
Natalie dan Deon sudah terjaga, keduanya melirik ke satu arah yang sama dan melihat bagaimana kesulitannya Revan membawa begitu banyak paper bag. tanpa di bantu oleh Sarah.
"Wah belanja, Sar?" ucap Natali menyapa sambil bertanya.
Sarah dengan raut wajah polosnya menggelengkan kepala kemudian menjawab. "Enggak," sahutnya tersenyum getir.
Natalie mempertegas tatapan sambil menunjuk kearah Revan, "Lah terus itu apaan?"
"Cuma iseng liat, terus Revan langsung bayar semua barang yang aku pegang."
"Gila, aku juga mau." rengek Natalie pada Deon, yang ingin diperlakukan serupa dengan Sarah oleh kekasihnya.
Deon menghela nafas panjang kemudian menganggukan kepalanya, "Ambil, sayang. ambil."
"Ambil doang, siapa yang bayar?"
"Kamulah," sahut Deon spontan disertai kekehan kecil.
Untuk sekilas Sarah dan Revan terlihat sebagai pasangan pada umumnya. dari Revan sendiri ia tak pernah bosan memberikan perhatian dan kenyamanan pada sang istri, meskipun sering kali Sarah tak menghargai usaha Revan tersebut.
"Mau pesen apa, Sar?" tanya Revan lembut.
"Terserah, aku mau ke toilet dulu." sahut Sarah datar.
Natalie dan Deon hanya saling melempar tatapan saat kedua pasangan tersebut saling bicara. sungguh semua itu terdengar sangat formal, Sarah bahkan tak menyambut baik perhatian yang Revan berikan. segala sahutannya lebih seperti tak ingin berbasa-basi dan beromong kosong dengan sang suami.
"Kalo gitu gue ikut Sarah deh." ucap Natalie menyambar ditengah keheningan.
"Gk usah!" Revan spontan melarang tegas, "biar gue yang anter dia!"
Ketiga orang tersebut langsung menatap Deon, semua terdiam lalu pada akhirnya Natalie terkekeh seolah merasa geli setelah mendengar apa yang Revan katakan.
"Revan gak waras, masa nau ikut masuk ke toilet cewek," celetuk Natalie sambil tertawa.
Sarah tersenyum kecut pada Revan, dengan tujuan lain Sarah pun terlihat sangat berantusias untuk pergi ke toilet bersama Natalie.
"Kita pulang ajah, Sar. pipis di rumah ajah." ajak Revan beranjak penuh kecemasan.
"Ngapain? kita belum ajah makan?" Deon langsung menarik tangan Revan agar pria tersebut kembali mendudukan bokongnya di kursi.
"Ayo, Sar." Natalie mendirikan badannya, dan langsung berjalan mendekat kearah Sarah lalu membawa wanita tersebut pergi begitu saja menuju toilet.
"Sar, tapi..." Revan masih berusaha untuk mencegah perginya sang istri dengan Natalie, tetapi usahanya gagal karna Deon terus saja menarik dan menenangkan dirinya agar Revan bisa sedikit lebih tenang.
Deon terus melebarkan senyum, nalurinya sebagai laki-laki yang selalu ingin membahas tentang se*x pun mulai bekerja. sesaat sebelum Deon memulai pembicaraan, pria itu menarik secangkir minuman dihadapannya lalu meneguk minuman tersebut, dan berkata. "Udah nidurin Sarah?"
Revan menghela nafas kasar, "Penting banget ya bahas masalah ranjang gue?" sahut Revan melempar kembali pertanyaan.
Deon menyeringai, sepertinya Revan benar-benar terlihat marah saat istrinya pergi ke toilet bersama Natalie. padahal lain lagi jika hal itu dilihat dari sudut pandang Revan, sungguh Revan khawatir jika Sarah akan mengatakan sesuatu pada Natalie, karena bagaimana pun Natalie adalah dokter. ia bisa saja mengenali jika Sarah serius akan perkataannya, dan semata-mata tidak mengada-ngada.
"Gue udah tidur sama Sarah. puas lo?" celetuk Revan kesal.
