
Tak habis pikir, menganggap dirinya cukup pintar karena sudah berhasil membodohi Revan dengan akting yang patut diacungi jempol. nyatanya jalan rencana Sarah tak semulus kulitnya, justru sekarang dirinya semakin terjebak dan tak mungkin Revan akan melepaskan Sarah dengan begitu mudah.
Apa yang harus Sarah lakukan? ia tak punya cukup bukti untuk menyeret Revan kedalam penjara. jangankan polisi, Deon saja mungkin akan menganggap Sarah sudah tidak waras karena sudah menuduh Revan yang sekarang sudah menjadi suaminya.
Saat Revan sedang tak ada di rumah, Sarah langsung memanfaatkan hal tersebut untuk melarikan diri. ia mulai mengeluarkan koper yang tersimpan didalam lemari besarnya, mengemas seluruh pakaian karena merasa suaminya sekarang benar-benar sangatlah berbahaya.
Beberapa waktu sebelumnya...
Sarah mengelus perlahan nisan yang bertuliskan nama Raka. dengan wajah merona dan mata yang menggenang, Sarah mencoba mengatakan segala isi hatinya yang ia tujukan pada Raka.
"Aku udah jadi istri Revan, maafin aku. disaat kamu pergi aku malah gak setia," Sarah menyeka air matanya, "Tapi itu semua karna kamu. ini yang kamu inginkan. berat rasanya, tapi ini semua demi kamu," lirih Sarah terisak.
Suara tangisan dari seseorang kian terdengar. Sarah dengan spontan melirikan matanya kebelakang, dapat terlihat jelas jika diarah tersebut terdapat banyak orang yang sedang menghadiri acara pemakaman.
Kembali Sarah mengelus nisan kekasih lamanya tersebut. ia mulai bisa mengikhlaskan kepergian Raka karena memang mungkin semua itu sudah jalannya. Sarah sudah berdamai dengan keadaan, ia pun ingin memulai kehidupan barunya bersama Revan. seseorang yang Raka sendiri pilih untuk menggantikan posisi dirinya menjadi pendamping Sarah.
"Papa, Sayang kamu Ran. semoga kamu tenang di alam sana."
Suara itu terdengar sangat familiar, Sarah mengerjap sambil berpikir mencoba mengingat seseorang yang juga sedang mengelus sebuah nisan dibelakangnya.
"Siapa?" batin Sarah mencoba mengingat.
Deg... seketika ingatannya tertuju pada sebuah persidangan, dimana saat itu seorang sopir mobil mengaku bersalah sepenuhnya karna sudah menabrak mobil yang Raka kendarai, dihadapan hakim.
Kenapa pria itu di sana? kenapa dia tidak dipenjara? pertanyaan itu terus saja berkutat dalam benak Sarah sekarang. perlahan ia mendekati pria tersebut untuk memastikan jika ia tidak salah orang.
"Kamu..." Bibir Sarah yang bergetar mencoba menyapa pria itu dengan penuh ketenangan, "Kenapa kamu disini?" tanya Sarah mencoba menata emosinya.
Pria paruh baya itu terlihat terkejut, begitupun juga dengan istrinya yang berada tepat disebelahnya.
"Pah..." Kecemasan langsung terlihat di wajah wanita dewasa yang belum terlihat tua tersebut, ia langsung mencengkram tangan suaminya dengan wajah memucat penuh ketakutan.
"Kenapa kamu disini?" Sarah melirik kesebuah nisan yang bertuliskan Rani disana. "Apa ini anak kalian?"
Pria itu hanya menganggukan kepalanya perlahan dengan sorot yang tidak teralihkan menatap Sarah.
"Dimana polisi?" Sarah kembali melempar pertanyaan, ia mencoba berpikir positif karena ini adalah hari kepergian buah hati mereka.
"Maaf kami harus pergi," ucap pria itu sambil membawa pergi istrinya menjauh dari Sarah dengan tergesa-gesa.
Sarah tidak langsung menghentikan mereka, ia terlihat tenang dan santai saat suami dan istri tersebut pergi begitu saja meninggalkannya. bukan tanpa alasan, tak ingin menaruh kecurigaan buta pada seseorang mungkin itu adalah alasan utamanya.
Dengan jarak yang cukup aman, Sarah mengikuti mereka. memastikan apa polisi berjaga ditempat lain, atau pria itu memang benar-benar sudah bebas. jika begitu, bagaimana ia bebas? sedangkan saat sidang putusan pria itu terancam hukuman dua belas tahun penjara. tak mungkin dalam waktu singkat ia bisa keluar begitu saja tanpa ada uang jaminan ataupun hal lain sejenisnya.
"Perasaan aku gak enak," gumam Sarah sambil mengemudikan mobilnya.
