Love By Accident

Love By Accident
Episode 49



JANGAN LUPA KOMEN, SEMUA TERGANTUNG ANTUSIASME KALIAN.


Keesokan harinya, Ratna dan Arman kembali datang mengunjungi Sarah dengan maksud dan tujuan untuk melihat keadaan wanita tersebut. Ratna dan Arman juga menyematkan secercah harapan, agar Sarah dapat diijinkan kembali oleh Riyanti dan juga Darma untuk pulang.


Saat melihat kedua mertuanya sudah datang, Sarah dengan senang hati menyambut mereka berdua. meskipun Riyanti dan Darma bersikap sangat acuh, itu semua kedua orang tua Sarah lakukan hanya demi kebaikan sang putri. Riyanti dan Darma tak ingin Sarah jatuh pada orang yang salah, tentu jika mengingat apa yang telah Revan lakukan, mereka tidak akan pernah bisa tenang.


"Maaf, kami tetap tidak akan mengijinkan kalian membawa Sarah." tegas Riyanti penuh penekanan.


Arman hanya bisa menghela nafas panjang, sedangkan Ratna jauh terlihat lebih tenang membujuk sang besan.


"Ini semua demi kebaikan Sarah, Revan sangat mencintainya. dia sudah berubah," ucap Ratna meyakinkan.


Sarah terlihat sangat sedih, matanya sudah menggenang sejak pertama kali mendengar tolakan yang orang tuanya lontarkan. wanita cantik yang sedang mengandung itu terus mencengkram tangan Ratna, sambil menatap sang mertua seolah memberikan isyarat jika Sarah juga ingin segera kembali.


"Tolong kalian jangan egois, bagaimanapun Sarah dan bayinya masih membutuhkan Sarah." gerutu Arman kesal, karena merasa sudah tak dihargai.


"Kami tetap menolak," Riyanti meraih tangan Sarah dan membantu mendirikan tubuh sang buah hati.


"Mah, tapi aku mau pulang sama Mamah Ratna. aku mau Revan." ucap Sarah menjatuhkan air matanya.


Tak ada gubrisan dari Riyanti, seolah sudah dibutakan dengan rasa takut dan khawatir Riyanti memilih bungkam dan menganggap jika apa yang ia lakukan sudahlah benar.


"Ah..." Sarah meringis, saat merasakan bagian perutnya terasa sangat kesakitan. "Ahhh, perut aku..." pekik Sarah menjerit.


Teriakan Sarah sukses membuat semua orang terkejut, Ratna bahkan langsung beranjak dan meraih tangan Sarah kemudian berkata. "Sar, kamu kenapa?"


"Mah, perut aku sakit." rengek Sarah histeris.


"Sarah akan melahirkan, cepet siapin mobil. kita bawa dia kerumah sakit," Titah Riyanti pada Darma cemas.


"Mah, sakit..." Sarah terus saja berteriak, ia menggengam erat tangan Ratna seolah tak ingin dijauhkan dengan sang ibu mertua.


Berbeda dengan para wanita, Arman yang saat itu terkejut pun sampai terpaku. pria paruh baya itu kebingungan, apa yang harus ia bantu dan lakukan. sedangkan semuanya sudah di urus oleh Darma dan para kaum wanita.


"Revan," batin Arman. ia langsung meraih ponsel dan mengirimkan pesan untuk memberitahukan kondisi Sarah yang akan segera melahirkan pada sang buah hati.


Revan, yang sedang berada di kantor pun langsung dengan cepat meminta alamat rumah sakit pada ayahnya. pria itu tentu akan segera menepati janjinya pada Sarah, Revan sempat mengatakan jika saat hari kelahiran putrinya tiba. ia tetap akan datang dan berada di samping Sarah meskipun Revan tau, jika kedua orang tua Sarah akan menolaknya.


"Kamu sabar, Revan pasti dateng, Sar." ucap Ratna menenangkan, sambil memberikan suport.


"Sar, ikutin apa kata Dokter! jangan pernah kamu sebut nama pria itu lagi." tegas Riyanti kesal.


Ratna berdecak, cukup muak mendengar pernyataan Riyanti yang terus saja menyudutkan dan menghina anaknya. wanita itupun tak tinggal diam, "Revan masih suaminya! dia masih berhak atas Sarah dan juga bayinya!"


"Sampai kapanpun saya gak akan Serahin Sarah sama kalian! Revan itu cuma..."


"Cukup!" bentak Ratna dengan mata melotot tajam, "Sudah cukup kamu terus menghina anak Saya!"


Dokter dan perawat di sana sampai kebingungan, bawasan nya salah satu di atara Ratna dan Riyanti tak ada ingin yang keluar. mereka menolak mengalah, dengan alasan ingin menemani Sarah.


"Tunggu aku, Sar." ucap Revan sambil berlari disebuah koridor rumah sakit, untuk mencari ruangan dimana sang istri sedang mendapat penanganan.


"Tolong berhenti," ucap salah seorang kemanan rumah sakit yang berjaga.


Dengan raut wajah datar, Revan menatap kedua keamanan tersebut kemudian berkata. "Ada apa, Pak? kenapa saya di berentiin." Revan kembali melangkahkan kakinya, akan tetapi kedua keamanan tersebut malah menghadangnya.


"Maaf, tapi kami sudah mendapat perintah, untuk tidak membiarkan Anda mendekati ruangan Nyonya Sarah."


Deg... Revan tertegun, ia mencoba memberontak akan tetapi kedua pria itu benar-benar telah mengunci pergerakannya.


"Pah, lepasin aku, Pah! aku mau nemenin Sarah." ucap Revan memohon sambil berteriak, pada Darma.


Arman mengerjap, ia sampai tidak tega melihat anaknya diperlakukan dengan sangat keterlaluan. tetapi ia bisa apa? semua adalah murni kesalahan Revan, masih untung Darma tidak turut mengusirnya dan juga Ratna.


"Kamu bener-bener gak punya hati, Anak kamu di dalem terus nangis. dia minta Revan ada disisinya, tapi kamu sama sekali gak perduli." celetuk Arman memincingkan matanya.


"Ini hukuman yang tepat buat Revan, hukuman ini bahkan jauh lebih menyakitkan dari penjara." ucap Darma menjelaskan apa maksud dan tujuannya.


Arman menghela nafas kasar, pria paruh baya itu semakin menajamkan tatapannya pada Darma. "Tapi kamu liat, tindakan kamu juga udah bikin anak kamu tersiksa. bukan cuma Revan, tapi Sarah juga!"


"Revan..." isak Sarah, ia masih saja enggan untuk mendengarkan Dokter dan memilih untuk menunggu Revan datang. Sedangkan Revan, pria itu sudah berusaha sekuat tenaganya, tubuhnya sampai melemah karena merasa sudah gagal untuk menepati janji yang pernah ia ucapkan.


"Maafin aku, Sar." gumam Revan meloloskan air matanya.