Deon mengerutkan dahinya, rasanya begitu mustahil melihat ekspresi dari hubungan yang Revan jalani dengan Sarah jika keduanya sudah berhubungan badan. "Kok bisa?" sahut Deon tidak percaya.
"Dia istri gue, gila lu ya!"
"Maksud gue, kok die mau?"
Deon terkekeh, ia menepuk bahu Revan penuh kegelian. "Lo perkosa istri lo sendiri?"
"Beda!"
"Apanya?"
"Perkosa tuh, dari awal sampai akhir permainan dia nolak. ini kan enggak, awalnya doang nolak, ujungnya pasrah juga." ujar Deon menjelaskan dengan sangat ringan.
Astaga, bagi yang tidak tahu mungkin hal itu terlalu memalukan membicarakan hal pribadi dengan seseorang. tetapi tidak dengan Revan dan juga Deon, bahkan saat Raka masih hidup pun mereka sering membicarakan urusan pengalaman ranjang bersama. dari mulai awal ketiganya melepas masa perjaka hingga setelahnya membayar beberapa wanita.
"Geli gua sumpah," Deon sampai dibuat merinding setelah mendengar ucapan Revan yang begitu terang-terangan.
"Tadi kan lo yang nanya!"
Deon menggelengkan kepalanya perlahan, "Gak habis pikir, ternyata lo seagresif itu, Van."
Sejenak Raka menghembuskan nafas panjang, agar dirinya bisa semakin mengurangi kecemasan. "Suami mana yang tahan tidur dan gak nyentuh istri sex*ynya? kucing dikasih ikan, gak mungkin gak dimakan."
Deon mengangguk sambil mengacungkan jempolnya kearah Revan, "Lo keren! lo jantan, Van."
"Siapa yang jantan?" sambar Natalie yang tiba-tiba saja datang bersama Sarah.
Deon dan Revan sedikit terkejut, karena khawatir jika kedua wanita itu telah mendengar pembicaraannya.
"Mmmm, itu." bola mata Deon terus berputar untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang kekasihnya lemparkan, "Aku, sayang." sambungnya melebarkan senyum kikuk.
"Kamu?" Natalie mengerutkan dahinya mempertegas tatapan, "Masa sih?"
Deon yang merasa Natalie sedang meragukan skillnya pun kembali menjawab dan mengingatkan, "Inget ya, jangan lupain hentakan-hentakan semalem. kamu sampai ampun-ampunan minta berenti."
"Deon!" Natalie langsung menutup mulut sang kekasih dengan tangannya, "Malu! didepan Sarah sama Revan"
"Mereka udah dewasa sayang, mereka bukan anak kecil. mereka juga udah ngerti." goda Deon menenangkan.
"Tapi kita belum nikah! jadi ketauan kalo kita udah unboxing duluan." Natalie mengerucutka bibir dengan wajah yang merona mencubit Deon.
"Itu hal biasa, yang pentingkan kamu original."
Deon semakin tidak bisa menjaga ucapannya, astaga bahkan pengalaman pertama dirinya dibongkar secara gamblang, "Deon udah!" bentak Natalie kesal.
"Kenapa? Sarah juga original kok." ucap Revan santai, lalu menarik bahu istrinya agar Sarah semakin mendekat.
Mendengar hal itu Sarah pun membulatkan matanya spontan, "Revan! gak waras kamu ya?"
"Jangan lupain paksaan-paksaan semalem, sayang." ujar Revan menirukan gaya bicara Deon dengan sangat santai.
Kedua wanita tersebut berhasil dibuat merona atas ucapan para pasangannya. Sarah dan Natalie merasa hal ini sangatlah memalukan, entah apa yang ada dalam pikiran Revan dan Deon saat itu.
"Aku mau pulang!" Sarah langsung mendorong Revan dan menciptakan jarak dari pria tersebut.
"Aku juga!" Tak mau kalah, Natalie pun beranjak dan langsung mengekor langkah Sarah yang lebih dulu meninggalkan meja.
"Lah kenapa jadi marah barengan?" ucap Deon heran mengejar langkah Revan yang saat itu juga akan mengejar Sarah.