Kurang dari waktu lima belas menit, mobil yang Sarah ikuti terlihat memasuki pekarangan rumah mewah. apa ini? pekerjaan pria itu hanyalah seorang sopir truk biasa, kenapa ia memiliki rumah sebesar dan sebagus ini.
"Ada yang gak beres," Sarah langsung menginjak pedal gas kendaraannya dan ikut serta menghentikan mobil tersebut dibelakang mobil yang dikendarai si penabrak Raka. "Tunggu!" Pekik Sarah saat dua pasangan itu terlihat tergesa-gesa memasuki rumah mereka, "Berenti!" Sarah menarik tangan wanita itu dengan kasar.
"Lepasin istri saya, tolong." pria itu mencoba melepaskan tangan Sarah daei istrinya, "Jangan usik kelurga kami."
"Usik?" Sarah mendalamkan lipatan didahinya, "Aku gak akan usik ataupun ganggu kalian, kalo kalian bisa jelasin semua ini."
"Tolong lepasin istri saya!" bentak pria paruh baya tersebut terhadap Sarah.
Bukan Sarah jika gadis itu takut akan gretakan seseorang, tentu untuk memecah rasa penasarannya Sarah akan terus mencecar demi mendapatkan kepuasan.
"Kami sedang berduka, tolong mengerti." lirih wanita paruh baya yang masih terlihat cantik tersebut.
Sarah memincingkan mata penuh kekesalan pada pria yang membentaknya, "Kau penyebab kematian Raka! bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang kalian cintai sekarang? menyakitkan bukan?" seringai kejam Sarah tercipta, pernyataannya sukses membuat tangisan wanita yang sedang ia cengkram pecah.
"Tolong maafkan saya," Wanita itu bersimpuh dikaki Sarah dengan keadaan yang sangat menyedihkan, "mungkin semua ini adalah karma, tapi kami melakukan hal itu terpaka."
"Mah," Pria paruh baya itu mencoba menghentikan aksi istrinya.
"Cukup, Pah. putri kita udah meninggal, kita salah, ini buah dari kesalahan Papah!"
Apa ini? Sarah tidak mengerti apa yang dibicarakan wanita yang sedang bersimpuh dibawah kakinya tersebut. hanya rasa ibalah yang muncul salam benak Sarah, sebab ia sendiri tahu bagaimana sakitnya kehilangan orang yang sangat ia cintai dan hal itu sedang wanita tersebut rasakan. "Katakan, aku akan memaafkan mu jika kalian semua jujur!"
"Kecelakaan Raka sudah direncanakan. itu semua murni atas dasar kesengajaan, karna ada seseorang yang sudah menyuruh suami saya."
Deg... seketika tubuh Sarah bergetar, matanya menggenang disertai hati yang kembali tergores setelah belum lama ia bisa mengikhlaskan kepergian kekasihnya tersebut, "Siapa?" tanya Sarah terbata.
"Re... Revan."
Sarah sedikit membuka mulutnya seolah tidak percaya, air matanya seketika menetes setelah mendengar kebenaran tersebut.
"Ibu dan anakku sudah pergi, setelah aku mendapat bayaran itu dari Revan kami selalu ditinggalkan oleh orang yang kami cintai." lirih pria itu, yang kemudian mengikuti apa yang istrinya lakukan. bersimpuh dibawah kaki Sarah.
Sarah bersusah payah menelan salivanya, ia masih bisa mengendalikan amarahnya untuk mendengar semua penjelasan dari dua orang tersebut. "Ke... kenapa? atas dasar apa Revan menyuruh kalian membunuh Raka?"
"Kamo kurang tau pasti, yang jelas semua ini adalah rencananya."
"Akui semua ini pada polisi, tolong." Sarah meraih dan memohon pada pria paruh baya itu, ia membangunkan pria tersebut seolah sudah memaafkan apa yang mereka semua lakukan.
Pria itu menggelengkan kepalanya, seolah menolak apa yang Sarah inginkan.
"Kenapa?" tanya Sarah kecewa.
"Karena selama ini Revan sudah banyak membantu kami, anak saya sakit keras. semua pengobatan Revan yang menanggungnya, kekayaan ini bahkan Revan yang telah memberikannya." Pria itu melirik kearah istrinya sejenak, "Tolong maafkan kesalahan kami, satu hal yang harus kamu tau. Revan melakukan semua itu untuk seseorang yang bernama Sarah. Revan sangat mencintamu, sampai dia rela melakukan apapun."
Sarah melemaskan tangannya, dan melepaskan tangan pria paruh baya itu begitu saja. spontan ia memalingkan tubuhnya memunggungi dua orang tersebut.
Apa yang harus Sarah lalukan? sekarang dirinya sudah resmi menjadi istri dari seseorang yang membunuh kekasihnya sendiri. Sarah berlari, ia menangis sejadi-jadinya karena merasa sangat berdosa dan bersalah terhadap Raka kekasihnya.