Love By Accident

Love By Accident
Episode 55



LIKE KOMEN DAN VOTENYA DONG. KECEPATAN UP TERGANTUNG PEMBACA


"Cukup, Van!" Sarah langsung meraih tangan Revan yang hendak menyentuhnya. "A... aku bisa sendiri."


Seringai licik tercipta di wajah Revan, ia sejenak menghembuskan nafas panjang kemudian berkata, sambil meraih wajah Sarah penuh kelembutan. "Kenapa?"


Kepala Sarah menggeleng, dengan mata yang masih membulat wanita itu hanya bisa terdiam dengan seribu bahasa. karena Sarah sendiri bingung, tanggapan seperti apa yang tepat, untuk merespon gerak-gerik suaminya yang sedikit nakal.


"Aku gak nyangka kita bisa sampai sejauh ini,"


Sarah mendongakan kepalanya perlahan, dengan ekpresi kikuk, wanita itu mulai membenarkan penyangga dada dan menaikan tali dressnya kembali.


"Aku, Kamu, dan juga Zoya." Revan mengelus pipi Sarah, nyaris tanpa cacat lalu mencubitnya dengan ekspresi gemas. "Akhirnya kamu pulang,"


Senyum Sarah tercipta, pesona Revan selalu saja membuat wanita itu tak bisa lepas, jauh darinya. bahkan Sarah sudah bisa mengingat dan mengenali aroma tubuh Revan yang selalu memanjakan indra penciumannya setiap pria tersebut tidur sambil mendekap Sarah.


"Aku boleh tanya sesuatu?" sorot mata Sarah dan ekspresi wajahnya terlihat jauh berbeda. entah mengapa, untuk saat ini Revan merasa jika dirinya sedang terintimidasi.


"Aku... aku kebelet," sahut Revan mengalihkan, sambil beranjak menjauhi istrinya.


"Tunggu..." Sarah menghentikan langkah Revan, wanita itu tepat menggenggam pergelangan tangannya lalu menajamkan tatapan. "Kenapa kamu pergi?"


Revan terlihat kebingungan, pria itu tersenyum canggung lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menjawab, "A... aku cuma kebelet."


"Jawab aku," Sarah beranjak, ia berdiri tepat dihadapan Revan dengan sorot mencecar. "Apa yang lagi kamu sembunyiin?"


Sejak kapan Revan menjadi pria lembek, ia terlihat ketakutan saat melihat ekspresi sang istri. Revan bahkan sampai memundurkan langkahnya saat Sarah terus melangkah memangkas jarak, antara dirinya dan Revan.


Bukan takut, lebih tepatnya ia tak ingin membuat Sarah kecewa. tentu bagi Sarah, Ayahnya adalah kebanggaannya. Revan juga berpikir, ini semua hanyalah ancaman. meskipun sedikit licik, ia tak memiliki cara lain untuk segera membawa kembali Sarah beserta buah hati mereka.


"Ja... jangan begini, kamu baru pulih." ucap Revan terbata.


Sarah terkekeh, ia meletakan tangan di atas dada Revan kemudian menempelkan wajahnya pada pria tampan tersebut. "Aku bukan hantu, jangan takut, Sayang."


"Cu... cukup, Sar!" Revan meletakan kedua tangannya di atas bahu sang empu. pria itu terlihat frustasi mengimbangi tingkah istrinya yang terlihat sedang tergila-gila padanya.


Revan mengerutkan dahinya dengan sorot mata heran. "sejak kapan kamu jadi makin berani?"


Sarah kembali memainkan jemarinya diatas tubuh Revan, lalu turun perlahan menuju bagian sensitifnya.


"Sarrr!!" Revan langsung meraih tangan Sarah dengan cepat. tak terbantahkan, naluri kelelakiannya memang sudah bekerja.


Namun Revan dengan sangat yakin, jika ia mampu menahan semua ini. seolah sudah di bolak-balikan oleh keadaan, akhirnya Revan merasakan ketegangan bercampur takut setelah beberapa saat lalu, Sarah merasakan hal yang sama.


"Gimana kalo aku gak tahan?" tegas Revan bertanya.


"Kan aku bisa puasin dengan cara lain," sahut Sarah santai.


Revan menghela nafas kasar, ia tertunduk sesaat lalu pada akhirnya langsung menarik dan membawa Sarah kedalam pelukannya. Revan mencium Sarah tanpa permisi dengan sangat rakus, pria itu bahkan meletakan tangan Sarah tepat di bagian tubuhnya yang sudah mengeras.


Tanpa memejamkan mata, Sarah bisa melihat jelas wajah Revan yang menempel pada dirinya. ia tak berkutik, saat tangannya di tuntun langsung oleh Revan untuk memanjakan sesuatu dibawah sana.


"Aku cuma takut kamu cari kesenangan lain, aku bakalan lakuin apa yang aku bisa. asal semua kebahagiaan ini gak cepet berlalu." gumam Sarah dalam batinnya.


Sarah mulai membalas ciuman, ia menggunakan nalurinya mengecupi setiap sudut bibir Revan. satu tangan Sarah menekan tengkuk Revan, untuk memperdalam ciuman. sedangkan tangan lainnya terus mengelus dan bermain dengan benda keras dibawah sana.


***


Sepertinya, Darma tak berhenti di sana. pria paruh baya itu terus saja merasa dirinya terancam. kekhawatirannya, terus menyudutkan Revan hingga tak ada kata baik yang berkutat dalam otak Darma sekarang.


"Revan!" Darma mengeratkan giginya, dengan tangan mengepal penuh kekesalan. "Saya harus menghancurkan kamu, sebelum kamu menghancurkan, saya!"


Sementara itu, ditempat lain. Laura terus memikirkan cara untuk menghadapi Revan, atas perintah Darma. bahkan keduanya sudah sepakat, akan menghancurkan hubungan yang terjalin antara Sarah dan Revan. entah itu dengan cara memancing kesalahpahaman. ataupun harus dengan cara memalukan sekalipun.


"Baiklah ini menarik," Laura memiringkan senyumnya, seketika ia kembali teringat dengan ucapan Darma. jika Laura tidak di ijinkan untuk menggoda Revan menggunakan tubuhnya. "Dasar tua bangka," umpat Laura dengan keukeuhan kecil.


Gadis itu hanya berpikir, bagaimana mungkin ia akan mengiyakan ucapan Darma dan memilih pria tua sepertinya. tentu jika ada kesempatan, Laura akan menganggap semua itu adalah bonus setelah ia berhasil menghancurkan rumah tangga Sarah dan Revan. "Lagi pula, si Revan lebih keren, yakali gue lebih pilih pria tua kaya, loe." gumam Laura picik.