkan saat ketiga pemuda itu masih bersama, Deon-lah yang selalu menjadi penengah saat mereka semua berbeda pendapat ataupun berselisih paham.


"Gue tau lo benci sama Raka, gue tau lo marah sama dia." Deon menghentikan ucapannya sejenak, kemudian menghela nafas panjang. "Tetep ajah, ngebunuh dia itu bukan solusi. selamanya Sarah bakalan nganggep lo buruk, Sarah bakalan terus ngeliat lo sebagai pembunuh meskipun cinta lo tulus sama dia."


Revan menelan salivanya dengan bersusah payah, matanya kian memanas kebenciannya terhadap Raka begitu mendominasi, meskipun hati Revan sempat tersentuh saat mendengar ungkapan itu dari Deon.


Ingatan itu muncul, saat dimana Raka menolak keras untuk meninggalkan Sarah.


"Maaf, tapi gue bener-bener gak bisa ninggalin Sarah." ucap Raka pada Revan dengan berat hati.


Revan hanya bisa terdiam saat mendengar pernyataan itu keluar dari mulut Raka. ia begitu marah dan kecewa, Revan merasa sangat telah dipermainkan atas janji yang sudah Raka katakan.


"Gue gak bisa, Van. gue udah janji bakalan nikahin dia, gue..."


"Tapi, lo. udah janji sama gue kalo, lo. bakalan ninggalin dia!" pekik Revan dengan rahang yang mengeras memotong pembicaraan.


"Maaf, gue gak bisa. Sarah segalanya buat gue! maafin gue." ucap Raka sambil memundurkan langkahnya kemudian berlari meninggalkan Revan begitu saja.