
"Keadaan Sarah makin parah, masa tadi dia bilang kalo Revan yang udah bunuh Raka." ucap Deon pada Natalie, pria itu memang selalu mengatakan semua masalahnya pada sang kekasih baik itu masalah pekerjaan maupun urusan pribadinya.
Natalie yang sedang mempercantik kuku lentiknya pun mengalihkan matanya menatap Deon dengan sorot datar. seolah sudah terbiasa menghadapi cerita tersebut, karena memang Deon dan Natalie pun tak tinggal diam sudah memaksa Revan agar secepatnya menangani masalah kejiwaan Sarah.
Natali meletakan kuas kecil cat kukunya, kemudian berkata. "Aku mau bantu dia secara personal, tapi aku takut."
Deon sendiri terlihat langsung menolak. ia menggelengkan kepalanya spontan lalu berucap, "Aku gak mau terlibat lebih jauh. yang penting keinginan Raka udah aku sama Revan laksanakan. selebihnya terserah Revan ajah."
"Tapi aku kasian!" tegas Natalie.
Deon menghela nafas kasar, ia langsung mendekati istrinya mencoba memberikan penjelasan. "Denger, Sarah itu berbahaya. nanti kalo kamu di apa-apain gimna?"
"Tapi kalo sesekali aku mastiin keadaan dia gapapa kan?"
Deon mengangguk pasrah, sepertinya tingkat kebudak cintaan pria itu juga sudah berada diluar batas normal. Deon akan mengiyakan segala keinginan kekasihnya, karena Natalie sendiri adalah wanita yang cukup sensitif. kekasihnya tidak diperbolehkan untuk melakukan kesalahan sekecil apapun, jika Deon melanggar, itu artinya hubungan mereka pun dipertaruhkan.
***
Setelah aktifitas bercinta itu selesai, Sarah sedikit mengalami gangguan tidur. matanya sulit terpejam, dan ia sendiri memilih untuk mengunci dirinya di dalam kamar kecil.
Revan sempat mengetuk beberapa kali pintu kamar mandi tersebut, ia mulai merasa khawatir lantaran Sarah yang tak kunjung keluar karena wanita itu sudah memakan waktu lebih dari dua puluh menit.
"Sar..." Pekik Revan memanggil.
Sarah tak memperdulikannya, dengan keadaan tubuh telanja*ng wanita itu terus menatap pantulan dirinya dihadapan cermin. rasa heran bercampur bimbang mulai menyelimuti Sarah, sampai kapan dirinya akan bertahan dalam genggaman Revan? sedangkan jika dirinya pasrah dengan keadaan ia merasa sangat jahat terhadap Raka, yang lebih dulu telah berpulang.
"Ahhh..." Sarah meremat rambut kepalanya sendiri prustasi, "Aku harus ngapain." gumam Sarah memelas sambil sesekali membenturkan kepalanya ketembok.
Mata Sarah melihat beberapa tanda kemerahan disekitar dada dan juga perutnya. sedikit menyesal, karena ia tak bisa menolak apa yang Revan lakukan terhadap dirinya. kenapa Sarah harus berada dalam lingkaran pahit tersebut? batinnya tersiksa, hatinya terluka setiap kali dirinya melihat pembunuh kekasihnya terus berkuasa atas diri dan juga tubuh Sarah.
Siapa yang akan membantu Sarah? bahkan semua orang telah menganggap Sarah memiliki masalah dalam kejiwaannya. untuk mengikhlaskan pun semua itu tidak akan mudah, Sarah akan dihantui rasa bersalah dan penyesalan selama hidupnya karena telah mengkhianati kekasihnya sendiri dengan menerima cinta dari pembunuh tersebut.
Tubuh indah itu sudah terbungkus oleh handuk, dengan rambut sedikit lepek Sarah keluar dari dalam kamar mandi perlahan.
Api kemarahannya kian memuncak, saat matanya harus kembali melihat sesosok pembunuh yang tega melenyapkan kekasihnya tersebut.
Dalam keadaan Revan yang sedang tertidur, Sarah memunggungi pria jangkung itu lalu tangannya mulai membuka nakas yang ternyata didalam nakas tersebut sudah ada sebuah pisau yang sengaja Sarah siapkan.
"Sayang..."
Sarah tersentak saat Revan menarik tangannya dan membawa wanita tersebut kedalam pelukannya.
"Kenapa belum tidur? masih kurang?" tanya Revan menggoda. sepertinya Revan sama sekali tidak menyadari jika Sarah sudah memegang pisau tajam yang bisa kapan saja menembus kulit kekarnya. "Sar..." belaian lembut dan kecupan singkat Revan daratkan, sedangkan Sarah hanya bisa tertunduk diam dengan keadaan wajahnya yang menempel tepat di dada Revan.
"Mau bunuh aku sekarang?"
Deg... Spontan Sarah mendongak menatap wajah Revan dengan mata yang membulat.
"Gini," Revan meraih tangan Sarah yang sudah menggenggam pisau lalu, mengarahkannya pada perut naik kebagian dada. "Bunuh aku sekarang," titah Revan santai dengan mata berbinar.
Sarah menelan salivanya, seluruh tubuhnya bergetar dengan rasa heran yang terus berkutat. sejenak Sarah memalingkan tubuhnya perlahan, dan melepaskan pisau tersebut memunggungi suaminya.
"Kenapa? kamu takut?" Revan menciptakan senyum yang menambah ketampanannya, "Aku gak bakal nuntut ataupun balas kamu kok, jika hal itu bikin kamu bahagia. aku rela!"
"Jangan bicara omong kosong lagi, Van!" Sarah menatap tajam kearah Revan dengan sorot mematikan. "Aku gak pernah bahagia hidup sama kamu!"
"Bukan enggak, tapi belum, Sayang." ucap Revan lalu kembali memeluk Sarah dari belakang, menempelkan wajahnya diatas bahu wanita tersebut.
"Najis banget aku hidup sama kamu! pembunuh!" tegas Sarah mengumpat sambil mencoba melepaskan tangan Revan yang melingkar diperutnya.
Kenakalan Revan tak berhenti, tangannya dengan lihai menari-nari di atas kulit tubuh Sarah, mencari dan langsung merema*s dua gundukan istrinya dengan sangat gemas.
"Revan!" bentak Sarah mencoba menolak.
"Jangan pernah kamu berpikir untuk bisa lepas dari aku, Sayang." Revan langsung merubah posisi antara dirinya dan Sarah. "Selamanya kamu cuma milik aku!" tegas Revan penuh penekanan dengan mata memincing.
Bibir Sarah terasa kelu, seketika dirinya langsung dirundung ketakutan saat melihat seringai menyeramkan dari Revan. "Aku... aku..."
"Kenapa? kamu takut?"
Sarah menggelengkan kepalanya perlahan dengan mata yang mulai memanas.
"Jangan macem-macem! terima kenyataan dan hidup bahagia sama aku!" tegas Revan membentak.